28. Gamara

2K 71 4
                                        

"Lihatin apa?"

Deg

Gadis cantik berambut panjang sepunggung itu terkejut dengan gerakan spontan membalikkan badan seraya tangan menyentuh dadanya.

Sumber suara bariton itu ternyata dari pria paruh baya yang menurunkan wajah tampannya pada pria yang menjadi tunangannya.

"Om ngagetin, ya? Maaf!" katanya dengan nadanya yang khas tegas. Gadis cantik itu adalah Naya, kontan menggeleng.

"Nggak papa, Om." balas Naya canggung. Lalu keduanya diam beberapa detik. Sebelum akhirnya Abian, memulai percakapan.

"Semester berapa, Nay?" tanya Abian menatap wajah calon menantunya yang menunduk.

"Baru semester dua, Om." ucapnya mendongakkan kepalanya menatap Abian guna menghormati sebagai lawan bicaranya.

Abian mengangguk-angguk kecil, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Pria paruh baya itu baru saja pulang dari kantor 20 menit yang lalu dan tidak mengetahui kedatangan Naya. Ketika ia sudah berada di kamar atas ada satu ponsel kerjanya yang tertinggal di mobil dan niatnya ingin mengambil namun saat sudah berada di sekat sisi ruang tengah yang di sebrangnya adalah taman kecil netranya melihat seorang gadis berdiri tampak diam menatap langit- langit sore.

Dan Abian pun mendekat, entah apa yang mendorong dirinya datang. "Mama Ifa yang ajak kamu kesini?"

"Iya, Om."

"Mungkin istri om kesepian, dan untung ada kamu, istriku menganggap kamu seperti anaknya sendiri." katanya.

Naya tidak bisa berkata apa-apa, gadis itu hanya diam sambil menatap Abian dari samping. Lalu tak lama Abian pun menoleh padanya, keduanya bersinggungan mata.

"Mungkin jam 6 nanti, Gama sudah sampai rumah! Tolong disini sampai dia datang, itu pasti akan membuatnya senang."

"Iya, Om." Naya pun juga tidak tahu alasan Ifa mengajaknya kemari. Namun jika menolak, Naya tidak enak.

Sudah dua hari ini Naya memang tidak bertemu Gama. Pria itu kembali dinas dua hari di kota surabaya. Tentunya sempat ada penolakan dari pria tampan itu sendiri.

"Pa?" Naya dan Abian menoleh bersamaan. Melihat istrinya berjalan mendekat, Abian pun mengulurkan tangannya menarik pinggang istrinya.

"Mau ambil handphone kerja ketinggalan di mobil, liat Naya ngelamun sendiri jadi Papa ajak bicara." katanya tersenyum pada istrinya.

Ifa menyipitkan matanya untuk melihat apakah suaminya ini berbohong? "Serius, Sayang." kata Abian terkekeh kecil, Naya sedikit tak percaya melihat calon mertuanya bisa tertawa.

"Kamu nggak di intimidasi kan, Nay?" tanya Ifa pada Naya.

"Enggak, Ma. Om Bian bicara jujur,"

"Kok Om? Papa, Nak. Kita bagian dari kamu!" Ujar Ifa mengkoreksi. Pipi Naya bersemu merah.

"Ayok, ke sana!" ajak Ifa menarik tangan Naya bersamanya. Abian menggeleng ketika ditinggalkan keduanya.

***

Naya mendesah lelah, matanya menatap sebuah paper bag di hadapannya. Lagi, dan lagi seakan tak puas pria yang berdiri di belakangnya memberinya hadiah.

Belum juga barang yang sempet Gama berikan untuknya ia pakai, sekarang sudah ada yang baru didepannya.

"Berapa kali, aku bilang kak? Jujur aja barang-barang yang kak Gama kasih aja masih banyak di lemari aku, belum aku pakai!" katanya sembari kedua tangannya mengarah ke paper bag di depannya.

Gamara's Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang