21. Gamara

2.6K 87 2
                                        

Masak komennya lemah sih, di bab sebelumnya, ramein yok

"Dress makin cantik kamu pakai, Nay." puji Ifa mengamati dari atas sampai bawah. Memang cocok di tubuh Naya yang tidak kurus tidak gemuk.

"Mama berlebihan," katanya dengan pipi yang sedikit muerona.

"Enggak, Nay. Kamu sama dress ini memang cocok. Iya 'kan Gam?" tanya Ifa membalikkan badan, menatap Gama yang berdiri di belakangnya.
Tanpa berkata, Gama mengangguk membenarkan perkataan Mamanya. Dengan satu tangannya masuk dalam saku celana, ia menatap gadisnya.

"Kedip," gurau Ifa menyenggol lengan putranya yang memang tidak berkedip menatap Naya.

"Ya udah, Nay, simpan dressnya, sekarang ke ruang tengah dulu, tunggu Mama ke dapur sebentar tanya Bibi sudah jadi belum masakannya!" ujar Ifa mengusap bahunya dan pergi meninggalkan kedua insan berbeda gender itu.

Gamara berjalan mendekati gadisnya. Pria itu mengangkat tangannya memberikan usapan ke kepala itu dengan pelan. "Tetap cantik," pujinya.

"Iya, Naya tau!" ucap Naya menarik tangan Gama dari kepalanya. Lantas gadis itu berbalik hendak mengambil bajunya yang ia pakai tadi.

"Nggak usah ganti, pakai ini aja."

"Nggak, mau." tolak Naya.

Gamara terkekeh kecil, pria itu menarik tubuh gadisnya dan memeluknya erat dari belakang. "Gemesin banget,"

"Ih Kak," Naya meronta.

"Sebentar, setelah kita tunangan kamu jadi beda Sayang. Nggak kaya dulu yang aktif, agresif, centil, kakak suka."

"Perasaan Kak Gama aja,"

"Enggak, Sayang." bantuan Gama dengan suara lembut.

"Masih belum bisa ya, terima status baru di hubungan kita?"

"Aduh, sebenarnya aku bingung Kak. Kita cocok jadi Kakak adik, bukan status dalam hubungan yang berbeda."

"Naya..." ucap Gama.

"Kak, mungkin selama ini kakak salah anggap semua perlakuan Naya ke Kakak!" ujar Naya serius menolehkan kepalanya ke samping meski masih dalam dekapan hangat Gamara.

"Bukan Kakak yang salah tangkap tentang kamu, tapi Kakak yang memang jatuh cinta sama semua tingkah laku kamu, Naya! Kakak cinta sama kamu, lebih dari yang kamu tahu."

Deg

***

"Suka dressnya?" tanya Gamara sekilas menatap wajah cantik seorang gadis disebelahnya.

"Suka kok, makasih ya." kata Naya.

"Udah berapa kali bilang makasih sayang? Itu bukti kalau Mama ifa beneran tulus sayangnya sama Naya."

Naya terdiam sejenak dengan jari yang saling bertautan, lalu sedikit menerbitkan senyum kecil.

"Kak?" panggilnya lembut sambil kepala menunduk.

"Iya, Sayang?" sahutnya.

"Kak Gama nggak marah sama Naya soal tadi malam?" ia sedikit melirik si empu untuk melihat bagaimana reaksinya.

Dengan wajah datar, Gama tampak tenang seraya menyetir mobil. "Ngapain marah? Kakak nggak bisa marah sama kamu."

Bibir ranum itu mencebik,"Naya serius, Kak Gama kok sekarang jadi pinter gombal sih!"

"Kakak serius, Sayang. Mungkin di telinga kamu kedengerannya kaya lagi gombalin," bantah Gama pelan.

Naya membuang nafas sambil melengoskan matanya. Ia memilih membuang wajahnya ke pintu jendela mobil. Baru sedetik, sebuah usapan kecil sudah mendarat di atas puncak kepalanya. Namun itu tidak membuat Naya menoleh.

Gamara's Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang