Kim Minjeong membuka lembar demi lembar foto yang sudah Karina cetak hasilnya.
"Jadi dia ke apartemen temannya?" Gumam Minjeong.
Karina yang sedari tadi memperhatikan Minjeong tersadar, "Benar. Lihatlah mereka bertiga, terlihat serius sekali. Hanya teman biasa kan?"
Minjeong meletakan lembaran foto tersebut, bersandar kursi kedai. "Entah, tapi interaksinya bersama Kelly masih membuatku curiga, Karina."
"Begini, kau tahu aku orang yang tidak suka bertele-tele, kan? Kita langsung datangi Lookkaew dan bertanya padanya semua yang membuatmu curiga, eotte? Kita harus berani Minjeong, dari pada akan mati penasaran."
Kim Minjeong tersenyum atas ucapan Karina yang begitu konyol, ia memandang lawan bicaranya itu. "Aku suka keberanianmu."
"Terima kasih, aku berani seperti ini karenamu juga." Ia menampakan senyum malu-malu pada gadis yang ia sukai itu.
Minjeong meneguk sojunya lebih dulu, "Baiklah, aku juga akan mencoba menjadi seorang yang pemberani. Kajja!" Ia berdiri, meminta Karina ikut bersamanya.
Karina membawa Minjeong ke kawasan apartemen milik SJ Group, dimana ia melihat Lookkaew berkali-kali keluar masuk area itu. Mereka berada di mobil seperti detektif yang mengintai tersangka.
"Ini, minumlah." Karina memberikan cokelat hangat supaya Minjeong tidak kedinginan menunggu di mobil seperti sekarang.
Minjeong segera menerima lalu menyeruputnya perlahan, "Ah enaknya."
Senyuman tergambar dari bibir Karina melihat gadis yang ia sukai meminum cokelat pemberiannya, "Minjeong-ah."
"Hmm?" Ia menoleh pada sumber suara.
"Kau mencemaskan seseorang?"
Minjeong terdiam, bagaimana Karina bisa membaca pikirannya? Tidak bohong memang ia mencemaskan sang Eomma. Sejak mendengar perbincangan Ibunya dan Menteri Ham, Minjeong menjadi orang yang tak seperti biasanya, ia mudah cemas apalagi setelah mendengar dari Karina melihat Lookkaew ada di Apartemen milik SJ Group, ia semakin cemas padahal tidak ada sangkut pautnya dengan sang Eomma tapi sekarang ia menjadi mudah curiga pada hal-hal yang membuatnya penasaran.
Adik dari Kim Hyoyeon itu mengangguk, "Banyak yang aku cemaskan, termasuk kau."
Karina terdiam tapi tak lama meraih tangan Minjeong secara hangat, "Aku disini bersamamu maka jangan cemaskan aku. Jika kau memang mencemaskan keluargamu, yakinlah bahwa semua akan baik-baik saja. Minjeong yang aku kenal adalah gadis yang luar biasa, pasti kau bisa menghadapi apapun hmm."
Berada di dekat Karian seperti sekarang membuatnya tenang, apalagi mendengar perkataan gadis itu semakin membuat ia merasa tak sendiri tetapi Minjeong belum bisa berbagi apapun berhubungan dengan sang Eomma, meski ia sangat cemas tapi sekarang berusaha tegas setelah Karina berkata demikian.
"Um, gomawo." Minjeong mencoba tersenyum meski masih belum bisa senyum dengan lebar.
"Minjeong, Minjeong. Itu dia---- look--- Lookkaew keluar!!!" Karina sedikit berteriak melihat Lookkaew sedang menghentikan taksi. "Kajja kita ikuti!!!"
Minjeong segera menancap gas, mengikuti taksi yang membawa Lookkaew. Sungguh, baru kali ini Minjeong mengejar mobil tak peduli keselamatan diri.
Taksi tersebut berhenti di salah satu kawasan apartemen. Minjeong dan Karina masih mengamati sejenak.
"Ayo Minjeong, kita segera pada tujuan kita." Karina lebih dulu turun dari mobil. Minjeong mulai ragu, tetapi Karina sudah lebih dulu berjalan mendekati Lookkaew yang berjalan masuk ke gedung apartemen.
