.・゜-: ✧ :- ωнєη тнє ѕυη мєєтѕ тнє мσση.
●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Hazel, tidak pernah tau apa itu senang, sedih, simpatik atau hal lainnya seperti itu. Ia tak pernah bisa mengerti mau seberapa kalipun ia membacanya. Rasanya memahami hal it...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam itu, Hazel bermimpi.
Mimpi yang selalu datang kala ia sakit dulu. Dalam mimpi itu ia seperti merasuki seorang anak kecil disebuah taman hiburan.
Mimpi itu selalu sama, di mimpi itu selalu diawali dengan ia yang bermain dan menaiki berbagai wahana dengan dua orang dewasa dan seorang anak kecil seusianya.
Segalanya terasa normal, hingga salah satu orang dewasa berpamitan untuk ke kamar kecil dan ia juga orang dewasa lain dan anak kecil yang memegang tangannya diam di depan bianglala yang akan mereka naiki setelahnya.
Semuanya benar-benar normal, sampai anak kecil di sisinya mulai merengek pada orang dewasa yang bersama mereka. Karena tak kunjung di gubris anak itu berlari meninggalkan mereka dan orang dewasa yang mengejarnya, meninggalkan Hazel sendiri disana.
Hazel kecil berjongkok sendirian, ia tak menangis atau apapun, anak kecil itu hanya sibuk memainkan tanah dengan jari kecilnya; membuat pola random, hingga bayangan besar menutupinya. Hazel kecil mendongak dan kegelapan lah yang selalu menjadi akhir mimpinya.
Namun, kali ini berbeda.
Surai pirang, dan wajah tampan juga senyuman yang menyilaukan bagai matahari adalah yang menyambutnya.
Hazel, berkedip. Sedangkan sosok pirang itu terkekeh melihat wajah lucu orang di depannya.
"Ngapain Zel? Ayo pulang."
Hazel, menatap ragu pada uluran tangan didepannya. Dengan gerakan pelan ia angkat tangannya yang tak lagi kecil, sedangkan sosok itu tersenyum lebih lebar kala tangan mereka bersentuhan.
Sosok itu kembali bersuara, tapi ketukan pintu dan suara bapa yang memanggilnya mengaburkan pendengarannya.
.
Hazel, membuka matanya dan berkedip. Ia menoleh pada gorden yang berkibar oleh angin diluar jendela.
Sudah pagi ...
Tak lama suara bapa kembali terdengar, buat Hazel segera bangkit dan membuka pintu.
Bapa tersenyum menatap Hazel yang ia yakini baru keluar dari dunia mimpi. "Baru bangun?" Hazel mengangguk sebagai balasan.
Bapa terkekeh dan mengusap pelan surai lembut pemuda di depannya. "Cepat bersiap, terus turun sarapan."
"Baik bapa, terima kasih." Bapa mengangguk dan berlalu, meninggalkan Hazel untuk bersiap.
Hazel menutup kembali pintu kamarnya dan mengambil handuk, tak sengaja maniknya menatap satu paper bag sedang diatas meja belajarnya.
Ia hampiri dan mengeluarkan isinya, satu kotak terbungkus kertas kado dengan motif awan dan bando telinga beruang. Hazel, tatap lama kedua barang itu, sebelum ia simpan bando di laci meja dan kotak yang terbungkus kado ia masukkan kedalam tasnya. Setelahnya ia kembali melangkah ke kamar mandi untuk bersiap.