part 29 (2)

6.5K 298 4
                                        

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Pusing sekali. Seperti habis minum alkohol bergelas-gelas tadi malam. Yeah! Kayak aku minum saja. Aku tertawa dalam hati karena betapa rentannya aku dengan minuman satu itu, jangankan bergelas-gelas seperti asumsiku, minum seteguk saja mungkin aku sudah mabuk berat. Aaaaakh! Kepalaku kenapa sakit sekali seperti ini? Aku menggeleng mengurangi rasa sakitnya. Tapi tidak berguna, yang ada malah pusingku menjadi.

Shit! Kenapa sih dengan kepalaku?!

Aku mengusap dahiku, membuat aku berpikir keras, sakit kepala yang menyerang tidak menghalangiku untuk mengingat apa yang terjadi. Beberapa detik kemudian aku sudah ingat apa yang terjadi kemaren, eh? Apa tadi malam?

Memang amarahku tidak separah kemarin atau tadi malam, aku juga tidak perduli, tapi aku masih menyimpan benci yang begitu besar pada pria yang tidur di sofa itu. Mukanya bengkak semua karena seranganku.

Aku turun dengan perlahan dari atas ranjang, dapat aku rasakan dinginnya lantai marmer rs ini dan berjalan ke pintu kamar dengan mendorong tiang infus. Aku sedikit terhuyung saat akan membuka pintu karena aku membukanya agak cepat. Sampai di luar aku menengok ke kiri dan kananku. Sepi. Bukankah koridor rs selalu sepi?

Kalo rame mah pasar, rin! Kataku dan memutuskan berjalan ke arah koridor sebelah kanan. Aku memegang dinding dengan tangan kiriku menjaga-jaga siapa tau aku bisa terjatuh kapan saja. Sampai di ujung lorong, aku melihat meja informasi tempat berkumpulnya suster dan aku juga lihat beberapa dokter berkeliaran.

"suster..." panggilku pada suster yang paling dekat dari meja informasi. Dia terlihat kaget melihatku berdiri di sini tapi dengan cepat mengembalikan wajahnya datar dan sedikit senyum.

"ya ibu clairina? Ada yang bisa saya bantu?" tanya suster itu ramah.

"ruang rawat Andrew, dimana?" tanyaku to the point.

"Andrew siapa, bu?"

"Andrew Ethelind Wagner." si suster mengetik sesuatu di komputernya.

"maaf, bu. Bapak Andrew memang di bawa ke rumah sakit ini saat yang sama dengan bu clairina, tapi dua minggu yang lalu di bawa ke Singapura."

"dua minggu yang lalu? Memangnya berapa lama saya tidak sadarkan diri akibat benturan itu?"

"hampir satu bulan, bu clairina." oh my! Tapi kenapa aku rasanya cuma beberapa jam. Tapi aku malah pingsan hampir sebulan?! Setelah mengucapkan terima kasih aku kembali ke kamarku. Pikiranku penuh dengan satu pertanyaan. Andrew bagaimana sekarang? Aku berhenti berjalan, merasakan air mata ini mengalir lagi.

Andrew...

Tiba-tiba dimas datang memelukku, menanyakan beberapa hal yang tidak aku jawab, dan menggendongku masuk ke kamarku. Dengan hati-hati dimas menidurkanku di atas ranjang.

"Andrew dimana, dim?"

"di Singapura, sunshine."

"kenapa ga disini? Nemenin aku?!"

"..."

"kenapa bukan kamu saja yang di singapur sana? Andrew yang disini."

"..."

"jawab aku, dimas!"

"..."

"..."

"..."

"bisa kamu tinggalin aku?" dimas langsung menggeleng.

"aku ga akan pernah ninggalin kamu." aku mendengus sinis. Yeah! Ngomong aja sana sama tembok!

My Crazy StudentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang