Pov irina
Seperti Déjà vu, aku menyibakkan selimut yang ada di atas tubuhku. Aku melihat langit langit kamar, warna hitam dengan stiker bintang kecil kecil dan menyala waktu gelap. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Aku mencoba mengingat aku dimana.
Oh iya, aku sedang berada di kamar dimas di apartemennya. Aku mengusap wajahku. Detik ini aku mulai menyesali keputusanku untuk ikut dia ke sini. Dimas sudah besar, kenapa mesti di temenin mau wisuda. Biasanya juga kalau di sini dia sendiri kan? Aku membuang napas kesal. Aku masih ingat tatapan kesal Andrew saat aku meminta izin supaya menemani dimas. Kemudian Andrew tersenyum, dia membiarkan aku pergi asal aku hati-hati. Aku juga harus memberitahukan Andrew kalau aku sudah sampai. Aku menepuk jidatku, aku lupa. Dengan segera aku mengambil hapeku dan menelpon Andrew, tetapi tidak di angkatnya. Aku mengulangi panggilan sampai tiga kali, tetap tidak diangkat. Aku pun mengirimkan pesan singkat yang berisi aku sudah sampai di hotel. Aku tidak mau Andrew tambah kesal karena aku menginap di apartemen milik dimas. Mungkin Andrew sedang ada pasien, nanti dia akan menelepon aku.
Aku bangkit dari ranjang dan berjalan ke luar kamar. Aku mengamati apartemen dimas, terlalu rapi buat dimas. Apa Calysta sering datang jadi apartemen dimas menjadi begini? Kemudian aku terkekeh geli, kan Calysta itu tunangan dimas, bukan pembantu. Tapiiiii, Calysta memang lebih cocok jadi pembantu daripada tunangan, karena sikapnya yang enggak banget itu.
Karena aku haus, aku berjalan ke dapur. Herannya lampu dapur masih menyala, sedangkan ruangan lain gelap. Sampai di dapur, keadaan di sini membuat aku kaget. Dapur berantakan, dimas tertidur di meja makan, dan didepannya sudah tersedia yang aku perkirakan adalah makan malam untuk kami berdua.
"dim... dimaaas..." aku mengguncang bahunya. Dimas membuka satu matanya, dia tersenyum kecil. Dimas menegakkan tubuhnya dan menguap. Dimas menyuruhku duduk di sampingnya. "kenapa ga bangunin aku?" dimas tersenyum. Dia menuangkan dua sendok besar nasi ke piringku, setelah itu dia menaruh beberapa lauk di samping nasi tadi. Barulah dia meletakkan piring yang berisi makanan di depanku.
"aku ketiduran." jawab dimas sambil tertawa. Aku hanya tersenyum kecil. Dimas juga menuangkan susu ke dalam gelas yang sudah tersedia di atas meja. Aku agak kaget, karena susu mereknya sama dengan yang biasa aku minum di rumah. "dimakan, rin. Jangan ngeliatin aku terus." kata dimas. Dengan kaku, aku menyuapkan beberapa sendok ke dalam mulutku. Kami makan dalam diam.
Setelah selesai makan, aku mencuci piring kotor yang dipakai aku dan dimas. Tadinya dimas menolak, karena aku memaksa, dimas akhirnya menyerah dan membiarkan aku mencuci piring. Dimas menunggu di ruang tengah sambil menonton tv, saat aku selesai aku duduk si samping dimas. Wajahnya terlihat lelah. Aku hanya diam. Kami diam, membiarkan pembaca berita berbicara dengan bahasa inggris yang cepat tapi masih bisa aku tangkap. Aku merasakan bahu kiriku berat dengan tiba-tiba. Aku menoleh, dimas memejamkan mata, mungkin tidur, menyenderkan kepalanya ke bahuku. Aku tidak tega membangunkannya. Aku membiarkan kepalanya di bahuku lama, sampai aku susah untuk menggerakkan tangan kiriku.
Perlahan aku membaringkan tubuh dimas di sofa. Aku melangkah sepelan mungkin supaya dimas tidak terbangun. Sampai di kamar, aku membuka lemari mencari selimut, agar dimas tidak kedinginan di luar. Aku langsung menarik selimut dan sesuatu jatuh dengan cukup kencang ke lantai. Sebuah buku. Tempat yang aneh untuk menyimpan buku. Aku mengambil buku itu dan meletakkannya lagi di tempat semula. Sebenarnya aku penasaran, tapi kalau sebuah buku di simpan di tempat yang tidak wajar, bukankah itu rahasia? Aku tidak mau di anggap tidak sopan karena rasa penasaranku yang kadang berlebih. Aku memandang buku itu lama. Buku rahasia? Hmmm, semacam diary kali ya. Aku menyentuh sampul diary yang bergambar polos itu. Dimas punya diary?
Aku terkekeh. Dimas punya diary? Yaaaaa ga salah sih. Aku mengambil lagi diary dimas, menimbang apakah aku mau membacanya apa tidak, aku penasaran. Baru saja aku akan membukanya, selimut di tangan kiriku mengingatkan aku kalau aku harus memberi selimut ini ke dimas, karena udara disini berubah menjadi agak dingin. Aku menaruh diary tadi ke tempatnya dan menutup pintu lemari. Tidak, aku tidak mau membacanya, tidak sopan. Aku mengendap-endap lagi, sampai di depan dimas, aku merentangkan selimut dan memakaikannya di atas tubuh dimas.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy Student
RomansaSeumur umur aku menjadi guru, aku tidak pernah mendapat murid segila Dimas, cucu dari pemilik yayasan tempat aku bekerja. Dimas tidak pernah berhenti menghina aku sebagai guru yang tidak kompeten, tidak menguasai materi, dll. Padahal kan dia masih k...
