Nyonya Kim sepertinya semakin menyukai Jessica yang apa adanya, meski mulutnya memang bicara tanpa basa basi tetapi ia tahu Jessica pribadi yang hangat, mungkin juga karena kesamaan dirinya dan Jessica yang sama-sama kehilangan. Terlebih ia tahu bahwa teman sekelas Taeyeon itu yang selama ini memberi semangat untuk putrinya.
Ia merasa rumah ini hidup kembali setelah dua kali Jessica datang. Nyonya Kim memandang potrait suaminya sebentar, rindu itu semakin hari semakin dalam tapi ia tak bisa berbuat banyak kecuali mendoakan mendiang suaminya. Nyonya Kim tersenyum pada potrait suaminya sebelum ia pergi ke dapur, membuatkan hidangan penutup untuk Jessica yang saat ini sedang melihat-lihat seisi rumah.
"Ini kamarmu?" Tanya Jessica ketika berdiri di depan sebuah kamar.
"Eh??" Taeyeon justru terkejut saat Jessica menanyakan kamar. "Nee."
Jessica mengangguk-angguk, "Boleh aku masuk?"
"No!! Untuk apa kau masuk kamarku." Jelas saja ia tak mengijinkan sebab kamar Taeyeon saat ini tidaklah rapi.
"Kenapa? Aku bahkan biasa ke kamar Eunjung sesuka hati, dia pun sama."
Taeyeon membuang napasnya berat, "Ya kalian sudah saling kenal sedari kecil, wajar kalian saling masuk kamar masing-masing. Sedangkan kita, kita--"
"Kita apa? Sama saja, bukan? Kita satu kelas. Aku juga sering tidur di kamar Hyoyeon, dia tidak masalah. Bermain game di kamar Sooyoung atau mengengerjakan tugas di kamar Yoona, ah kalo di kamar Tiffany dan Hyomin ataupun Hyunnie jangan ditanya, terlampau sering." Jelas Jessica yang justru menjabarkan kamar para sahabat.
Taeyeon memutar bola matanya untuk sekian kali karena Jessica ini sepertinya tidak paham situasi atau apa? Jelas saja Taeyeon tidak ingin kamarnya terlihat berantakan di mata orang yang ia sukai itu. Astagaaa~~
"Tetap saja tidak! Mau kita sekelas atau satu bangku atau apa, tetap saja tidakkkkkkk!!!" Teriaknya karena Jessica justru sudah masuk ke kamar Taeyeon begitu saja. "Ya!!!!!"
Taeyeon buru-buru masuk. Membereskan baju yang masih belum masuk ke lemari. Membereskan buku-buku yang masih berserakan di meja belajar. Sementara Jessica melihat-lihat seisi kamar Taeyeon yang mungkin saja seluas kamar mandi miliknya.
Dilihatnya beberapa jurnal yang Taeyeon tulis dengan tangan, beberapa buku bacaan, terakhir Jessica melihat foto Taeyeon bersama sang Ayah. Jessica diam, diamati baik-baik potrait dua orang itu.
"Kau dekat dengan Ayahmu?" Ia mengambil pigura tersebut.
Taeyeon yang sedang merapikan tempat tidur, ia tunda aktivitasnya. Membalikan badan, melihat apa yang Jessica lakukan saat ini.
"Nee, setiap anak perempuan biasanya akan dekat dengan Ayahnya, yah termasuk aku." Jawab Taeyeon atas pertanyaan Jessica.
Gadis yang masih memegang pigura hanya bisa tersenyum miris, "Dekat apanya, tsk!!" Ia mengumpat karena dirinya sama sekali tidak dekat dengan sang Ayah, boro-boro dekat, yang ada ia disiksa supaya menjadi yang ia mau.
"Ya??" Taeyeon memastikan, Jessica bicara dengannya atau tidak.
"Aniyaaa." Ia meletakan pigura lebih dulu, berjalan menuju tempat tidur Taeyeon.
Jessica duduk disana, menepuk-nepuk kasur yang tidak terlalu empuk seperti punya dirinya. Sedangkan Taeyeon pun ikut duduk di sebelah Jessica, melirik sekilas pada gadis yang ada di depannya.
"Ya Kim Taeyeon, kau nyaman berada di kelasku?"
"Eh??" Tentu saja Taeyeon bingung dengan pertanyaan tersebut.
"Otakmu bisa menerima semua pelajaran yang ada di kelas Eksekutif? Sejauh ini kelas kami itu berbeda dengan kelas Legislatif maupun Yudikatif, pelajaran kami taraf Internasional. Kau nyaman dengan semua itu??" Jessica menoleh pada teman sebangkunya.
