Ayok komen yok jangan lupa komen, silent treatment itu nggak enak loh hihi
Komen ya sayang
Huftt
Suara hembusan nafas panjang itu terdengar lesu. Sebuah tangan terangkat menekan bell dinding di samping pintu utama.
Tidak lama seseorang muncul,"Malam Non, silahkan masuk." kata wanita paruh baya yang sudah lama bekerja disini sebagai kepala asisten rumah tangga.
"Malam, Bik. Mama Ifa ada?" tanya Naya tersenyum cantik.
Bibik itu melihat sebuah paper bag di genggaman kedua tangan tunangan dari anak majikannya.
"Ada, Non. Ayo masuk, tumben sendiri nggak sama Den Gama."
Naya tersenyum canggung,"Ini mendadak Bik," katanya. Iya memang benar, Indy tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya dan menyerahkan paper bag berisi beragam cupcake yang di beli sewaktu pergi dengan Tomy setelah maghrib tadi.
Ada rasa malu dan canggung. Karena sore tadi dirinya dan Gamara sedang tidak baik-baik saja. Dan Naya dengan sadar memarahi pria itu.
Naya sudah bersikeras menolak, tapi Mamanya terus membujuk di tambah Tomy pun ikut serta andil.
Dan sampailah ia di mansion milik Abian Bagaskara--calon mertuanya.
Sejujurnya Naya masih tidak menyangka akan menyandang gelar status sebagai calon menantu bermarga Bagaskara. Siapa sih yang tidak tahu tentang keluarga itu.
Pengusaha bisnis property terbesar di jawa barat, bandung. Dan juga memiliki rentetan saham dan bisnis di bidang fnb, fashion, dll.
"Duduk dulu, ya, Non. Saya panggil Nyonya sebentar." kata Bibik itu dan pergi menaiki lift untuk ke lantai dua dimana kamar pasutri dan putranya itu berada.
Tidak lama Ifa turun bersama Bibik itu. "Malam-malam datang sendiri, kenapa nggak telfon Gama aja biar di jemput?"
"Ini Ma, dari Mama Indy. Nggak perlu repot Ma, lagian nggak begitu jauh kok, dianter supir tadi!" katanya.
"Ck, kamu ini! Udah makan belum?"
"Enggak usah, Ma. Naya mau pamit, udah setengah delapan, lagian tujuannya mau kasih cupcake!" ujar Naya menolak secara halus.
"No, duduk-duduk dulu, pulang dianter Gama aja. Aku telfon Indy dulu, biar bisa agak lama disini atau kamu mau nggak tidur sini?"
Mata Naya mengerjap pelan,"Enggak, Ma."
"Ya udah, Mama tadi kasih tahu Gama kalau kamu kesini, tunggu sebentar ya."
Naya mengangguk, walaupun dalam hatinya sebenarnya ia kurang siap jika bertemu dengan tunangannya. Karena sendiri duduk sendiri, Naya pun mengeluarkan ponselnya dan mulai menyibukkan diri sembari menunggu Ifa kembali.
Derap langkah kaki tidak membuat fokus seorang gadis yang duduk sendiri itu buyar. Bahkan tidak sadar jika suara kaki itu berhenti di sampingnya. Sampai sebuah tangan mendarat di kepalanya.
"Kamu bisa telfon Kakak, biar di jemput." katanya lembut, sambil sedikit tersenyum.
Naya yang mendongak kembali menundukkan kepalanya. "Nggak mau repotin," Alibinya.
"Kamu nggak repotin, malah Kakak seneng kalau seandainya kamu libatin Kakak dalam hal apapun." ujarnya jujur.
Naya tetap menggeleng dengan posisi sama. Gamara duduk di sebelahnya,"Disuruh Mama Indy ya?"
Gerakan jarinya pada layar ponselnya sempat terhenti. "Iya," katanya.
Sebuah tangan melingkar di bahu mungilnya dan menarik ke dalam dekapan hangat Gamara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gamara's
Novela JuvenilGamara Bagaskara adalah keturunan tunggal dari marga Bagaskara. Pria tampan itu penuh pesona dan karisma. Dan Kanaya odisa ialah gadis yang paling Gama cinta. Pria itu sangat menggilainya. Siapapun pasti akan merasakan akibatnya jika merebut Kanay...
