Note: Yang aku butuhin sebagai penulis itu support readers aku, tolong beri aku semngat, komen komen.
Gama menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi kerjanya dengan kepala mendongak. Pria itu tidak tahu kenapa hati dan pikirannya sedang tidak sama.
Hatinya sedikit tidak tenang dan pikirannya tidak fokus. Ada rasa takut kehilangan padahal jelas Naya sudah terikat padanya. Tapi itu tidak menjamin.
Gama ragu, takut. Padahal pria itu selalu yakin dan optimis. Tapi Naya sangat mudah memutarbalikkan perasaan dan hatinya. Pengaruh Naya sangat besar untuk kewarasannya.
Besok ia akan kembali tugas ke luar kota. Tender kali ini sangat besar dan Gama yakin bisa memenangkannya. Niat Abian mungkin baik untuk mengasah kemampuannya dan bisa menjadi bekal kelak ketika ia sudah benar-benar mewarisi seluruh kekayaan Abian.
Apalagi sumber kekayaan itu juga ada dari Kakeknya perusahaan besar walaupun tidak sebesar keluarga Bagaskara. Yang dimana di berikan pada Ifa selaku anak satu-satunya. Namun karena Ifa tidak bisa melanjutkan perusahaan sebab tidak ada ijinnya dari Abian sendiri. Kini masih di pegang oleh hermantyo sendiri dan kelak akan di serahkan ke Gama.
Sama-sama bisnis bidang properti. Dan perusahaan itu akan langsung di namakan Gamara dengan ijin Hermantyo dan Ifa selaku ahli waris.
Ia menegakkan badannya tegap, meletakan kedua tangannya di atas meja dan mulai menggerakan jari-jarinya menari di atas keyboard.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk tidak membuat pria itu menghentikan jarinya mengetik, terganti dengan suara pintu berderit. Langkah kaki terdengar mendekat.
"Gimana?" satu kata tanya itu terdengar.
Tuk
"Aman, sedikit revisi!" Tepat satu ketikan di keyboard. Kepala yang semula menunduk itu kini terangkat, matanya saling beradu tatap, sama-sama berekspresi datar.
Abian lebih dulu memutus kontak mata itu, ia berdehem pelan sebelum memperbaiki posisi duduknya. "Ada yang mau Papa tanyakan,"
Gama menyenderkan tubuhnya di punggung kursi,"Apa?"
"Yakin dengan rencanamu itu?" saat pertanyaan itu keluar Gama langsung paham arahnya. Pria itu menanggapinya dengan anggukan sekali.
"Berbelit, ambil opsi pertama saja itu lebih mudah dan cepat!" kata Abian.
"Gama nggak yakin dia setuju begitu saja."
"Tahu dari mana?" tanya Abian dari wajahnya Gama sedikit muak pria tua itu seolah mengejeknya.
"Let it flow," singkat saja kata Gama. Pria itu malas menjelaskan pada Abian. Dan Abian terlihat biasa saja sudah paham sifatnya.
Gama pernah menyuruh tangan kanannya untuk menyelidiki dan bermain peran sebagai pengusaha yang ingin menawarkan kerja sama sekaligus mengakusisi saham bisnis tersebut tapi rupanya dengan nilai tingginya pun tidak mau melepaskan semudah itu.
Dan hal itu membuat Gama berpikir perlu taktik dan strategi.
"Yahh itu terserah kamu, seperti yang kamu bilang let it flow!" kata Abian.
Ceklek
Dengan spontan dua pria berbeda usia itu menoleh serentak.
***
Mendengar suara langkah kaki bertubrukan dengan lantai granit, membuat seorang gadis yang berdiri di sisi meja makan menoleh ke sumber suara berasal.
"Ternyata asik ngobrol mereka, Nay!" Kata Ifa, Naya tersenyum canggung di tempat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gamara's
Teen FictionGamara Bagaskara adalah keturunan tunggal dari marga Bagaskara. Pria tampan itu penuh pesona dan karisma. Dan Kanaya odisa ialah gadis yang paling Gama cinta. Pria itu sangat menggilainya. Siapapun pasti akan merasakan akibatnya jika merebut Kanay...
