Mana ini sih Vote dan komennya sayang, kok sepi. :)
"Nay!" suara dan tepukan itu terjadi bersamaan. Mendengar ada yang memanggil namanya pun gadis itu menoleh ke belakang.
"Duduk, Jan!" ucapnya menunjuk kursi di depannya yabg terhalang meja.
"Akhhh! Tumben banget ngajak ketemu gini, kangen sama gue, ya?" guraunya dengan wajah yang di buat-buat.
"Terserah lo deh, Jan. Btw kelas udah selesai beneran kan? Maaf banget kalau gue ganggu waktunya!" kata Naya sedikit tidak enak.
Janu menyeruput es yang sudah di pesankan untuknya. "Biasa aja kali, Nay!"
"Ya udah, lo makan dulu baru aja datang itu pesenannya!" titah Naya.
"Lo sendiri nggak pesen? Atau udah makan duluan?" karena tidak melihat piring di depan Naya, hanya segelas ice lemon tea.
"Sebelum kesini Dila ngajakin makan di kantin, karena gue nggak enak buat nolak jadi gue sekalian! Nggak papa kan?"
Janu tersenyum lebar,"Nggak papa kok, gue makan ya, Nay." Gadis itu mengangguk dan menunggu sampai selesai makan.
"Sekarang lo mau perlu ngomong apa?" tanya Janu menatap Naya.
Janu melihat Naya yang melipat bibirnya ke dalam dan menyampirkan helaian rambutnya yang sedikit menutupi wajahnya ke daun telinga.
Pemandangan itu terlihat sangat manis. "Em, sebelumnya gue minta maaf ya ini menyinggung ke ranah pribadi keluarga lo." kata Naya.
Dan Janu terlihat penasaran,"Boleh."
"Lo ada foto om sama tante lo nggak?"
"Emang kenapa, kok tiba-tiba banget!"
"Enggak papa, sih. Cuma penasaran aja, lo kelihatan sayang sama mereka." alibi Naya.
"Tapi gue nggak punya, Nay. Dulu sempet ada, Papa gue yang tunjukin tapi sekarang nggak tau!"
"Jan, coba tanyain ke bokap lo siapa tahu masih kan." katanya dan spontan ia menempatkan tangannya di atas tangan Janu.
Hatinya sedikit berdebar ketika tangan lembut itu menyentuh punggung tangannya. "G-gue coba tanya nanti." katanya bercampur gugup.
Naya tersenyum lebar tanpa terlihat giginya mendengarnya. "Makasih ya Jan. Kabarin gue, loh!"
"Gampang! Tapi buat apa Nay, kan lo belum pernah lihat bahkan interaksi!"
***
Indirect kiss itu yang baru saja seseorang lakukan pada Naya. "Apaan sih, Kak!" ucapnya menarik tisu di meja dan mengusap bibirnya.
"Ada sisa cream di sudut bibir kamu," katanya jujur seraya menegakkan kembali tubuhnya.
Bisa di lihat antara bercampur gugup dan malu pipinya tampak sedikit memerah. Naya menyampirkan anak rambut yang menjuntai menutupi sebagian matanya. Ia menggigit kecil bibir bawahnya dengan membuang asal tatapan matanya.
"Iya tapi nggak usah sampai di jilat sendiri, itu kan bekas Naya!" ucapnya sedikit meninggikan nadanya terdengar ketus.
"Nggak papa, Kakak suka!" Mata Naya langsung melotot mendengar apa yang di katakan pria di depannya. Kedua alisnya menukik,"apaan sih, Kak!" seru Naya.
Kenapa mendadak di sekitarnya seperti tidak ada angin. Tubuhnya gerah, Naya mengipas-ngipasi wajahnya dengan tangannya sendiri.
"Kenapa, Nay? Ac nya kurang dingin? Mau Kakak bilang sama pela--"
"Stop! Naya mau ke toilet!" potongnya dan langsung bergegas pergi begitu saja. Membuat Gama terkekeh kecil dengan tingkah laku gadisnya.
Naya melihat pantulan wajahnya di cermin toilet,"Ih... Apaan sih Kak Gama tuh!" gerutunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gamara's
Novela JuvenilGamara Bagaskara adalah keturunan tunggal dari marga Bagaskara. Pria tampan itu penuh pesona dan karisma. Dan Kanaya odisa ialah gadis yang paling Gama cinta. Pria itu sangat menggilainya. Siapapun pasti akan merasakan akibatnya jika merebut Kanay...
