"Kapan kalian kasih tahu orang tua kandung Naya?" tanya Naya kepada Tomy dan Indi selaku orang tua angkat yang merawatnya sedari kecil.
Sudah kesekian kalinya, ia mencoba mempertanyakan keberadaan orang tua kandungnya. Tapi mereka masih belum mau memberitahunya.
"Ini belum saatnya, Nak!" kata Tomy lembut sambil mengusap sisi kepala anak gadisnya.
Ekor mata Indi bertubrukan dengan Tomy. Wanita paruh baya itu melipat bibirnya ke dalam seraya tangannya di tumpukkan di atas paha putrinya. "Sabar ya, Sayang. Yang pasti mereka sangat sayang sama kamu," ujar Indi sambil tersenyum penuh arti.
Binar mata Naya sedikit meredup, kepalanya tertunduk. "Kalau mereka sayang sama aku, kenapa aku di rawat Papa Tomy sama Mama Indi! Kenapa bukan mereka aja?"
Tak tega melihat itu, Tomy pun merangkul bahunya dan membawa masuk ke dalam dekapannya. "Ssttt... Ini pasti sudah yang terbaik, Nak."
"Maaf, permisi Tuan, Nyonya, ada Den Gama di ruang tamu." ujar wanita paruh baya yang bekerja sebagai ART di kediaman Tomy.
"Loh kenapa nggak di suruh ke ruang tengah aja, Bik?"
"Maaf Nyonya, saya lihat Tuan dan Nyonya sedang bicara serius sama Non Naya jadi saya---"
"Sudah, nggak papa. Papa temui Gama dulu," potong Tomy membuat Bibik itu terdiam menunduk.
Selepas Tomy berjalan menemui Gama. Naya melihat arloji di tangan kirinya, ini pemberian dari Gama beberapa bulan lalu sebelum semua hal ini terjadi.
Iya, Naya baru mengingat ada kelas siang ini dan Gama berniat seperti biasa mengantarnya ke kampus. Padahal pria itu baru saja meeting pagi di susul rapat di kantor bersama Abian--Papanya.
Pria itu memang selalu mengusahakan dan berusaha menjadi pria terbaik untuk Naya. Namun Naya masih belum begitu terbuka hati dan pikirannya sehingga ia tidak bisa melihat dengan jelas ketulusan itu. Hanya hati yang bisa merasakannya.
"Gimana, udah ada benih benih cinta?" goda Indi.
"Ah.. Mama!" ucap Naya sedikit memajukan bibirnya seraya alis tertekuk pertanda malas di goda.
"Sana ke kamar rapihin pakaian sama dandanan kamu!" titah Indi yang langsung Naya laksanakan.
Tak berselang lama kurang lebih 20 menit keduanya sudah berada di dalam mobil Tesla berwarna merah. "Kenapa nggak pakai mobil biasanya aja?"
"Bosan, kamu kurang suka, Sayang?"
"Iya, aku nggak suka." Kata Naya jelas. Pria itu kemudian menganggukkan kepalanya lalu melarikan tangan kirinya untuk menepuk puncak kepala gadisnya.
"Besok, ganti." ujar Gama masih mengenakan setelan kantor namun menyisakan kemeja denim di badannya yang kekar itu.
"Sampai jam berapa kelas terakhir, nanti?" Pria itu berusaha membangun obrolan supaya Naya bisa lebih dekat dan nyaman dengannya.
"Belum tahu, kemarin aja mendadak ada kelas tambahan dari dosen, jamnya juga kadang bisa nggak sesuai jadwal, tergantung dosennya." jelas Naya panjang.
"Hm... Kabarin Kakak 20 menit sebelum selesai kelas, ya, Sayang?" pintanya penuh kelembutan. Gama tidak mengada-ngada tapi itu timbul secara naluriah ketika bersama Naya ia begitu menjadi pria yang sangat lembut dan sabar.
"Iya, tapi kalau Kakak sibuk jangan ya, Naya bisa di jemput supir kok."
"Enggak sibuk, Sayang."
Tidak terasa mobil pun berhenti di parkiran kampus,"Semangat, kabarin Kakak ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Gamara's
Fiksi RemajaGamara Bagaskara adalah keturunan tunggal dari marga Bagaskara. Pria tampan itu penuh pesona dan karisma. Dan Kanaya odisa ialah gadis yang paling Gama cinta. Pria itu sangat menggilainya. Siapapun pasti akan merasakan akibatnya jika merebut Kanay...
