3 tahun kemudian
Pov irina
Aku menepikan mobilku di bahu jalan saat aku mendengar dering hapeku yang terus melantun. Aku mengubek ubek tasku dan tidak menemukan hape itu, padahal deringanya bertambah keras membuat kepalaku pusing.
"sabar wah!" ini malah aku yang tidak sabar, dan seketika membalikkan tasku, isi tas berhamburan di jok penumpang. Aku langsung mengambil hapeku dan menggeser tombol hijau. Vina menelpon.
"halo?"
"rin, dimas kecelakaan." kata vina di seberang sana, suaranya panik, napasku tercekat. Oh god.
...
Di sini aku berada, di Cambridge hospital. Setelah check in hotel terdekat Aku langsung meluncur ke sini. Di depanku dimas sedang tertidur, hmmm, koma tepatnya. Kepalanya di perban, tangannya di gips, aku tidak tau keadaan lain di tubuhnya karena di tutupi selimut.
Setelah menerima telepon dari Vina kemarin, aku langsung menelpon ayah untuk minta izin meminjam jetnya. Ayah tidak bertanya banyak buat apa aku meminjamnya. Di dalam jet, aku menelpon tio, dan barulah aku tau keadaan dimas Sebenarnya. Dimas terjatuh dari tangga, terpeleset mungkin, sialnya dia mendarat dengan salah. Kepalanya membentur duluan tangannya tersangkut di pegangan tangga, menyebabkan tangannya patah. Cukup mengerikan mendengarnya, dan lebih mengerikan lagi saat aku melihat keadaannya sekarang. Aku ingat benar, kalau beberapa jam sebelum Vina memberitahu berita itu, aku dan dimas sedang bersenda gurau. Dia bilang dia sangat sehat dan akan ketempat dosen pembimbingnya, dimas sedang menyusun skripsi untuk bisnis, kalau yang psikologi dia sudah selesai, keren memang. Dia benar-benar kuliah di dua jurusan, aku masih bingung bagaimana dia bisa mengatur waktunya. Memang musibah tidak ada yang tau.
"hei, dim. Apa kabar?" seketika aku menepuk jidatku. Pertanyaan yang sangat konyol. Jelas jelas dia tidak dalam kondisi yang baik. Aku menggigit bibir bawahku. Menatap dimas, dia berubah. Selama 3 tahun, dimas tidak kembali ke Indonesia, tapi kami tetap Keep in touch. Kadang lewat pesan singkat, atau kalau pagi sebelum beraktivitas dan malam sebelum tidur, dimas menelponku, dalam waktu di Cambridge atau di Indonesia, karena perbedaan waktunya 12 jam, aku akan tidur, dia baru bangun. Aku baru bangun dia akan tidur. dia menceritakan hal yang dia alami hari itu. Kalau sempat kami juga skype-an. Dimas kelihatan lebih kurus dari yang aku ingat. Dia juga keliatan lebih dewasa, tidak seperti bocah lagi.
Aku meletakkan tanganku di telapak tangannya, dingin. tidak ada kehangatan yang biasanya dia berikan padaku dulu. Tidak ada keisengan dimas yang membuatku kesal, atau muka sok sweetnya dia saat memberiku sesuatu. Perjalanan udara selama lebih dari 20 jam membuat otakku jadi melankolis.
"dim... cepet bangun, aku kangen kamu." kataku sambil menggenggam tangannya.
...
"dim, bangun. Ga bosen Yah kamu tidur? Udah seminggu loh." aku duduk di kursi di samping ranjang dimas. Dokter bilang karena kerasnya benturan yang diterima saat dimas jatuh, mungkin saja dia amnesia, tidak bisa di pastikan karena dia masih koma. Hhhh.
Kerjaanku seminggu ini cuma duduk disini, mengajak dimas mengobrol, mencubit pipinya, memukul tubuhnya yang tidak sakit, yaaaa siapa tau dia bangun, tidur sebentar di hotel kalau tio kesini, balik lagi, kadang aku menginap. Makan juga aku di kantin rumah sakit. Ngomong-ngomong soal kantin, perutku keroncongan. Aku melihat jam di dinding, sudah pukul 2. pantas saja, aku melewatkan makan siangku.
"dim, aku ke kantin sebentar yah? Makan dulu, kamu mau nitip apa? Soalnya makanan di kantin enak enak loh." tidak ada jawaban. "yaudah aku pergi dulu." aku berjalan dan keluar kamar dengan sendu.
Aku heran juga kenapa aku begini, toh juga aku dan dimas belum punya hubungan, hmmm, pacar mungkin. Aku kan ga tau, aku ga berpengalaman soal yang begitu. Aku akui, aku sudah membuka hatiku buat dimas, masih di kadar sayang padanya, itu yang membuat aku langsung terbang ke sini, takut dia kenapa-napa. Hmmm, dia memang kenapa-napa, soalnya dia tidak bangun bangun sudah seminggu, cuti dari sekolah mau habis lagi. Hapeku berbunyi, aku langsung mengambilnya, melihat siapa yang menelpon dan menggeser tombol hijau.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy Student
RomanceSeumur umur aku menjadi guru, aku tidak pernah mendapat murid segila Dimas, cucu dari pemilik yayasan tempat aku bekerja. Dimas tidak pernah berhenti menghina aku sebagai guru yang tidak kompeten, tidak menguasai materi, dll. Padahal kan dia masih k...
