"Gama," pemilik nama tersebut menoleh ke belakang. Menemukan pria paruh baya berdiri menatapnya."Ada yang ingin Papa sampaikan." ucap Abian, lantas masuk ke dalam ruang kerjanya di ikuti Gama.
Pintu ditutup, Gama mendudukkan dirinya di sofa panjang. Ia mengambil berkas dokumen, sedikit membacanya lalu diletakan lagi.
"Bicara soal apa?" tanya Gama.
"Semua orang tahu siapa keluarga kita. Terkenal dengan perusahaan properti terbesar, dan kaya raya." Abian berdiri membelakanginya. Gama berdecak, ia melipat kedua tangannya sambil mengangkat satu kakinya.
"Sedangkan Tomy?" Imbuhnya. Perkataan yang baru saja Abian sampaikan membuat pria tampan itu berubah tatapan.
"Apa maksud pembicaraan Papa?" Suara intonasi Gama pun sudah berubah.
"Cari yang setara, Gam."
Gama tertawa mengejek. "Bulshit! Sejak kapan Papa memandang orang dari segi materi?"
"Kamu bisa dapatin perempuan jauh lebih dari Naya!"
Brakkk
Gama baru saja memukul begitu keras meja di depannya. Giginya bergemelatuk, urat-urat pada tangan dan lehernya terlihat jelas.
"Nggak akan ada perempuan selain Naya, di hidup Gama. Apa maksud Papa? Mau mencoba menjadi penghalang?" tukas Gama tajam.
Abian membalikkan badannya. Ia bisa melihat kemarahan pada Gama.
"Apa kamu takut?"
"Sejak kapan seorang Gama takut? Bahkan kalau Papa sendiri menjadi duri di hubunganku, aku nggak ragu buat Papa hancur!"
"Jangan berani-beraninya Papa sakiti Naya!"
"Gadis itu sangat lemah, mudah sekali Papa sakiti!" Pandangan Abian serius.
"Jangan buat Gama hilang kesabaran. Dan merusak semua kerja keras Papa!" kata Gama memberi peringatan.
***
"Udah semua kan? Apa masih ada yang belum di beli?" Naya membaca semua catatan belanja bulanan.
"Udah semua deh Kak," balas Naya. Nia mengangguk lega. Indi meminta tolong pada dua putrinya untuk membeli belanja bulanan mumpung mereka tidak ada kelas pagi ini.
Dan kebetulan sekali Bibi--pelayan di rumah itu sedang tidak ijin tidak masuk. Karena di rumah Indi menemani Saras jadinya meminta tolong pada dua anaknya.
Mereka pun berjalan keluar menuju ke parkiran. Memasukkan semua belanjaan yang begitu banyak dalam bagasi mobil.
Beberapa menit menuju pulang, sebuah mobil menghadang mobil yang mereka tumpangi. Nia menginjak rem begitu kuat sampai kepala mereka nyaris terpentok.
"Kak," tegur Naya menatap Kakaknya.
"Ada mobil di depan, gue kaget Nay!"
Tiba-tiba tiga orang bermasker mendekat ke mobilnya dan mengetukkan tangannya ke kaca mobil.
Nia dan Naya panik dan takut. "Jalan Kak, jalan!" pinta Naya.
"Ada mobil di depan Nay!" Kebetulan sekali jalanan yang mereka lalui memang sepi.
Ketukan pada pintu kaca mobil sangat keras. Mereka saling menggenggam tangan.
"Kak, kita harus gimana? Mereka mau ngapain?!" Naya sangat takut dan panik.
Nia segera mencari ponselnya mendial nomor Tomy-- tapi tidak aktif. Lalu mendial nomor Indi berdering tapi juga tidak di angkat.
"Buka pintunya! Atau kita pecahin kaca mobilnya!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Gamara's
Teen FictionGamara Bagaskara adalah keturunan tunggal dari marga Bagaskara. Pria tampan itu penuh pesona dan karisma. Dan Kanaya odisa ialah gadis yang paling Gama cinta. Pria itu sangat menggilainya. Siapapun pasti akan merasakan akibatnya jika merebut Kanay...