27. Gamara

2K 71 6
                                        

Note: Komen.. Komen.. Komen

Tok tok tok

"Masuk," ucap Gamara yang masih berkutat dengan laptopnya.

Seorang perempuan terlihat masuk sembari memegang dokumen berwarna biru,"Selamat siang Pak, ini dokumen yang Pak Gama minta."

"Taruh di atas meja," titah Gama tanpa menatap si lawan. Perempuan manis itu mengangguk.

"Ada yang bisa, saya bantu lagi, Pak?" tanya perempuan itu, dan Gama hanya mengangkat tangannya sebagai simbol tidak.

"Permisi, Pak." ucapnya pamit keluar dari ruangan tersebut.

Pergerakan jari-jari yang menekan keyboard itu terhenti, Gama sudah berusaha untuk fokus dan menghiraukan ucapan gadisnya pagi tadi. Tapi entah kenapa terasa sangat sulit. Kalimat-kalimat itu terus muncul menit permenit ketika berusaha abai.

Ayolah, bukan sekali dua kali pria itu mendengar ucapan itu, tapi kali ini terasa sedikit berbeda. Nyerinya lebih masuk dan lebih mengacaukan fokusnya.

Biasanya Gama alihkan ke pekerjaan dan bisa lupa seiring dengan berjalannya waktu. "Sial!" ucapnya marah dengan otot-otot rahang yang mengeras.

Seorang Gamara Bagaskara, pria muda yang tampan dan cerdas itu sebelumnya tidak pernah merasa insecure di hidupnya. Namun untuk kali ini sungguh, pria itu sampai beberapa kali menatap dirinya di cermin apa wajahnya seburuk itu?

Apa dirinya ini menjijikan? Apa yang salah dari dirinya, sampai gadisnya saja terlihat sangat muak dengannya.

Tiba-tiba saja pandangan Gamara terpaku pada cincin yang melingkar di jari manisnya. Lalu ingatannya kembali berputar mengenai map yang berisi biodata dan lainnya mengenai Naya.

Meskipun sudah mengenal Naya sejak kecil, tapi Gama masih se-ingin itu untuk benar-benar mengetahui gadisnya lebih dalam.

Warna kesukaan, makanan favorit, minuman, kue kesukaan, dan sebagainya. Ternyata itu saja belum cukup untuk tahu seorang Kanaya Odisa.

***

"Kapan lagi sih, Pa, kita tunda terus terkait orang tua, Naya?" ucap Indy sedikit menahan kesal ke suaminya.

Tomy melonggarkan dasi yang seakan mencekik lehernya. Ia mendudukkan bokongnya sedikit keras ke sofa.

"Aku merasa ini waktunya belum tepat, Ma."

Indy berdecak kecil, lalu menatap suaminya. "Waktu yang tepat itu kapan? Nggak ada waktu yang tepat, Pa. Kasihan anakku, Naya. Biar dia cepat tahu, dan bisa mulai belajar menerima takdir ini!"

Tomy menghela nafas panjang. "Nia setuju sama apa yang Mama bilang, Pa." sahut Nia baru saja masuk ke dalam rumah.

"Selesai kelasnya, Nak?" tanya Indy menerima salim dari Nia.

"Iya Ma, maaf kalau Nia nggak sopan tiba-tiba nimbrung. Tapi Nia kasihan sama Naya yang berhak tahu siapa orang tuanya!"

"Semoga Papa ngerti," ucap Nia dan lanjut naik ke atas. Meninggalkan orang tuanya yang beradu pandang.

***

Sreg

"Bisa nggak sih, lo jangan ganggu gue dulu, Jan?" seru Naya dengan intonasi menahan kesal. Janu tiba-tiba datang ke kelasnya yang baru lima menit selesai materi.

Naya sedang dalam mode tidak mau di ganggu. Malah Janu datang terus merecokinya, ia tengah mencatat beberapa point dari kelas tadi yang tertinggal karena pikirannya tidak fokus.

Pria itu menegakkan tubuhnya lalu sedikit memutar badannya menghadap Naya. "Kenapa?"

Naya diam tanpa berniat menjawab. Gadis itu masih menulis buku dari Dila yang di pinjam.

Gamara's Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang