.・゜-: ✧ :- ωнєη тнє ѕυη мєєтѕ тнє мσση.
●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Hazel, tidak pernah tau apa itu senang, sedih, simpatik atau hal lainnya seperti itu. Ia tak pernah bisa mengerti mau seberapa kalipun ia membacanya. Rasanya memahami hal it...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah hampir seminggu Jordan tidak masuk.
Selama hampir seminggu itu benar-benar tidak ada yang tahu keberadaan dan juga kabar pemuda itu.
Hazel dan yang lainnya sudah beberapa kali menghubungi dan pergi ke rumah Jordan akan tetapi rumah dua tingkat itu selalu terlihat kosong, seperti tak pernah ditinggali seseorang.
Hazel, menutup buku novelnya dan menatap keluar jendela kelas, maniknya ia bawa pada lapangan basket yang terlihat banyak genangan bekas hujan semalam. Ia mengerjap teringat Jordan yang pernah bermain basket dengan Jefran saat kondisi lapangan seperti sekarang dan berakhir sial.
"Jef main basket yuk."
"Baru kelar ujan bro, lapangan masih licin!"
"Ah... chicken."
"Apa lo bilang? Gue ngerti ya anjir! Gue bukan pengecut!"
Jordan terkekeh dan menatap Jefran yang sudah menunjukkan wajah tak terimanya. "Kalau lo bukan chicken ayo main, gue tantang lo."
Jefran mendengus, "Oke, gue setuju kalau lo kalah lo gak boleh deket-deket Hazel selama seminggu!"
Jordan tertawa pelan, "Oke, dan kalau lo kalah lo juga gak boleh deket-deket Rafa."
"Deal!"
Setelahnya mereka pun mulai bermain, saling mencari celah untuk mencetak skor dan merebut bola dari tangan masing-masing.
Jordan, tertawa saat bola yang ditangan Jefran berhasil ia rebut, dengan langkah pasti dia mendribbel bola ke arah ring Jefran, lalu melompat- melakukan slam dunk, hingga bola masuk ke ring. Rafa bersorak di sisi lapangan sedangkan Jefran sudah cemberut. Jordan tertawa dan menatap Hazel, ia tersenyum dan melompat turun tapi sial saat kakinya menginjak tanah dia terpeleset dan—
"What the—"
Brugh!
"Zel."
Hazel mengerjap dan menoleh untuk menemukan Rafa dan Jefran menatapnya.
"Ngapain Zel? Ayo ke kantin."
Hazel, kembali menatap ke lapangan sebentar sebelum kembali ke wajah Rafa dan mengangguk. Ia bangkit dan mengikuti Rafa dan Jefran yang berjalan di depannya.
Di kantin, mereka langsung memesan makanan untuk mengisi perut mereka.
Jefran menatap satu bungkus roti coklat dan susu kotak didepan Hazel.
"Zel."
"Ya?"
"Lo yakin itu aja cukup?" Hazel berkedip menatap Jefran.
Jefran menghela napas dan berdiri. "Gue pesenin bakso ya Zel."
"Tidak—"
"Gak usah protes, gue ngelakuin ini karena Jordan."
"Gue gak mau nanti dia ngamuk karena pipi gembil lu ilang," tambahnya sebelum melangkah ke arah kedai bakso.
Hazel mengatupkan kembali bibirnya dan menatap Rafa yang terkekeh. "Gak papah Zel, itu tuh Jefran sebenernya khawatir sama lo."
"Juga bener kata Jefran, gue juga gak mau Jordan nanti marah sama gue karena gak bisa jaga lo."
Rafa tersenyum. "Jordan dulu pernah bilang ke gue sama Jefran buat selalu ada buat lo kapan pun, dan dia juga minta tolong ke gue kalau misalnya dia gak masuk tolong jagain lo."
Hazel menarik tatapannya dan menunduk, ia pun bergumam, "Tapi saya bukan anak kecil..."
Rafa pegang tangan Hazel dan mengelus punggung tangannya buat siempu kembali menatapnya. "Bukan gitu Zel."
"Jordan, cuman takut lo belum terbiasa sama yang lainnya dan takut lo bakal sendirian lagi."
"Karena itu dia cuman bilang hal kayak gitu ke kami karena gue sama Jefran yang udah lumayan deket sama lo. Gue sama Jefran bakal jadi sahabat yang bakal selalu ada buat lo Zel," akhir Rafa menatap manik Hazel didepannya.
Hazel berkedip dan menatap tangan Rafa yang masih mengelus tangannya lalu manik pemuda itu. "Terima kasih Rafa."
Rafa tersenyum dan menarik tangannya, tak lama Jefran kembali dengan satu mangkuk berisi bakso untuk Hazel, Jefran letakkan mangkuk itu di depan Hazel dan duduk di tempatnya.
"Makan ini Zel."
Hazel tatap bakso di depannya lalu Jefran. "Terima kasih," gumamnya yang dibalas dengan deheman oleh Jefran. Setelahnya mereka makan dan kembali ke kelas saat bel berbunyi.
. . .
Pulang sekolah, Hazel berjalan santai di jalan komplek rumahnya. Sebenarnya tadi Jefran dan Rafa menawarkannya untuk pulang bersama tapi ia tolak. Ia sudah terlalu biasa pulang-pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, juga dia ingin mengecek kembali rumah Jordan, mungkin saja pemuda itu sudah kembali.
Hazel, hentikan langkahnya saat sampai di depan rumah kekasihnya. Ia tatap sebentar rumah Jordan sebelum tangannya bergerak menekan bel rumah. Hazel, dua kali menekan bel dan menunggu tapi tak ada tanda-tanda seseorang akan membukakan gerbang untuknya. Ia berkedip dan akan kembali menekan bel namun urung. Hazel, turunkan kembali tangannya dan berbalik melanjutkan langkah untuk pulang ke rumah.
Hazel terus melangkah dan berhenti kala mendengar suara kucing dekat gerbang belakang gereja. Ia yang akan masuk urung dan menatap sekeliling untuk menemukan satu kucing dengan corak abu-abu mengeong dekat tumpukkan sampah.
Hazel, terdiam menatap kucing itu sebelum melangkah dan mendekati kucing itu. Kucing abu yang melihat manusia mendekatinya segera bertingkah manis, ia mendusel pada kaki Hazel. Hazel berkedip menatap kucing yang sibuk mendusel dan mengeong; mencari perhatiannya.
"Kamu sedang apa?" gumamnya berjongkok.
Kucing itu semakin mendusel dan menggesek-gesekkan wajahnya pada tangan Hazel.
Apa dia lapar?
Kucing biasanya makan apa?
Hazel terdiam sebelum membuka tasnya mengeluarkan roti coklat yang tak ia makan di sekolah.
"Saya hanya punya roti coklat, kamu tidak apa-apa makan ini?"
Kucing itu tak mengerti apa yang dikatakan Hazel, tapi melihat sesuatu ditangan manusia itu buat ia mengeong yang diartikan Hazel. Mungkin tidak apa-apa?
Hazel, membuka bungkus roti dan baru saja akan memberikan roti itu pada kucing ketika suara bariton rendah yang sedikit tak asing hinggap dirungunya.
"I don't think cats can eat that."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.