33. Gamara

1.2K 43 1
                                        


"Maaf kami sudah menyimpan rahasia ini terlalu lama. Itu karna Mama sama Papa belum siap melihat kamu bersedih. Selama ini kami ingin kamu selalu bahagia, merasakan hangatnya orang tua pada umumnya, Nak!" ujar Indy panjang lebar sembari mengusap-usap lembut bahu putrinya.

Ia pun juga ikut merasakan kesedihan ini, walau bagaimana pun orang tua Naya juga sahabat baiknya. Walaupun memang kesedihan itu sangat Naya rasakan tapi ia mencoba untuk menyelipkan segaris senyum kecil yang bisa ia perlihatkan pada Tomy dan Indy.

"Makasih ya Ma, maaf Naya sebelumnya marah tapi... Naya bersyukur banget ada di kehidupan kalian!" ucap Naya tersenyum kecil dengan air mata di ujung yang menetes.

Indy langsung memeluk erat Naya. Tak lama Tomy ikut duduk di sofa panjang itu. Dan memberikan sebuah bingkai berisi 4 orang dengan masing-masing pasangannya tersenyum.

Naya menatap itu dengan pikiran yang menerka-nerka. "Mereka orang tua kandungmu, Nak!" kata Tomy.

Lalu jarinya menunjuk perempuan di sebelah kiri yang di rangkul pria tampan bersetelan jas formal.  "Ini Papa mu, namanya Andro odisa, ini ibumu namanya Sari odisa!"

Untuk pertama kalinya Naya bisa melihat wajah orang tuanya. Mereka sangat tampan dan cantik, di balik tangis itu terselip tawa kecil.

"Papa mu itu sangat pekerja keras, ibu mu juga setia mendampingi. Sebenarnya kamu juga terlahir dari keluarga yang sangat harmonis." jelas Tomy.

Indy nengusap air mata yang jatuh ke pipinya. "Hanya ini satu-satunya kenangan yang masih ada. Kita bersahabat baik, sampai kecelakaan itu terjadi mereka memercayakan kamu untuk kita rawat!"

Naya mulai menangis tersedu, ia menaikkan pandangannya menatap wajah wanita yang sudah seperti ibunya dengan tulus menyayanginya.

"Makasih Ma.... " ucapnya lirih bahkan nyaris tidak terdengar.

Tomy dan Indy sudah merasa sedikit lega. Mereka akhirnya bisa memberikan kejelasan perihal orang tuanya. Dari mulai awal kenapa Naya bisa mereka rawat dan siapa orang tuanya.

"Naya mau ke makam Mama, Papa. Kasih tahu aku dimana pemakamannya." pintanya sambil mengusap air matanya.

Tomy dan Indy saling menatap beberapa saat. "Nay... Sebenarnya ada hal yang belum kami jelaskan!"

"Apa Pa?"

"Mungkin ini terkesan menuduh tapi kecelakaan orang tuamu sudah di rencanakan seseorang!"

Deg

Bak petir di siang bolong, Naya terkejut lemas mendengarnya. Tangisnya yang sempat mereda kini kembali.

"Siapa yang tega lakuin itu?" tanyanya menatap Tomy.

***

Malam ini kediaman Tomy kedatangan seseorang yang berniat mengajak salah satu putrinya untuk pergi. Namun sudah 20 menit berlalu si empu belum juga memunculkan batang hidungnya.

"Coba panggil Ma, kok lama banget!" pinta Tomy pada istrinya.

"Tunggu ya, ngomong-ngomong gimana kabar orang tuamu?" tanya Tomy mencoba untuk lebih berbaur.

"Baik, Om." kata Gama.

"Syukurlah, em... Om tante sudah menceritakan kebenaran tentang Naya siang tadi. Meskipun awalnya menangis tapi Naya sudah bisa menerima kenyataannya!"

Gama menatap Tomy dengan wajahnya yang memang terlihat dingin itu. "Om berharap kamu benar-benar tulus sama Naya! Jangan pernah buat dia merasa sedih apalagi sampai hatinya terluka!"

"Serius banget, kalian!" ucap Indy tiba-tiba.

Melihat Naya sudah di depan matanya berdiri di samping Mamanya. Gama pun secara spontan berdiri. Ia memandang wajah cantik itu yang matanya memang masih terlihat sedikit bengkak.

"Om, Tante Gama ijin ajak makan Naya!" katanya menjabat tangan Tomy dan Indy berpamitan.

