Pov dimas
"disini kamu rupanya." aku dikagetkan dengan suara bass dari dad ketika aku melewati ruang tamu. "baru pulang?" ternyata di ruang tamu ini tidak hanya ada dad, ada tante laras, Calysta? Dua orang di samping kanan dan kirinya aku tidak tau.
"iya dad, baru pulang."
"kenalin dulu, ini oom anwar, dan tante mayang, dan ini Calysta, kamu kenal kan? Katanya dulu kalian satu sekolah."
Aku hanya mengangguk dan masih tidak mengerti kenapa ada Calysta dan kedua orang tuanya. Tante mayang menatapku lama, dan mengatakan sesuatu kepada oom anwar.
"ada baiknya kamu mandi dulu apa gimana gitu deh dim, soalnya kamu berantakan banget, nanti abis kamu mandi ada yang bakal kami sampaikan ke kamu." aku mengangguk lagi dan berjalan ke kamarku di lantai dua.
Setelah mandi aku memakai baju dan mengecek hapeku. Tidak ada tanda-tanda Irina menghubungi aku, hhhh, selalu saja aku yang menghubungi duluan. Aku pun meletakkan hapeku di kasur dan berjalan ke ruang tamu. Aku duduk di samping dad, otomatis berseberangan dengan Calysta, dia melihatku licik, kenapa dia?
"nah dimas, dad mau kamu menikah dengan Calysta." kata dad to the point. Aku... speechless! Menikah? Dengan Calysta? No way! Satu satunya orang mau aku nikahin adalah Irina, mana mungkin aku mau menikah dengan Calysta. No no no!
"Enggak." jawabku tegas. Kedua orang tua Calysta melihatku tidak percaya. Calysta hanya tersenyum.
"kamu ga mau seenggaknya kenal dulu dengan Calysta, dimas?" kata tante mayang.
"enggak." jawabku lagi.
"oom, kalo dimas ga mau nikah sama aku, aku sama dimas bisa tunangan dulu. Karena kan kami masih terlalu muda untuk menikah, kami masih 17 tahun."
"enggak! Ga ada namanya tunangan atau nikah sama kamu. Ga ada dan ga akan pernah."
"ide bagus cal. Pokoknya kamu dan dimas akan tunangan sebelum dimas berangkat ke Amerika."
"enggak dad. Aku. Ga. Mau."
"mas, denger sendiri kan kalo dimasnya ga mau. Jangan dipaksa." kali ini tante laras yang mengangkat suara. Seperti biasa, dengan suara yang dilembut lembutkan. Tapi... tumben dia membelaku.
"tapi dia harus, laras."
"kenapa aku harus menikah dengan Calysta? Aku masih bisa mencari wanita lain dad."
"karena... dad tau Calysta anaknya cantik, baik dan tidak macam-macam. Sangat cocok untukmu."
"gimana dad tau kalau Calysta cocok untukku?"
"pokoknya cocok. Kamu akan tunangan dengan Calysta sehari setelah kamu pengumuman UN."
"dad, aku sungguh ga mau tunangan dengan dia."
"kenapa kamu ngotot sekali tidak mau sih dimas? Calysta anak yang baik." hah! Baik dari mana? Dia belum tau saja kelakuan Calysta di luar.
"aku sudah punya pacar dad."
"putuskan dia dan tunangan dengan Calysta." tanpa memperdulikan sopan santun aku bangkit dan pergi ke luar rumah. Sampai di halaman depan aku menjambak rambutku. Aku tidak mau. Bagaimana aku mengatakan pada dad kalau aku sudah mempunyai wanita yang aku cintai. Walaupun aku tidak tau perasaan Irina kepadaku, tapi aku tidak mau berpisah darinya. Kami baru saja dekat.
"dimas..." aku membalikkan badanku dan ada Calysta di depanku. "mau kamu sekeras apapun menolak tunangan apa menikah denganku, pada akhirnya kamu akan menikah denganku."
"apa sih mau kamu cal?"
"uang kamu."
"keluarga kamu juga punya banyak uang, kurang apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy Student
RomanceSeumur umur aku menjadi guru, aku tidak pernah mendapat murid segila Dimas, cucu dari pemilik yayasan tempat aku bekerja. Dimas tidak pernah berhenti menghina aku sebagai guru yang tidak kompeten, tidak menguasai materi, dll. Padahal kan dia masih k...
