25. Gamara

2.1K 79 3
                                        

Note: Vote 70, komennya kencengin, ditiap part


"Apa yang kamu pikirin?" Sebuah jemari kekar menyentuh puncak kepala Naya yang tanpa sadar melamun.

Gadis itu meresponnya dengan menggelengkan kepala pelan, jarinya masih menyentuh kalung yang baru saja tunangannya berikan.

"Sesuai, kan?" Gamara menatapnya dalam sembari memastikan.

"Iya Kak, makasih banyak!" ujar Naya tersenyum sangat manis. Gamara saja terlena sejenak dalam buaian senyum itu.

"Yang ini disimpan, nggak papa?" tanya Naya menunjukkan kalung yang sebelumnya sudah Gamara berikan padanya setelah pertunangan dulu.

"Boleh," singkat Gamara.

"Hm, yaudah, bisa Naya pakai kalau pas udah bosen!" cetusnya.

"Yang penting kamu, senang." Saat ini Gamara dan Naya tengah berada di sebuah pantai pagi menjelang siang, karena matahari sudah mulai terik. Ya, pagi sekitar jam 08.00 pria tampan penuh kharismatik itu sudah datang ke kediaman Tomy.

Tapi mereka berdua tengah duduk di sebuah kursi yang sudah tersedia, dengan payung besar di atasnya menutupi mereka dari terik matahari.

"Maaf, Naya mintanya barang mahal!"

Silau terik mentari sedikit membuat pandangan Gamara terganggu, pria itu menyipitkan matanya. Ia gerakan tangannya menjangkau bahu mungil gadisnya,"Buat apa kerja kalau nggak bisa beliin, apa yang kamu mau!" ucapnya dengan nada rendah penuh lembut.

Tanpa di minta kepala Naya bersandar di bahu kekar miliknya. "Kak Gama terlihat menyedihkan tau nggak?"

"Kenapa?"

"Jatuh cinta sama Naya yang nggak tau orang tuanya siapa, dan perasaan yang Naya rasa sama Kakak belum jelas!" ungkapnya, dengan tatapan lurus ke ombak kecil di pantai.

Gamara sedikit mengeratkan rangkulan itu, satu tangannya yang bebas ia gunakan juga untuk merangkul pinggang ramping itu. "Katanya cinta nggak ada alasan, Nay!"

"Naya nggak suka, kakak kelihatan lemah di depan Naya! Yang Naya tahu Kak Gama itu dingin, tegas, bukan seperti budak cinta di depan Naya!" celetuknya sedikit mendumel.

Gamara tersenyum tanpa Naya tahu, pria itu mengambil nafas sembari menghirup wangi di rambut gadisnya. "I love you," bisiknya rendah.

"Kak...." Rengeknya memukul paha pria itu. Baru saja di ungkapkan, Gamara sangat jelas memperlihatkan bucinnya itu.

"Sayang..." panggil Gamara lembut.

"Hm?"

"Kenapa kita nggak tiap hari aja seperti ini, obrolan kita terdengar santai." ucapnya.

"Emang biasanya, nggak?"

"Canggung, nggak betah bicara lama sama Kakak!" jelas Gamara, dan itu fakta, mungkin tanpa di sadari Naya.

Naya diam sejenak,"Naya bingung sama perasaan Naya, Kak."

Cup

"Jangan bingung, jalanin aja!" Ia mengecup tiba-tiba kening itu. Jantungnya berdebar kencang.

"Aku di beliin sandal sama Mamakamu, Kak!"

"Mama kamu juga, Sayang." Koreksi Gamara.

"Mama Ifa baik banget, makasih ya, keluarga Kak Gama udah baik sama Naya!" Gadis itu melerai pelukannya, ia menatap wajah tampan tunangannya. Sudah lama sekali Naya tidak pernah mengamati wajah itu. Semenjak perjodohan itu terjadi.

"Sama-sama, Sayang!"

"Tapi jujur, aku geli setiap Kak Gama bilang sayang ke Naya! Kaya nggak cocok," cetus Naya.

Gamara's Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang