Note: Yang aku butuhin sebagai penulis itu support readers aku, tolong beri aku semngat, komen komen.
Pyarrr
Terkejut setengah mati, tangannya tak sengaja menyenggol sebuah figura di nakas. Kedua tangannya menutup mulutnya, dan rasa takutnya semakin menjadi ketika melihat figura itu terdapat sebuah foto perempuan cantik sedang tersenyum.
Dengan cepat, ia segera membereskan serpihan pecahan kaca itu. Sebelum pemilik kamar ini datang, dan ia akan menggantinya dengan frame yang sama.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" bak petir di siang bolong, tubuh wanita paruh baya itu terlonjak di tempat. Kepalanya menoleh ke kiri dimana seorang pria tampan berdiri di ambang pintu.
Gugup dan takut menjadi satu. "A--a--anu, Den. I--ini, maaf Den saya nggak sengaja nyenggol figura Nona Naya, saya benar-benar minta maaf Den!" ucap wanita itu membungkuk dengan kedua tangan di depan wajahnya.
"Saya semula berniat membersihkan kamar Aden, seperti biasanya! Mohon maaf kali ini, saya ceroboh!"
"Pergi!" usir Gama tegas.
"Saya bersihkan dulu ka--"
"Pergi!" kini lebih tegas, dan wanita tua itu semakin takut. Akhirnya pun menurut, dan pergi dari kamar itu.
Tatapan netra itu tertuju ke serpihan kaca yang berserakan. Langkah kakinya mendekat, kemudian berjongkok. Ia ambil selembar foto itu dan mengamati sosok cantik sedang tersenyum.
"Takdir akan berpihak kepadaku, dan kamu tetap milikku selamanya!" ucapnya rendah penuh keyakinan. Seutas garis senyum terbit di wajah itu. Tapi terlihat mengerikan.
Untungnya dua jam kedepan akan ada pertemuan makan malam bersama dua keluarga. Jadi, rasa marah dan kesal yang hinggap semula kini berganti.
***
Naya sangat muak hari-harinya di penuhi Gama yang sudah seharian ini ia lihat dan malam ini pun akan bertemu lagi.
Menolak pun sudah Naya katakan. Kata Indy tidak bisa di undur lagi, karena ini sudah di rencanakan jauh hari namun bisa terlaksana malam ini.
Tomy dan Indy juga rasanya tidak enak jika menolak ajakan langsung dari calon besannya. "Ma, Naya capek banget seharian ini!" keluh Naya.
Indy mendekati putrinya dan duduk di sebelahnya. "Sayang, Mama ngerti kok. Tapi, kali ini aja."
Naya menghembuskan nafasnya pelan. Ia memeluk Indy dari samping, memejamkan matanya. "Kenapa, Nak?"
"Aku nggak paham sama perasaan ini, kadang aku punya empati, kadang juga nggak suka! Sebenarnya Naya ini kenapa, Ma?" Gadis itu fi buat bingung dengan perasaanya yang mudah berubah-ubah.
"Kamu percaya nggak sama cinta yang bisa hadir kapan aja, saat kita sering bersama?"
"Percaya nggak percaya," kata Naya.
"Kamu harus percaya, bisa aja itu muncul di hati kamu. Kita nggak pernah tahu, kan kedepannya."
"Apa, iya? Tapi kok Naya berubah-ubah, kadang bisa enjoy jalan, terus beberapa saat jadi ilfeel, muak, bosen, nggak suka pokoknya!" jelasnya sedikit merengek.
"Lawan aja semua rasa itu, kamu lihat Gama dari sisi baiknya, nanti lama-lama kamu bisa menerima. Apalagi kalau kamu selalu mendapatkan treatment yang baik dari Gama, secara otomatis hari dan pikiran kamu akan melihat ketulusannya!"
"Ayo berangkat!" tiba-tiba suara bariton dari undakan tangga terdengar, rupanya Tomy sudah siap dengan setelan kemejanya.
Naya mencoba menarik senyumnya. Tapi ia tidak melihat Nia. "Kak Nia mana, Pa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Gamara's
Fiksi RemajaGamara Bagaskara adalah keturunan tunggal dari marga Bagaskara. Pria tampan itu penuh pesona dan karisma. Dan Kanaya odisa ialah gadis yang paling Gama cinta. Pria itu sangat menggilainya. Siapapun pasti akan merasakan akibatnya jika merebut Kanay...
