Note: 190k views 80 vote kita update ya
Cup
Cup
Mata tajam itu tidak pernah lepas memandang rupa ayu yang tertidur pulas ini. Ia gerakan jemarinya mengusap kecil pipi halus itu. Sangat pelan jangan sampai gadisnya terbangun.
Pagi sekali sekitar pukul 05.00, satu jam sebelum keberangkatannya ia menyempatkan untuk melihat gadisnya. Semula pria itu pikir akan pamit melalui pesan chat semalam tapi ia urungkan.
Sebucket bunga mawar yang segar dan wangi sudah berada di nakas lampu tidur itu. Serta satu paper bag berisi sepatu casual ia letakan di sisi ranjang yang kosong. Berharap apa yang ia beri dan di gunakan dengan baik dan tentunya di terima.
Merasa sudah cukup, pria itu pun berjalan keluar menutup kembali pintu kamar pastel itu. Dan ia pun menghampiri Tomy dan Indy yang berada di dapur.
"Sebentar sekali, Gam!" ucap Tomy yang duduk dengan segelas kopi hangat di depannya. Sedangkan Indy berkutat memanggang roti di bantu Bibik--art di rumah ini.
"Iya, Om. Naya kelihatan nyenyak tidurnya, saya nggak mau ganggu!" kata Gama ikut duduk di kursi tersebut.
"Baru jam 05.20 kamu sudah rapih begini."
"Ada tugas ke luar kota, sebentar lagi berangkat. Saya sempetin untuk ketemu, Naya!" ucap Gama. Berbicara biasa pun nadanya terdengar tegas.
Berkemeja biru muda, berdasi pun sama, mengenakan tuxedo navy dengan setelan jas pun navy. Sangat berkharisma dan auranya terlihat kuat.
Tidak lupa jam tangan mahal berada di sisi kiri pergelangan tangannya. Dan cincin berlian pertunangannya.
"Kamu sudah sarapan belum, Tante buatin ya?" tawar Indy menoleh ke belakang.
"Nggak usah repot, Tan. Saya sudah sarapan,"
Wajah Indy berubah seperti menyelidik,"Beneran?" tanyanya.
Gama mengangguk,"Saya pamit Om, Tante. Sekretaris saya sudah menunggu di bandara!"
Tomy berdiri menerima salaman tangan itu, begitu pula Indy yang langsung mencuci tangannya dan menghampiri keduanya.
"Assalamualaikum," pamitnya.
"Waalaikumsalam!"
Perjalanan udara membutuhkan tempuh 3 jam, dan ketika sampai langsung masuk waktu meeting di tempat yang sudah di janjikan.
"Masih kuliah, sambil kerja ini kerjanya nggak biasa loh. Tapi mengurus anak perusahaan yang di percayakan!" kata Indy.
"Yah, menjadi anak tunggal dan pasti akan meneruskan perusahaan keluarga memang harus mengorbankan waktunya!" jelas Tomy merangkul pundak istrinya menatap punggung Gama yang mulai tak terlihat.
Indy menatap suaminya dalam,"Semoga Gama terbaik buat Naya ya, Mas! Karena aku beneran sayang sama Naya, orang tuanya mengamanahkan ke kita, artinya kita begitu di percaya!" jelas wanita dengan celemek di tubuhnya.
Cup
"Iya, Ma. Doakan ya, mereka saling menerima, menguatkan!" ucap Tomy memberi usapan ketenangan ke istrinya.
***
"Terima kasih banyak, Pak. Saya sangat senang untuk bekerja lebih keras bersama perusahaan, Bapak!" jabatan tangan itu sangat erat dan penuh keyakinan.
Meeting baru saja selesai, landing dari pesawat sekitar pukul 08.15. Di tambah perjalanan menuju tempat meeting yang membutuhkan jarak tempuh 30 menit dari bandara. Ketika sampai pun mereka langsung memulai meeting itu dan selesai di jam 10.15.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gamara's
Teen FictionGamara Bagaskara adalah keturunan tunggal dari marga Bagaskara. Pria tampan itu penuh pesona dan karisma. Dan Kanaya odisa ialah gadis yang paling Gama cinta. Pria itu sangat menggilainya. Siapapun pasti akan merasakan akibatnya jika merebut Kanay...
