Note: 60 Vote, komen sebanyak-banyaknya ya sayang-sayangku🌸
Sebuah tangan menyambutnya di udara, lalu tangan putih lentik itu menerimanya. Usapan kecil ia rasakan sendiri.
"Mereka udah lama pengen ketemu kamu, Sayang!" katanya.
Dengan menarik nafas pelan-pelan dan mengeluarkannya melalui hidung. Ia menganggukkan kepalanya.
Mereka baru saja tiba di sebuah rumah bergaya minimalis cukup mewah. Dan baru saja menginjakkan kaki masuk ke dalam, sebuah suara lembut menyambut telinganya.
"Ooohhh, kalian akhirnya datang juga!" kata wanita paruh baya sudah berkepala 6 itu. Tapi masih saja cantik meskipun tidak bisa di pungkiri keriput di wajahnya. Mereka ialah Hermantyo dan Tia.
"Malam, Grandma!" ucap Naya menyapa dan menyambut tangan wanita itu.
Tia tersenyum lebar, Gama ini sangat jarang berkunjung ke kediamannya. Dan sekarang datang bersama tunangannya tentu Tia sangat senang.
"Ayo masuk, Grandpa udah nunggu di ruang makan!" ucap Tia merangkul bahu mungil Naya di ikuti Gama di sampingnya.
Hidangan di meja sangat memanjakan mata dan perut. Naya sedikit terharu akan usaha dari keluarga Gamara. Mereka sangat hangat menyambut dirinya.
Entahlah Naya tidak bisa memungkiri bahwa ia merasa beruntung bertemu dengan keluarga besar Gamara.
"Ayo makan!" titah Grandpa Hermantyo.
Gama menyelipkan helaian rambut yang menghalangi pandangan gadisnya ke daun telinga. Perbuatan seperti itu di sorot sepasang paruh baya dan juga Naya sendiri yang di perlakukan manis.
Tia mengambil beberapa menu makan malam ini ke piring Naya dan juga Gama. 20 menit berlalu makan sembari sedikit obrolan pun selesai.
"Udah semester berapa, Nay?" tanya Hermantyo yang duduk di ruang tengah bersama. Dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya tidak membuat aura pria tua itu meredup.
"Dua, Grandpa!" ucap Naya masih sedikit malu-malu dan canggung.
"Gama kayaknya udah semester 5, iya kan?" sahut Tia menatap cucu satu-satunya.
"Iya,"katanya singkat.
"Bentar lagi lulus, kamu udah siap kan sama tanggung jawabmu, Nak?" tanya Hermantyo dengan sikap lembut namun ketegasannya terasa kuat.
"Gama masih mempertimbangkan, Grandpa. Urusan cabang Papa belum sepenuhnya selesai! Papa masih butuh, Gama!" jelas Gama tak kalah tegasnya dan berprinsip. Auranya sangat kuat.
Naya sedikit melirik ke kanan guna melihat pria tampan yang duduk di sampingnya dengan tangan yang tak lepas menggenggamnya.
Dulu Naya merasa tidak ada kecanggungan ataupun rasa asing ketika bersama Gamara. Tapi semenjak pertunangan itu sebagian dari keceriaannya dengan Gama seolah berkurang begitu saja.
Kadangkala ia di buat nyaman dan di lindungi. Tapi terkadang pula rasa asing itu seolah hadir. Dengan sikap Gama yang lebih protektif dan posesif terasa tidak biasa untuknya.
Hermantyo berdehem pelan, ia melepaskan kacamata itu dan meletakkannya di atas meja. Tatapannya tertuju pada Gama dengan serius.
"Grandpa semakin tua, perusahaan ini harus segera mendapat penerusnya. Grandpa tidak memaksa mamamu karena Grandpa tahu Papa sendiri tidak akan mengijinkannya, dan bisnis properti bukan bidangnya Mamamu. Dia lebih menyukai desaign, dan Grandpa tidak ragu dengan kepemimpinan Papamu sangat memanjakan mamamu!"
Hermantyo tersenyum,"Tidak ada alasan Grandpa menyesali Papamu!" imbuhnya dengan suara tenang.
Tia ikut tersenyum juga. "Dulu Grandma pengen Mamamu nambah anak lagi, biar kamu ada temennya. Tapi apa boleh buat, sudah di lakukan berbagai macam cara juga masih belum ada, memang nurun dari keluarga Mamamu sama Papamu sendiri! Mereka juga anak tunggal dulunya sama seperti kamu Gam!" jelasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gamara's
Teen FictionGamara Bagaskara adalah keturunan tunggal dari marga Bagaskara. Pria tampan itu penuh pesona dan karisma. Dan Kanaya odisa ialah gadis yang paling Gama cinta. Pria itu sangat menggilainya. Siapapun pasti akan merasakan akibatnya jika merebut Kanay...
