part 8

10K 536 4
                                        

Pov irina

Hari pertama masuk sekolah semester genap aku merasa senang. Aku senang saja, mungkin habis dari liburan gratis. Hihihi. Dimas memang membayar semua biayanya, aku hanya tinggal duduk dan bersenang-senang tanpa harus memikirkan berapa banyak uang yang kuhabiskan di kalianda resort itu. Dimas juga ga bakal langsung bangkrut lah, di dalam hidupnya lebih banyak yang mengalir itu uang daripada darah. Sebenarnya aku juga seperti itu, tapi kan aku lebih menghargai uang daripada dimas yang kerjanya menghamburkannya tanpa rasa bersalah.

Aku memasuki kawasan parkir sekolah yang masih sepi, tumben, biasanya jam sekarang parkiran sudah ramai. Aku rasa karena hari pertama masuk sekolah, jadi guru dan murid pada belum semangat sekolah. Pintu ruang guru terbuka setengah, di dalam juga sudah berisik. Aku mendorong pintu supaya aku bisa masuk, melihat aku masuk guru yang lain menatapku aneh. Kenapa mereka? Tanpa memedulikannya aku jalan ke mejaku. Ternyata vina sudah duduk manis disana.

"kenapa?" tanyaku sambil meletakkan tasku di atas meja. Vina berdiri dari kursiku dan mempersilahkan aku duduk.

"di rapor, kamu kasih berapa si dimas?" tanyanya to the point. Kenapa dia nanya begini?

"67 atau 69 aku lupa. Kenapa?" vina menghela napas. Dari wajahnya aku tau kalo aku membuat kesalahan. Memangnya kenapa kalau aku memberi nilai segitu dengan dimas? Nilai post test kurang, ulangan juga jauh dari kata bagus, jarang masuk, ulangan semesternya juga paling kecil, dan tugas tudak pernah mengumpulkan, apakah aku salah?

"pak sutomo ga suka nilai cucunya kecil, cuma di mata pelajaran kamu aja lagi, jadi dia..." vina berhenti untuk melihatku, aku mengangguk supaya dia melanjutkan ucapannya. "dia mau kamu ngajarin dimas sampe bisa, karena pak sutomo ga mau ntar pas ujian nasional ada yang ga lulus, apalagi cucunya, walaupun di satu mata pelajaran. Jadi kamu kayak ngasih privat gitu deh sama dimas."

"Tidaaaaaaaaak!!!" aku tidak perduli semua mata melihatku. Aku juga mendengar ada salah satu guru nyinyir mencemoohku di pojok ruang guru. Aku kesal. itukan bukan salahku kalau dimas nilainya kecil, teman-teman sekelas juga paham semua, jadi jangan salahkan aku dong kalo nilai dimas kecil. Aaaaakh!

Kenapa aku selalu bermasalah dengan dimas bratajaya?!!

---------------------------------------

Hari ini aku langsung memberikan pelajaran tambahan ke dimas. Aku capek sekali, semester genap memang yang paling melelahkan. Apalagi aku harus mengajar untuk les di sekolah, pas pulang bukannya istirahat malah mengajar dimas lagi. Aku heran dengan anak ini, dia pasti lebih lelah dariku. Habis belajar tambahan denganku dia langsung pergi bimbel. Tapi dia masih segar segar saja tuh. Aku meminta kalau belajar tambahannya di lakukan di rumahku, karena aku tidak mau berepot repot ria untuk hanya mengajar dimas beberapa jam. Aku rasa juga biar dimas merasa nyaman belajar di rumah daripada di sekolah, jadikan dia lebih mengerti pelajaran.

"mau minum apa?" tanyaku, walaupun dimas menyebalkan, aku tetap harus ramah kan kepada tamuku?

"yang dingin ya mbok, ada jus jeruk ga?" sial, anak ini malah ngelunjak. Aku menggeleng. "jus mangga?" aku menggeleng. "jus apel?" hah? Dia pikir ini restoran apa?!

"ga ada, minta geh jangan yang aneh aneh sih!" dimas tertawa. Bener-bener yah...

"hihihi, Yasuds aku mau sirup aja deh bu, terserah sirup apa, tapi jangan di masukin sama racun tikus yah bu, aku tau pasti ibu ada niat buat ngeracunin aku, dari dulu lagi." wah, dia punya bakat membaca pikiran orang, tadinya aku tidak mau memberi racun tikus, tapi racun... Nyamuk. Hihihi. Aku memberikan sirup pesanannya. Dia meneguk setengah gelas, dan tiba-tiba menyemburkan air sirup itu kemukaku. Sial! Dia kira dia dukun apa main sembur sembur aja?!

My Crazy StudentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang