Note: Nggak usah silent treatment disini, ketik aja komen, terus vote, kasih semangat udah, nunggu update bisa kan?!
"Gue bisa pulang sendiri, Jan. Nggak usah nganter!" tolak Naya, kesekian kalinya. Ia membuang nafas panjang ketika di abaikan si empu.
"Keras kepala banget sih!" cetus Naya menatap jalanan depan.
Tidak lama kemudian, mobil pun berhenti di depan gerbang kediaman Tomy. Seorang satpam membuka gerbang tersebut dan mobil pun memasuki pekarangan rumah.
Tidak jauh dari pintu utama, dua wanita paruh baya tengah berdiri menatap ke arah mobil yang Naya tumpangi. Jantung Naya berdetak kencang, melihat calon mertuanya berdiri di sana bersama Mamanya.
Naya hanya tidak ingin mereka salah paham. Dengan di antar seorang lelaki yang dimana ia sudah berstatus tunangan dengan orang lain itu sangatlah kurang baik.
"Ma," sapa Naya mengecup punggung tangan Ifa dan Indy bergantian.
Indy menatap Naya dengan raut bertanya,"Di antar siapa, Nay?"
Gadis cantik itu menoleh ke belakang, dimana Janu baru saja keluar dari dalam mobil dan mendekat ke arahnya. "Temen, Ma."
"Janu, Tante." ucap Janu salim ke dua wanita tersebut dengan senyum ramahnya.
"Maaf, Tante kalau Janu lancang. Tadi Naya sudah nolak kok buat di anter, tapi saya ngerasa sebagai cowok punya tanggung jawab buat mastiin Naya selamat sampai rumah!" jelasnya.
"Biasanya supir jemput, kok." kata Indy sedikit heran.
Naya menelan ludahnya sedikit kasar. Sebenarnya saat jam kampus selesai Naya ingin pulang, tapi Janu tiba tiba menariknya masuk mobil dan mengajaknya makan. Jadinya ia menelfon supir supaya tidak usah menjemputnya.
Ifa hanya diam dan sedikit mengamati laki-laki yang bernama Janu itu. "Em... Sebe--"
"Namanya juga anak kuliahan, Jeng. Siapa tahu kan ada tugas kelompok di matkulnya. Iya kan, Sayang?" potong Ifa mengelus bahu Naya. Membuat gadis itu menatapnya.
"Iya, Ma." katanya, ia melihat Ifa tersenyum padanya. Naya menjadi semakin tidak enak hati.
"Ya udah, kamu segera mandi, terus makan ya, Mama mau pulang!" ucap Ifa padanya.
Naya tersenyum,"Hati-hati Ma."
"Hati-hati ya, Jeng!" timpal Indy setengah memeluk untuk berpamitan. Di barengi dengan Janu yang ikut pamit, karena mobilnya berada di paling belakang otomatis ia harus pergi lebih dulu.
Setelah keduanya pamit, tinggal Indy dan Naya saja masih berdiri di pintu utama.
"Naya.." panggil Indy dengan pandangan berbeda.
Gadis cantik itu menoleh, dan menghela nafas. "Naya udah nolak, Ma. Tapu Janu bersikeras ajak Naya makan, supir aku telfon biar nggak usah jemput. Maafin, Naya ya, Ma!" ia lantas memeluk Indy dengan perasaan sesal. Ia merasa telah mengecewakan Mamanya.
Indy pun membalas pelukan anaknya. "Kamu udah punya tunangan, Nak. Nggak baik kalau pergi pulang di antar cowok lain. Kamu lihat nggak tadi, Mama Ifa masih bijak, sama kamu."
Naya mengangguk dalam pelukan itu. "Tadi, calon mertua kamu kesini nganter sesuatu buat kamu."
Pelukan itu terurai,"Apa, Ma?"
"Mama nggak buka, jadi nggak tahu. Masih di ruang tengah paper bagnya, kamu buka sana!" titah Indy.
Tanpa babibu Naya langsung masuk sedikit berlari kecil. Iya benar, ada paper bag berukuran cukup besar bertuliskan charles & keith.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gamara's
Teen FictionGamara Bagaskara adalah keturunan tunggal dari marga Bagaskara. Pria tampan itu penuh pesona dan karisma. Dan Kanaya odisa ialah gadis yang paling Gama cinta. Pria itu sangat menggilainya. Siapapun pasti akan merasakan akibatnya jika merebut Kanay...