"Naya baru makan satu jam lalu, Kak!" Indy menyenggol kecil lengan putrinya itu, lalu tersenyum pada Gama.

"Udah sana, setengah jam Gama nungguin kamu!" seru Indy mendorong putrinya sampai berdiri di samping Gama.

Naya hanya mampu menghela nafas. Pria itu menggenggam jemarinya hingga tenggelam di tangan besarnya. Mereka pun pamit, Tomy dan Indy mengantarkannya ke depan pintu teras.

Mobil pun bergerak meninggalkan pekarangan rumah.

"Kak Gama tumben nggak ngechat aku dulu, kalau mau ngajak pergi?" tanya Naya menoleh beberapa saat.

"Kakak emang udah niat dari siang tadi, sengaja!"

"Ohhh... "

"Sini tangannya," pinta Gama.

"Buat apa?" sambil menaikkan satu alisnya. Tanpa menunggu Gama langsung menggenggam tangannya.

"Biarin gini," ujar Gama.

"Perut kamu masih laper? Atau kita cari snack aja buat temen ngemil kamu pas baca novel?"

Penawaran Gama boleh juga. Naya pun mengiyakannya. Sampailah di market terdekat, Gama sudah mendorong stroler sembari menggenggam tangannya lagi.

"Pakai keranjang aja Kak, stroller buat apa? Kita nggak lagi belanja bulanan!" ujar Naya sedikit berbisik.

"Biar kamu kenyang, bisa di simpan di kulkas kan!"

Naya pun mencari snack kesukaanya, minuman, dan bermacam-macam jenis. Tapi rupanya Gama masih belum puas, pria itu menyusuri lagi rak-rak lain yang belum di lewati. Sampai sekitar 15 menitan stroller itu penuh dengan jajanan.

"Banyak banget," bisiknya sedikit mendekatkan mulutnya.

"Totalnya 800 ribu, Kak! Ada kartu member?" tanya kasir itu dan di balas gelengan saja. Gama menyerahkan kartu hitam unlimitide.

Selesai memasukkan belanjaan di bagasi. Gama masuk ke dalam mobilnya. "Kita ke playground,"

"Ngapain? Udah jam 8!"

"Siapa tau kamu mau main disana,"

"Enggak," tolak Naya.

"Kak Gama pasti bingung kan, ngajak keluar? Dari pada nggak tau mau kemana mending di rumah aja tadi!" Naya menghela nafas pelan dan menyenderkan kepalanya sambil memejamkan mata.

Gama tidak menjawab apapun tadi dia hanya diam saja. Sebenarnya sejak siang tadi Gama sudah tidak bisa fokus di kelas. Entah kenapa ia teringat Naya. Dan itu yang membuatnya ingin menemuinya.

Lima menit Gama sengaja diam dan tidak mengeluarkan suara itu karena ia melihat gadisnya terlihat lelah. Dan Naya benar tertidur.

Cup

"I love you," bisiknya di telinga itu setelah berhasil mengecup keningnya.

***

Jangan sampai kamu jatuh cinta dengan dia." ucap seseorang tiba-tiba muncul di belakangnya.

"Apa maksudnya?" tanya Janu menatap sepenuhnya. Ia memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.

Pria tua itu tidak mengeskpresikan raut apapun. Ia hanya menatap putranya dengan tatapan yang hanya dirinya yang tahu. "Kamu mau jadi perebut pacar orang? Selama ini kamu hidup di keluarga yang tahu moral!"

"Papa tahu dari mana kalau Naya--"

"Tentu Papa tahu, dia calon menantu dari keluarga kaya raya, Janu! Marga Bagaskara siapa yang tidak tahu beliau di dunia bisnis ini?" jelas Praja.

"Masih banyak wanita di luar sana, Nak. Jangan terfokus ke dia," imbuhnya sambil menepuk pundak putra semata wayangnya.

"Sebenarnya aku sudah coba buat buang perasaan ini Pa. Tapi beberapa kesempatan ketemu, ngobrol bikin perasaan yang dulu sempet hilang jadi kembali lagi!"

Janu menatap ke depan dengan pandangan menerawang. "Naya itu seperti magnet, dia cantik, baik, kadang gemesin!"

Praja menggelengkan kepalanya, "Kamu harus sadar dia sudah milik orang lain!" tegasnya dan pergi meninggalkan Janu sendiri di ruang tengah.

Janu menghela nafas berat.

Ting

Naya

Janu, ada kelas pagi nggak besok?

TBC

Gamara's Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang