.・゜-: ✧ :- ωнєη тнє ѕυη мєєтѕ тнє мσση.
●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Hazel, tidak pernah tau apa itu senang, sedih, simpatik atau hal lainnya seperti itu. Ia tak pernah bisa mengerti mau seberapa kalipun ia membacanya. Rasanya memahami hal it...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara gemuruh terdengar mendekat, lapisan awan kelabu bergerak terbawa angin. Di lapangan para pemain masih asik memantulkan bola, menghindar dan berlomba memasukkan bola ke ring lawan.
"Jo?" Terdengar suara seseorang di belakangnya berbarengan dengan remasan pelan ditangan, buat Jordan yang sedari tadi menatap lapangan basket menarik pandangannya dan berganti menatap siempu suara.
"Kamu sedang apa?" tanya Hazel.
Jordan tersenyum dan menggeleng. "Nggak, lo udah selesai latihannya?"
Hazel berkedip dan memperhatikan wajah Jordan lama, sebelum mengangguk. "Sudah."
Jordan mengangguk. "Oke, sekarang ayo pulang." Hazel ikut mengangguk dan mengikuti langkah Jordan yang menggandengnya.
Di perjalanan pulang, Hazel yang berdiri di pijakan sepeda milik Jordan membuka suara. "Jo."
"Hm?"
"Besok mau kencan?"
Ckitt..
Jordan mengerem mendadak dan menatap Hazel. "Kencan?" Hazel mengangguk.
"Maksud lo nge-date??" Hazel mengangguk lagi.
"Tiba-tiba??" Hazel berkedip dan mengangguk.
"Kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa, bukannya kalau orang pacaran suka kencan?"
Jordan menatap Hazel menyipit. "Jujur sama gue, lo... kesambet?"
"Kesambet?"
"Kerasukan hantu, kalau kata Jefran sih itu. Apa salah ya...? Ah, intinya itu deh."
"Lo kerasukan atau kenapa Zel?" Hazel berkedip menatap Jordan.
"Saya tidak kerasukan apapun Jo."
Jordan turun dari sepeda begitupun Hazel. Ia pegang pundak Hazel dan menatap manik pemuda itu. "Terus kenapa? Lo sakit?"
Hazel menggeleng, Jordan menaikan alis. "Saya... hanya khawatir Jo."
"Khawatir?" Hazel mengangguk.
"Wajah kamu... selama beberapa hari ini mendung."
"Mendung??" Hazel mengangguk.
"Kamu, pasti sedih karena dikeluarkan dari tim."
"Gue nggak—" "Kamu bisa berbohong, tapi ekspresi dan mata kamu tidak."
"Sekarang saya sudah bisa membaca ekspresi orang-orang Jo, selain berlatih dengan kamu saya juga berlatih membaca ekspresi dengan uncle Yesa."
"Saya juga, bisa mengerti."
"Jadi, jangan berbohong didepan saya." Jordan terdiam.
Beberapa saat kemudian ia menghela napas dan tersenyum pada Hazel. "Oke, gue ngaku gue kalah. Gue gak bisa berbohong didepan lo Zel."