.・゜-: ✧ :- ωнєη тнє ѕυη мєєтѕ тнє мσση.
●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Hazel, tidak pernah tau apa itu senang, sedih, simpatik atau hal lainnya seperti itu. Ia tak pernah bisa mengerti mau seberapa kalipun ia membacanya. Rasanya memahami hal it...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tolol."
"Asu, ege anj—"
"Hei, hei, hei calm down bro!"
Jordan, menarik dan menghembuskan napasnya sebelum menatap sodara kembarnya tajam.
"Stupid, gue bilang buat awasin Hazel bukan nunjukin wajah lo di depan dia!"
Nathan, cemberut menatap adik kembarnya. "Bro, I'm just walking in—"
"In bahasa please!"
Nathan berdehem, "Oke, gue cuman jalan-jalan di sekitar rumah yang lo dan mama tinggali oke? Gue gak pernah ada niatan buat ketemu Hazel!"
"Dan kebetulan aja pas gue jalan-jalan gak sengaja liat cowok manis lagi sama kucing, and how I know that's your Hazel? Gue aja belum pernah liat mukanya lil'bro."
"Terus di supermarket juga, gue gak tahu bakal ketemu dia lagi!"
Jordan, menghela napas dan memijat keningnya. "Tapi dia udah pernah liat lo Nat, dia pasti bakal penasaran sekarang dan minta lo buat ngasih tahu gue ada dimana."
"Dan gue gak mungkin ketemu dia dengan keadaan gue kayak gini bang..." gumam Jordan.
Nathan terdiam dan menatap Jordan yang tampilkan wajah murung, ia bangkit dari sofa dan mendekati sodaranya.
"Little bro."
"Jo, liat Abang."
Jordan, menghela napas dan menatap manik biru kembarannya. "Jangan khawatir."
"Gue bakal pastiin Hazel baik-baik aja."
"Sekarang yang penting kesehatan lo, karena gue gak mau liat adik kesayangan gue terbaring sakit lagi."
Jordan terdiam dan menunduk sebelum sedetik kemudian kembali menatap sang kembaran dan tersenyum tipis. "Gue tahu, thanks big brother."
"And please, don't fall for him."
Nathan terkekeh dan mengusak surai adiknya. "I won't."
. . .
Matahari terlihat cerah, awan putih terlihat berguling-guling terbawa angin di atas langit biru. Seorang pemuda dengan seragam sekolah terlihat berjalan menuju sekolahnya.
Itu Hazel, yang seperti biasa berjalan sendirian ke sekolah. Sampai di depan sekolah ia tatap kiri dan kanan sebelum menyebrang, di depan gerbang dapat ia lihat anak OSIS sibuk memeriksa kelengkapan atribut para siswa.
Hazel, hentikan langkah dan menunggu giliran.
"Eh? Hazel? Langsung masuk aja Zel," ucap salah satu anak OSIS.
Hazel menoleh. "Saya boleh masuk?"
Anak OSIS itu mengangguk. "Iya, tanpa diperiksa pun gue udah tahu lo pasti lengkap atributnya, dah sana masuk."
Hazel berkedip, sebelum mengangguk kecil. "Terima kasih," ucapnya melangkah masuk ke sekolah.
Sampai di kelas dapat Hazel lihat keramaian di sekitar tempat duduknya. Ada apa ini??
"Zel!" Rafa, yang jadi salah satu orang yang mengelilingi bangkunya segera melangkah mendekati Hazel dengan senyuman lebar.
"Akhirnya lo dateng juga Zel!"
Hazel tatap Rafa yang terlihat antusias. "Ada apa Rafa?"
Rafa tersenyum dan menarik Hazel ke kursinya. "Orang yang lo cari-cari udah balik tuh."
"Orang yang saya cari-cari?" Rafa mengangguk.
Hazel berkedip dan mengikuti Rafa yang menariknya. Sedangkan anak-anak kelas yang tadi mengerubungi kursinya kini sudah bubar kala Jefran mengusir mereka.
Sampai di kursinya, Hazel dapat lihat surai pirang dan manik sehitam jelaga tersenyum menatapnya.
"Jordan?"
"Morning Hazel."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.