Pov dimas
Sudah tiga hari bu irina tidak masuk sekolah, digantikan dengan mbak vina. Katanya sih bu irina tidak masuk sekolah karena ada urusan di luar negeri, tapi buat apa dia pergi? Aku juga diam diam mengamati rumah bu irina, mobilnya tiga hari ini memang disitu situ saja tanda tidak di pakai pemiliknya. Aku kangen dengannya, mendengar ocehannya, cemberutnya. Ah, aku malah tambah kangen kepadanya. Aku memperhatikan guru fisikaku menjelaskan soal soal, di akhir masa sekolah pasti diberi banyak soal. Sebenarnya aku sudah muak melihat berbagai jenis soal yang sebetulnya itu itu saja, hanya cara menjawab dan ketelitian menjawabnya yang di perlukan. Aku mencoba untuk tidur, memperhatikan guru ini mengajar seperti meninabobo kan siswa. Aku menelungkupkan kepalaku dan menghadap ke kanan, aku menutup kedua kelopak mataku. Suara guru menjelaskan makin lama makin sayup. Aku mendengar suara bu irina. Memanggilku. Oh god, betapa rindunya aku dengan suara itu. Boleh bilang aku lebay, tapi aku juga sudah mulai gila. Yappp, gila karena bu Irina. Aku mencoba menghampirinya, dia malah menjauh dan menjauh dariku.
"dimas, mending kamu menjauh dari aku, kamu selalu buat hidupku susah." aku merasakan jantungku berdetak kencang dan berhenti. Sakit sekali rasanya. Begitukah aku dimatanya? Aku berteriak sekuat tenaga, sampai aku tersentak dan bangun. Aku melihat ke sekeliling kelas, ternyata aku cuma mimpi. Tapi rasa sakit di jantungku masih terasa. Aku mengusap dada kiriku.
"kenapa dim?" tanya teman sebangkuku.
"gapapa." jawabku sambil menunduk melihat dada kiriku. Sepertinya ini pertanda kalau bu irina memang mau menjauh dariku apa bu irina dalam bahaya? Tanpa pamit aku keluar dari kelas dan mencari mbak Vina. Aku harus tau sekarang bu irina lagi dimana.
-------------------------------------
Di saat yang sama
Pov irina
"kamu ngapain disini?!" teriakku.
"gitu cara kamu nyambut mantan pacar?" kata farel, muka datar seperti biasanya. Aku melakukan pengamatan cepat. Dia masih seperti yang dulu. Tapi bertambah ganteng, tepatnya. Jujur masih ada rasa di hati untuk pria bajingan ini. Tapi rasa itu aku kubur dalam sedalam dalamnya. Melewati inti bumi mungkin, lebay. Dia merentangkan tangannya, ini kebiasaan kalau aku lama tidak bertemu dengan farel, aku pasti akan memeluknya. Kali ini, Aku lebih baik guling guling di lumpur seperti babi daripada harus memeluknya, yang bahkan lebih rendah daripada babi. Mungkin dia cacing yang ada di tubuh hewan tersebut. Grrrr! Aku mulai mengumpat. Perbendaharaan kata kata hinaanku makin berkualitas semenjak farel berselingkuh dengan pengkhianat satu. Farel tau aku tidak akan memeluknya, dia yang malah memelukku erat. Aku tidak sempat menghindari karena kejadiannya sangat cepat.
"lepas!!!" orang-orang yang ada di Ruang tunggu ini melihatku dan farel aneh.
"lepas! Lepas!! Lepaaaaaasin aku!!!" aku memberontak, tidak ada yang membantu karena Mereka pada sibuk dengan urusan masing masing.
"kamu mau teriak lepas juga ga ada yang bantu kamu Irina." sial.
"let go of me, You son of the bitch!!!" Mendengar umpatan kasar, orang-orang disekitar malah melotot ke arah farel dan aku, dan kembali ke aktivitas masing-masing. astaga, telingaku mendengarnya saja panas. Aku tidak pernah mengeluarkan kata-kata sekasar itu. Oh god, forgive me! Ini semua gara-gara farel, kalau saja dia mau melepaskanku, bibirku masih suci dari kata kasar itu. Astaga, aku juga merasa bersalah kepada ibunya farel. Aku menyukai ibunya, sosok yang ramah dan menyayangi aku seperti anaknya sendiri, yang notabenya beliau adalah mantan calon mertua. Secara tidak langsung aku menyebut ibunya bitch. Oh nooooo. Maafkan aku juga tante. Saya tidak bermaksud mengatakan tante bitch, anak tante yang memang seperti anak setan. Oh hell, aku malah secara tidak langsung juga mengatakan bapaknya setan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy Student
RomanceSeumur umur aku menjadi guru, aku tidak pernah mendapat murid segila Dimas, cucu dari pemilik yayasan tempat aku bekerja. Dimas tidak pernah berhenti menghina aku sebagai guru yang tidak kompeten, tidak menguasai materi, dll. Padahal kan dia masih k...
