part 21

6.6K 304 3
                                        

Pov irina

Aku sedang membersihkan rumahku setelah pesta tadi malam, tiba-tiba Pintu depan di gedor dengan tidak santai sama sekali. Aku berjalan dan membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.

"Calysta?" Aku bertanya dengan ragu. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa wanita cantik yang sedang berdiri dengan angkuh dan siap menerjangku ada hadapanku?

"mana tunangan aku?" tanyanya dengan menekan kata tunangan, telingaku sudah panas mendengarnya.

"dia udah pulang." jawabku datar.

"udah tau tunangan orang, masih aja yah." kedua tangannya sekarang sudah berada di pinggangnya. Dia melototin aku dari atas sampai bawah. "aku tau dia masih di sini." Calysta mencoba menerobos masuk, tetapi aku menghalangi dengan tubuhku. "awas!" dia membentakku dan mendorong tubuhku. Aku terhuyung dan jatuh di anak tangga di belakangku.

"dimas!" Calysta berteriak. Aku berdiri dan pusing menyerangku. Calysta berteriak lagi, dan kali ini lebih keras.

"udah di bilang juga dia udah pulang, ngeyel banget sih jadi orang!" aku membentaknya, emang dia aja yang bisa? "kalau ga percaya telpon aja sana orangnya!"

Calysta mengambil hapenya di tas, menelpon dimas dengan kesal. Dia memasukkan lagi hapenya ke tas karena tidak diangkat. Aku mengambil hapeku dan menelpon dimas, langsung di angkat saat dering ke empat.

"dimas, kamu di mana?" tanyaku tanpa basa-basi. Aku juga loudspeaker hapeku supaya Calysta juga bisa dengar dimas dimana.

"aku udah di rumah, rin. Kenapa?" ingin rasanya aku berteriak kalau tunangan dia tercinta sekarang berada di ruang tamuku.

"gapapa, cuma mau ngecek kamu udah sampe rumah apa belum."

"aaaaw, perhatian banget. Tambah cinta deh." wajah Calysta memerah mendengarnya.

"hmmm, itu aja, bye."

"bye. Thanks for last night." Aku pun memutuskan sambungan telepon. Calysta menatapku marah. Aku tau dia sudah salah paham, dimas berterima kasih kepadaku Karena aku sudah membuatkan dimas Graduation party, bukan yang lain.

"bitch." katanya sambil menunjuk ke arahku. Tiba-tiba tangan kanannya menampar pipiku. Aku terkesiap. Belum pernah ada yang menamparku. Aku hanya memegang pipi kiriku yang terkena tamparan dari Calysta. Bukan karena tamparannya yang membuat aku sakit hati, tetapi perkataannya yang berkata aku 'bitch' itu yang sebenarnya tamparan yang sesungguhnya untukku. Memang benar, aku bitch. Wanita mana yang tidak dibilang murahan saat dia bermain dengan tunangan orang? Aku tau aku salah. Calysta menampar pipiku yang satunya. Aku pantas untuk itu.

"jadi kamu udah ngasih apa sama dia? Tubuh kamu?" tanya Calysta. Wowowo, wait a second. Aku memang sudah 'bermain api' dengan tunangan orang, tetapi aku tidak senista itu untuk memberi tubuhku kepada dimas. Aku menatap dia, marah. Calysta hanya memandang remeh diriku. Aku menampar pipinya yang mulus itu.

"aku ga pernah begitu sama dimas!" kataku tegas. Aku sudah akan meledak mendengar Calysta mencemoohku.

"oh ya? Berapa juta kamu di kasih dimas buat semalam?" aku tidak semurahan itu!!! Aku kembali menampar Calysta. Dia tertawa sinis.

"jaga omongan kamu ya!" teriakku. Calysta menjambak rambutku, aku sampai jatuh terduduk karena dia menariknya sampai bawah. Beberapa helai rambutku tertinggal di tangannya, Kulit kepalaku rasanya mau lepas sangking sakitnya jambakan dari Calysta. Dia juga menendang tulang kering dengan sepatu dia yang terbuat dari kayu. Tidak hanya itu, dia juga menancapkan heels sepatunya yang tajam itu ke pahaku, aku hanya bisa meringis dan berteriak kesakitan.

My Crazy StudentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang