Pov irina
Pusing adalah hal pertama yang menghampiriku. Kemudian bingung, ini aku sekarang dimana? Tidak mungkin di kamarku, karena kamarku tidak seluas dan seberantakan ini. Aku mengedarkan pandangan lagi, menurut perkiraan sementara ini kamar cowok dilihat dari barang-barang yang ada di sini. Kenapa aku bisa sampai di sini? Aku mengingat ingat lagi apa yang terjadi sebelum aku berada di sini. Aku ingat kalau aku sedang menemani dimas ke pesta ulang tahun kantor kakaknya alias pacarnya vina, kemudian aku menarik dimas untuk menemani aku mencari makanan. Sampai di depan stan makanan aku melihat orang, hmmm dua orang yang membuat aku galau hari itu. Hari ini hari apa? Aku mencari tasku di kamar ini, kok tidak ada yah? Aku masih asik mencari tasku, aku melihat figura di atas meja belajar, aku mengenal salah satu orang yang ada di foto itu, tio dengan baju seragam smp, sedangkan tiga orang yang lain tidak aku kenal, yang kecil memakai seragam SD. Ga mungkin kan aku ada di kamar tio, bisa di bunuh aku sama vina. Tiba-tiba pintu kamar ini di buka dan dimas masuk.
"saya lagi dimana?" tanyaku, dimas memakai baju santai, dan celana pendek, rambut masih basah, mungkin habis mandi.
"di rumah aku, kemaren ibu pingsan di pesta itu."
"kenapa ga dibawa ke rumahku aja?"
"ntar orangtua ibu khawatir, ntar aku ga boleh ngajak ibu pergi lagi dong."
"ya bagus dong kalo kamu ga ngajak saya pergi lagi."
"kenapa?"
"karena kamu nyebelin banget jadi orang, saya jadi pusing ngeliat kamu." dia diam saja. Muka dia agak agak sedih gitu, yaelah dikatain nyebelin aja langsung sedih gitu. Aku mengedarkan pandangan lagi, kemana sih tas itu?! Pusing menghinggapiku, aku duduk di tepi ranjang sambil menunduk
"aaaaaaaaaa!!!" astaga, kok aku baru menyadari kalau baju yang aku pakai sekarang bukan baju yang aku pakai kemaren waktu masih di pesta, baju yang aku pakai sekarang kaus yang jelas jelas kebesaran dengan badanku, sehingga menutupi setengah pahaku. Siapa yang menggantikan?! Dimas melihatku aneh, seketika aku menutupi kedua pahaku yang sedikit terekspos ini.
"ibu kenapa sih? Teriak teriak aja, kalo ada yang denger, ntar di sangka aku ngapa ngapain ibu."
"baju saya kok bisa ganti? Siapa yang ganti?" teriakku, jangan jangaaaaan?!
"menurut ibu siapa yang ganti?" dia tersenyum evil.
"Tidaaaaaaaaak!"
"ssstt, berisik sih bu! Bukan aku yang ganti, si mbok tina yang ganti. Emangnya aku mau gitu ganti baju ibu? Ogah banget!" sial.
"terus kenapa bisa diganti?"
"hmmm itu, ibu aku siram pake air, aku bingung ibu ga bangun bangun, jadi aku siram aja." katanya dengan muka datar. Aku melongo. Dia kira aku tidur apa yah sampe di siram air? Bego!
"terus baju saya sekarang dimana? Tas saya juga."
"bajunya belum kering bu. Kalo ibu mau make baju itu sih gapapa, tapi jangan salahin aku kalo ibu masuk angin yah. Pake itu aja gapapa loh bu, ibu jadi seksi." apa?! Aku melotot. Dan lagi lagi menutupi pahaku. Dimas berjalan ke arah lemari dan mengambil tasku di dalam sana. Dia menarik tanganku dan meletakkan tasku di telapak tanganku. Aku langsung menarik tanganku, tapi ditahan olehnya. Aku menatap matanya dengan tajam, mengisyaratkan untuknya untuk melepaskan tanganku. Dia menggenggam lebih erat lagi.
"lepas…" desisku. Dimas langsung melepaskanku. Aku melihat isi tasku, semua ada, kecuali hape.
"hape saya mana?" dia mengambil sesuatu di kantong celananya dan mengeluarkan hapeku dari sana. Apa dimas melihat lihat isinya? Tapi kan tidak mungkin karena hapeku kukunci dan hanya aku yang tau kuncinya. Dia menyerahkan hapeku seperti cara dia menyerahkan tasku. Tapi kali ini dia menggenggam tanganku lebih keras. Aku mencoba menarik tanganku, tapi tidak bisa. Aku juga berkali-kali berkata untuk melepaskan, dia sepertinya tidak ada niatan untuk melepaskan tanganku. Bukannya melepaskanku dia malah menarikku dengan sekali sentak. Dimas memelukku erat. Oh tidak, ini tidak benar. Aku memberontak, tapi lagi lagi tidak bisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy Student
RomansaSeumur umur aku menjadi guru, aku tidak pernah mendapat murid segila Dimas, cucu dari pemilik yayasan tempat aku bekerja. Dimas tidak pernah berhenti menghina aku sebagai guru yang tidak kompeten, tidak menguasai materi, dll. Padahal kan dia masih k...
