Mana ini komennya?
Malam penuh tamu undangan dari berbagai macam kolega besar. Semua berkumpul di dalam satu acara anniversary perusahaan bernama Dand Company.
Namun acara yang biasanya di datangi seorang pebisnis bersama pasangannya, untuk kali ini tidak. Pemilik acara tersebut yaitu Danendra sendiri meminta untuk tamu undangan datang bersama calon penerus dari perusahaan masing-masing. Baik itu perempuan maupun laki-laki.
Tidak bisa di ragukan, perempuan juga tidak kalah hebatnya dari laki-laki. Perempuan bahkan lebih bisa di andalkan.
Dengan pandangan acak, netra hitamnya menyapu sekitar. Tangan kiri masuk dalam saku celana, dan di tangan kanannya memegang sebotol soda. Pria tampan bersetelan formal itu terlihat semakin sexy dan gagah.
Ia tidak minat untuk mengambil minuman alkohol yang tersedia di tiap meja. Sudah berbeda, pria itu merasa kebodohannya dulu karena tidak adanya seseorang yang penting dalam hidupnya. Tapi sekarang, Naya sangat berarti.
"Melamun?" suara bariton baru saja mendekat. Tak kalah tampan juga.
Gamara sedikit menggeser badannya berhadapan dengan pria paruh baya tak lain, adalah Papanya Abian. "Baiknya lebih cepat aku menikahi gadisku atau tunggu dia menyelesaikan kuliah?"
"Sudah pasti Naya akan menolak itu," jawab Abian, lalu menghela nafas sedikit kasar dengan ekspresi tenang. Lalu ia tersenyum kecil, kembali menatap putranya.
"Kamu sudah tidak tahan?" tanya Abian sedikit menggoda, namun terasa memuakkan untuk Gamara lihat wajah Papanya.
Gamara memilih abai akan candaan itu dan fokus ke depan. Abian mengikis jarak lebih dekat, lalu berbisik ke telinga putranya. "Hamili dulu, lalu kalian bisa nikah cepat!"
"Pa!" tegur Gamara dengan nada rendah menatap tajam Abian. Sedangkan pria tua itu malah tertawa, sangat menjengkelkan.
"Haha... Sabar, Papa dulu juga menunggu Mama mu sangat lama 4 tahun, itu belum terhitung dari awal pacaran sampai akhirnya menikah!" jelas Abian menepuk pundak putranya. Gamara tampak sedikit merenung akan ucapan Abian. Mungkin ia harus lebih bersabar lagi untuk Naya.
"Kapan acaranya selesai?" tanya Gamara, pria itu sudah tidak betah untuk berlama-lama.
"Satu jam lagi,"
Gamara kembali menyapukan matanya ke seisi ruangan yang di penuhi orang-orang besar. Namun pandangannya seketika terhenti pada satu objek.
"Pak Bian, terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk datang kesini. Sungguh suatu kehormatan, besar." ucap Darendra, pemilik acara perusahaan ini.
Abian mengangguk dengan wajah sedikit memberi senyum tipis,"Sama-sama, terimakasih undangannya."
Darendra pria paruh baya, yang umurnya jauh di atas Abian itu berjabat tangan dengan Gamara. Lantas pria tua itu menggeleng,"Pak Bian sangat sibuk, saya sempat berpikir mungkin anda tidak akan hadir!"
Abian hanya sedikit tersenyum tipis.
"Putramu sangat tampan, gagah sepertimu!"
Gamara tidak begitu fokus dengan pembicaraan keduanya yang sedikit mengobrol perihal acara ini dan juga perusahaan.
Sosok yang Gamara lihat tadi, berjalan semakin dekat ke arah ketiganya. "Pak Daren," sapanya.
"Oh... Pak praja, sudah menikmati hidangannya?" tanya Darendra berjabat tangan berlanjut ke seorang pria muda juga yang datang bersama Praja.
"Sudah," kata Praja sembari mengulurkan tangannya kepada Abian. Dimana pria itu diam sejenak sebelum meraih tangannya.
"Tak kalah enaknya kan dengan menu restoran mu? Hahaha,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Gamara's
FanfictionGamara Bagaskara adalah keturunan tunggal dari marga Bagaskara. Pria tampan itu penuh pesona dan karisma. Dan Kanaya odisa ialah gadis yang paling Gama cinta. Pria itu sangat menggilainya. Siapapun pasti akan merasakan akibatnya jika merebut Kanay...
