.・゜-: ✧ :- ωнєη тнє ѕυη мєєтѕ тнє мσση.
●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Hazel, tidak pernah tau apa itu senang, sedih, simpatik atau hal lainnya seperti itu. Ia tak pernah bisa mengerti mau seberapa kalipun ia membacanya. Rasanya memahami hal it...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selesai festival dan berganti pakaian. Hazel, langsung berlari keluar dari sekolah menuju taman yang tak jauh dari sana.
Disalah satu kursi taman dapat ia lihat Jordan duduk menunggunya. Bibirnya kembali menyungging kecil, ia berlari menghampiri pemuda itu.
"Jo!"
"Awh! Pelan-pelan Zel."
Mendengar ringisan Jordan Hazel segera melepas pelukannya. "Maaf, saya terlalu keras memeluk kamu ya?"
Jordan tersenyum dan menarik Hazel ke pelukannya. "Gak papah, gue suka hehe."
Jordan menarik napas dan menghembuskannya. "Ah... hebat banget pacar gue ini, selamat ya udah berhasil tampil di festival. Gimana perasaannya?" Pertanyaan Jordan diakhir hanya gurauan, tapi Jordan tak pernah tau jawaban dari orang yang ia tanya akan jadi jawaban yang tak ia sangka-sangka.
"Saya senang."
Jordan kaku dan meragukan pendengarannya. "Apa Zel?"
"Senang."
Jordan lepas pelukannya dan membeo, "Hah?"
"Saya senang Jo, senang sekali," ujar Hazel sembari tersenyum tipis.
Pijakan Jordan serasa bergoyang, ia hampir kehilangan keseimbangan jika Hazel tak memegangnya. "Jo?"
"Aduduh, bentar-bentar kayaknya gue halusinasi deh..." Jordan bergumam dan duduk di kursi. Ia tatap wajah Hazel yang kembali datar.
Benerankan kayaknya gue delulu, gak mungkin tadi Hazel senyumkan???
Jordan meringis dan memijat kepalanya. Hazel disisinya menatap Jordan dengan pandangan redup... khawatir mungkin?
"Jo... kamu sakit?"
"Hm?" Jordan hentikan pijatannya dan menatap Hazel.
"Wajah kamu pucat sekali..." ujar Hazel mengusap pipi Jordan.
Jordan menutup matanya dan memegang lengan hangat Hazel di pipinya. Ah, nyaman juga ternyata.
"Gak papah, gue cuman kedinginan, minta peluk boleh?" Hazel menatap Jordan dan mengangguk.
Jordan tersenyum dan bawa pemuda itu ke pelukannya, ia mendusel pada leher Hazel. Ah, nyaman banget.
Hazel elus lembut punggung dan surai pemuda pirangnya buat Jordan semakin mendusel nyaman.
Mereka berpelukan cukup lama sebelum Hazel membuka suara. "Jo."
"Hmnn?"
"Ada sesuatu yang mau saya berikan untuk kamu." Jordan menaikan alis dan mengurai pelukannya.
"Apa?"
Hazel ambil tasnya dan membukanya, ia keluarkan satu kotak yang masih terbungkus rapi dengan kertas kado dan memberikannya pada Jordan.
"Ini apaan Zel?" tanya Jordan menerima kotak itu.
"Buka saja."
Jordan menaikan alis penasaran, ia buka kertas kado yang membungkus kotak itu. Setelah kertas kado terbuka sempurna dapat Jordan lihat helm khas robot yang Jordan suka.
"Gundam?"
"Lo beliin gue Gundam Zel??" Hazel mengangguk.
"Saya belikan kamu saat hari Sabtu, tadinya saya mau berikan pada kamu saat itu juga tapi saya lupa."
Jordan menatap bergantian Gundam dan wajah pemuda di depannya. Ah, bagaimana ini Jordan tambah jatuh cinta.
Jordan tersenyum senang dan bawa Hazel ke pelukannya. "Ezelll... harusnya gue yang kasih lo hadiah, tapi makasih ya sayang. Gue pastiin bakal pajang Gundam dari lo di tempat paling spesial di antara koleksi gue yang lainnya."
Hazel balas pelukan Jordan. "Sama-sama Jo. Saya juga berterimakasih karena kamu sudah mau melihat penampilan saya tadi."
Jordan tersenyum lebih lebar dan mengurai pelan pelukannya, ia tangkup wajah Hazel dengan kedua tangan besarnya. "Ah, Zel. Gue gak sempet nyiapin hadiah lo, tapi... mungkin ini bisa jadi hadiah kecil dari gue," ia bergumam pelan. Hazel tatap Jordan yang tersenyum padanya, dan menutup mata kala Jordan mulai mengecupi wajahnya. Mulai dari kening, kedua kelopak mata, hidung, pipi kiri dan kanan, dan terakhir bibirnya.
Hazel remas pelan jaket yang dipakai Jordan kala pemuda itu melumat pelan bibirnya. Ciuman itu terasa lembut, lumatan-lumatan kecil Jordan berikan yang dibalas oleh Hazel. Jordan tersenyum dan memiringkan kepalanya mengambil napas. Singkat namun meninggalkan rasa luar biasa didada mereka.
"Gue sayang banget sama lo Zel, sayang banget."
....
Setelah itu, mereka menghabiskan waktu di taman dengan tangan saling menggenggam. Jordan, menumpukan kepalanya pada pundak Hazel dan menatap bulan yang mulai terlihat dibalik awan.
"Zel..."
"Iya?"
"Lo tau gimana proses bulan terbentuk?"
Hazel ikut menatap bulan dan menjawab. "Tahu."
"Gimana?"
"Sekitar, empat koma lima miliyar tahun yang lalu terjadi tabrakan antara bumi dengan objek besar yang di sebut theia. Dari tabrakan itu sebagian kecil puing-puing bumi dan theia berkumpul karena gravitasi dan terbentuklah bulan."
Jordan bergumam dan mendusel kecil. "Bumi hebat juga ya berarti, ngerelain sebagian tubuhnya buat membentuk bulan," gumamnya.
Hazel berkedip. "Mnn... tapi, menurut saya Jo. Dibandingkan bumi, matahari lebih hebat."
Jordan tersenyum. "Kenapa gitu?"
"Sekitar empat koma enam miliyar tahun yang lalu matahari sudah menyinari planet-planet yang mengelilinginya termasuk bumi dan bulan. Matahari, bisa menyinari bumi dan membuat iklim bumi menjadi stabil untuk bisa ditinggali. Ia pun memberikan cahayanya untuk bulan agar bisa menerangi bumi saat malam. Tanpa Matahari, planet-planet yang ada di tata surya kita akan saling bertabrakan karena tak ada pusat tata surya, lintasannya akan jadi kacau."
"Jadi menurut saya Jo, matahari lebih luar biasa. Seperti kamu," imbuh Hazel menatap Jordan.
Jordan menatap Hazel dan terkekeh. "Iyakah? Gue kayak matahari?"
Hazel mengangguk. "Kamu, seperti matahari yang memberikan kehangatan untuk orang-orang disekitar kamu seperti planet-planet yang mengelilinginya. Kamu juga seperti matahari yang setiap saat memberikan cahayanya untuk saya agar bisa bersinar, kamu membantu saya untuk tidak kedinginan Jo. Kamu pusat tata surya saya, tanpa kamu lintasan saya akan kacau."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.