Tawa nyaring terdengar di dapur utama. Dua perempuan berbeda usia itu tengah asik dengan alat-alat tempur memasak.
"Biar aku aja, Ma. Nggak berat ini kok!" ucap Naya mengambil alih mengangkat wajan yang baru saja di gunakan untuk memasak ayam rica-rica.
"Mama takut kulit kamu kena panas," tutur Ifa sembari menyiapkan sup buntut sapi yang mereka berdua masak.
Naya tersenyum, ia pun mendekati Ifa. "Ada lagi yang bisa Naya bantu, Ma?"
"Udah sayang, sambil nunggu Gama pulang kantor, kamu ke kamarnya aja!" titah Ifa.
"Enggak, Ma. Naya ke ruang tengah aja." tolaknya tidak enak.
"Habis ini, Mama ada urusan sama klien butik, Nay. Mama jujur nggak enak ninggalin kamu disini sendiri, padahal kan Mama yang tadi jemput kamu. Ini mendadak," ujarnya menatap Naya tidak tega.
"Oh.. Gitu, nggak papa kok Ma."
"Kamu beneran ngga papa Mama tinggal? Mungkin satu jam-an!"
"Di mansion ini nggak ngebosenin, Ma." kata Naya seraya mengelus tangan Ifa yang semula memegang tangannya.
Ifa tersenyum melihat Naya juga tersenyum padanya. Benar, di mansion ini memang ada taman di samping yang letaknya di samping ruang tv, dan di belakang.
"Di kamar Gama aja, ya, Nak."
"Iya, Ma." putus Naya agar tidak banyak argumen.
***
Ceklek
Suara pintu dibuka perlahan, seorang pria dengan setelan kemeja itu tersenyum tipis. Kakinya melangkah ke arah seorang gadis cantik sedang tertidur di sofa panjang setengah memeluk album foto yang semua gambarnya adalah dirinya dari kecil sampai dewasa kini.
Cup
Pria itu mengecup pelan kening gadisnya. Lantas ia mengambil foto album itu dari tangannya dan membopongnya ke kasur empuknya.
Setengah jam lalu Ifa menelfon Gama untuk lebih cepat pulang karena ada Naya di mansion. Untungnya Abian mengijinkan Gama pulang lebih cepat. Dan mungkin sebentar lagi Ifa juga akan pulang.
Ia menyelimuti tubuh mungil itu.
"Cantik banget, Sayang, tidur kamu!" ucapnya rendah lalu memberikan kecupan kecupan di dahi, kedua pipi, serta hidungnya.
Tatapan matanya turun tepat di bibir ranum berwarna merah muda alami. Pria normal yang pastinya ingin merasakan bibir itu.
Namun perasaan cinta yang ia miliki jauh lebih besar dari pikiran kotor itu. Gamara tidak ingin semua itu merusak segala harapan dan rencana yang selama ini telah ia rancang supaya bisa hidup dengan orang yang paling ia cintai.
Ia mengambil tangan mungil itu dan mengecupnya singkat. Gamara memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Sekitar 15 menit ia gunakan untuk mandi. Gamara keluar hanya melilitkan handuk di perut bawahnya. Wajah dan tubuhnya lebih segar dari sebelumnya.
Rupanya gadisnya masih pulas, segera masuk ke walk in closet berganti pakaian. Ia berdiri di depan cermin mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya setelah itu menyisirnya.
Tidak lupa parfume mahal ia semprotkan ke setiap sisi tubuhnya. "Pules banget," gumamnya mengusap-usap kepala gadisnya penuh kasih sayang.
Ia meneliti dan mengamati setiap inci wajah cantik gadisnya. Bukannya membiarkan gadis itu tidur lebih pulas Gamara rasanya ingin mengusiknya agar bangun.
"Kamu alasan terkuatku, Naya!" ucapnya rendah penuh makna.
"Aku akan seberusaha mungkin jadi apapun yang kamu mau!" imbuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gamara's
Teen FictionGamara Bagaskara adalah keturunan tunggal dari marga Bagaskara. Pria tampan itu penuh pesona dan karisma. Dan Kanaya odisa ialah gadis yang paling Gama cinta. Pria itu sangat menggilainya. Siapapun pasti akan merasakan akibatnya jika merebut Kanay...
