38. He has blue eyes

613 71 5
                                        

"I don't think cats can eat that

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"I don't think cats can eat that." (Aku tidak berpikir kucing bisa makan itu.)

Hazel, menoleh kala suara bariton rendah itu masuk ke rungunya. Ia tatap manik biru siempu yang menatapnya juga.

"I don't think cats can eat that, that doesn't look edible for cats honestly," ulang pemuda dengan manik biru dan surai pirang itu sembari menatap roti ditangan Hazel. (Aku tidak berpikir kucing bisa makan itu, itu tidak terlihat bisa dimakan oleh kucing, sejujurnya.)

Hazel, ikuti tatapan pemuda itu lalu kembali ke wajah si blonde. "How do you know cats can't eat this?" (Bagaimana kamu tahu kucing tidak bisa makan ini?)

Kelopak mata dengan manik biru itu terlihat melengkung dibalik masker yang pemuda itu pakai, yang entah mengapa terasa tidak asing untuk Hazel. "I have cats in my home." (Aku punya kucing di rumah ku.)

"And I always diligently check them to the vet. And as far as I can remember, the vet never said cats can eat human food, especially brown bread." (Dan aku selalu dengan tekun memeriksakan mereka ke dokter hewan. Dan sejauh yang aku ingat, dokter hewan tidak pernah bilang kucing bisa makan makanan manusia, khususnya roti coklat.)

Hazel berkedip menatap si blonde yang berjalan ke arahnya dan berjongkok dekat kucing abu tadi, dapat Hazel lihat pemuda itu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan satu kaleng makanan basah untuk kucing dan membukanya lalu meletakkan dekat kucing tadi, dengan lahap kucing itu memakannya.

Hazel hanya bisa diam kala pemuda itu kembali berdiri dan menatapnya. "Cats are not like humans, their stomachs are sensitive. If they eat the wrong thing they can get sick." (Kucing tidak seperti manusia, perut mereka sensitif. Jika mereka salah makan sesuatu mereka bisa sakit.)

"You got it?" (Kamu mengerti?)

Hazel, berkedip dan mengangguk setelahnya. Manik biru itu kembali melengkung sebelum menatap arloji dipergelangan tangannya. "Ah, I gotta go." (Ah, aku harus pergi.)

Pemuda itu terlihat merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan dua kaleng makanan kucing. "I only have this, if the cat still looks hungry just give it this." Pemuda itu berucap sembari menyodorkan kaleng makanan itu pada Hazel. (Aku hanya punya ini, jika kucing itu masih terlihat lapar beri saja ini.)

Hazel kembali mengerjap menatap makanan kaleng ditangan pemuda itu, sedangkan si pemuda menaikan alis, ia kembali menatap arlojinya lalu menarik tangan Hazel agar menerima kaleng ditangannya. "I have to go now, take this okay? and give it to the cat later." (Aku harus pergi sekarang, terima ini oke? Dan berikan pada kucing nanti.)

"I hope you have a great day. Bye, good people!" Setelah mengatakan itu, si blonde langsung pergi meninggalkan Hazel yang terdiam dengan dua kaleng makanan basah ditangannya dan kucing yang mendusel dikakinya. (Aku harap kamu memiliki hari yang menyenangkan. Dah, orang baik!)

Siapa dia?

. . .

Malam hari, di kediaman Hazel tinggal.

Suara pintu diketuk terdengar buat Hazel yang sedang fokus mengerjakan tugas di meja belajarnya hentikan kegiatannya dan menoleh pada pintu kamar. Tak lama terdengar juga suara bapa memanggilnya, "Hazel?"

Hazel, berdiri dan membuka pintu, dapat ia lihat bapa berdiri di depan kamar. "Ada apa bapa?" tanyanya.

"Bapa mau ke supermarket, ada yang mau kamu beli tidak? Atau mau ikut bapa?"

Hazel terdiam sebentar, sebelum membalas, "Hazel boleh ikut?"

Bapa tersenyum. "Boleh, ayo kalau kamu mau ikut cepat pakai jaket."

Hazel mengangguk dan berbalik, membereskan buku-buku di meja dan memakai jaket, setelahnya ia kembali ke bapa dan ikut turun.

Sampai di supermarket, bapa mengambil troli dan mulai berkeliling dengan Hazel mengikutinya.

Hingga, ditengah belanja mereka bapa berbalik dan berucap, "Hazel, bisa tolong ambilkan creamer dan susu kotak? Letaknya kalau tidak salah ada di rak sebelah sana."

Hazel, menatap arah yang bapa tunjukkan sebelum mengangguk dan melangkah ke rak yang ditunjuk bapa.

Sampai di rak, Hazel mengambil susu kotak dan creamer yang biasa ia lihat bapa gunakan dan kembali berjalan ke arah bapa yang sedang memilih buah-buahan. Namun, langkah Hazel terhenti kala ia melewati rak yang memajang berbagai makanan hewan. Ia berjongkok dan menatap berbagai makanan kering dan basah yang di pajang, Hazel berkedip dan mengambil lima kaleng makanan basah untuk kucing. Lalu berdiri dan melangkah dari lorong rak itu, tapi karena kurang hati-hati ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang saat keluar dari lorong buat belanjaan di pelukannya berjatuhan ke lantai.

"Sorry!" (Maaf!)

Hazel berkedip menatap surai pirang didepannya.

"Oh? We meet again." (Oh? Kita bertemu lagi.)

Si blonde menatap Hazel dengan senyuman dimatanya. Sedangkan Hazel mengerjap beberapa kali, melihat senyuman yang terpatri di wajah tampan itu.

Jordan..?

Ah, no. He has blue eyes...

"Hei, are you—"

"Nathan?"

Catatan penulis:

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Catatan penulis:

Jordan adalah gong yg asli Jordan adalah gong yg asliii!!

Oh and I'm sorry if there is wrong grammar. Ra bisa basa enggres wkwkwk

Juga walaupun terlambat happy new year everyone!!! Semoga thn ini tetap sehat, bahagia & wishlist kita terpenuhi aamiin

[nohyuck] gerhanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang