19. Gamara

3.6K 137 103
                                        

"60 vote, 100 komen no next aja, tapi di setiap scene"

"Kamu harus tahu kelakuan anakmu sebenarnya! Ibu lihat sendiri mereka berbuat hal memalukan!" ujar Saras dengan nada marah dan menatap tajam Naya yang duduk bersama Gama.

"Itu nggak bener, Ma. Oma salah paham!" tegas Naya menatap Indi yang baru saja datang bersama suaminya lalu Saras memberitahu kejadian yang ia lihat tadi.

"Halah! Jangan berlagak polos kamu!" seru Saras menunjuknya dengan pandangan penuh kebencian.

"Oma... Oma tenang dulu." kata Nia menenangkan Saras.

"Indi, Tomy kalian salah besar merawat anak ini! Dia nggak tau terimakasih, dan bikin malu!" Tukas Saras berapi-api.

"CUKUP!"

Semua terkejut dan hening. Gama muak mendengar Saras berbicara menyudutkan Naya. Gama benci, mendengar seseorang berani membentak gadisnya didepan matanya sendiri.

Naya terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menundukkan pandangannya sembari memilih jari-jarinya. Rasanya percuma menjelaskan sesuatu yang sebenernya.

Indi menarik tangan Ibunya untuk kembali duduk. Wanita itu sedikit gugup mendengar suara tinggi dari calon menantunya.

"Sekali, dua kali saya mencoba bersabar dengan mulut anda yang terus memojokkan Nayaku. Tapi sekali dua kali saya tidak tahan dengan mulut anda yang berani membentak, NAYAKU!" Sentak Gama di akhir katanya. Tatapan matanya sangat tajam dan menakutkan. Seketika Saras merasa terintimidasi.

Bukan hanya Saras, Indi, Tomy dan Nia pun sama takutnya. Baru pertama kali ini mereka mendengar dan melihat langsung kemarahan Gama.

"Apa anda melihat dari awal kejadian yang anda lihat dan anggap sebagai hal memalukan itu bukti bahwa Nayaku adalah gadis buruk dan tidak tau terimakasih?!"

"Jangan menjadi orang yang haus validasi dan playing victim disini!" tunjuk Gama pada wanita tua yang rambutnya sudah bercampur uban itu.

"Tidak sopan kamu, menunjuk saya!" ucap Saras membela dirinya.

"Saya tidak akan menghormati anda setelah apa yang anda lakukan ke Naya! Dan Om, Tante--" Gama menjeda ucapannya, pria tampan itu menatap kedua orang tua itu sejenak sebelum tatapnya beralih pada gadisnya yang diam menunduk.

Ia menarik pergelangan tangan Naya untuk  berdiri. Gadis itu menatapnya tanya. Tapi atensi Gama tertuju pada sudut bibir gadisnya yang sedikit membiru--lebam.

Hatinya sangat sakit melihat pemandangan ini.

"Wanita tua itu menampar Nayaku!" sambungnya. Indi dan Tomy terkejut, bagaimana Gama bisa tahu.

Pandangan Naya naik, matanya bersinggungan dengan mata Gama. Pria yang berdiri di depannya ini terus menatapnya tanpa berkedip. Naya menarik tangan Gama dari bibirnya lalu menundukkan pandangannya lagi.

"Kenapa kalian tidak berniat memberitahuku? Naya akan jadi istriku kelak, aku harus tahu apapun keadaanya! Tapi wanita busuk itu selalu mencari-cari kesalahan Nayaku!" tukas Gama menatap tajam Saras.

"Kamu-" ucapan Saras tertahan. Wanita tua itu mengepalkan tangannya.

"Maafin kami, Gam. Kami benar-benar menyayangi Naya selama ini!" ucap Indi. Wanita itu tidak habis pikir dengan Ibunya. Kini masalah semakin besar.

"Gue percaya kok, adik gue nggak mungkin berbuat hal yang nggak sepatutnya!" sahut Nia menatap Gama, lalu ia menghela nafasnya beralih ke Saras.

"Oma, kita berdua sama-sama cucu Oma. Nggak sepatutnya Oma berbicara begini! Kan bisa di tanyakan dulu baik-baik!" lanjutnya berbicara ke Saras.

Gamara's Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang