Irina sayang.
Hai...
Kamu pasti bertanya kenapa tulisan aku serapih ini? Rahasianya adalah aku meminta mam untuk menuliskannya untukku, hihihi. Surat spesial yang aku -mam- tulis untuk kamu, calon istriku.
Sebenernya ada banyak, yap! Banyak sekali, yang ingin aku sampaikan ke kamu. Di hari pertama kalinya aku dan kamu ketemu aku ingin menyampaikan semuanya, tapi aku takut kamu malah merasa aku hanya orang aneh yang membual atau yaaaa semacam itu sama kamu. Jadi aku sebenernya bersyukur ternyata nenek kamu itu adalah pasien aku. Eits, jangan mikir kalau aku membuat nenek kamu ga sembuh-sembuh yaaa, aku udah berusaha supaya nenek kamu cepat sehat, walaupun kamu juga bakal kembali lagi ke indonesia kalau nenek kamu udah sembuh. Tapi gapapa, aku selalu punya cara buat ngeliat kamu.
Kamu tau ga kalau selama ini aku selalu memperhatikan kamu? Ga selalu juga sih, kayak waktu kamu wisuda S1 dan S2 aku dateng loh, aku juga udah bawa bunga satu bucket buat kamu. Tapi di samping kamu dulu ada farel.
Aku tau farel itu cuma manfaatin kamu, orang tua kamu juga, karena beberapa kali aku ngejenguk pap waktu masih ngehandle kantor yang ada di amerika aku ngeliat farel dengan yang aku tau sekarang ini adalah sepupu kamu sendiri. Aku mau bilang ini sama kamu dari dulu, tapi aku itu siapa sih dulu?
Aku bahagia pake banget waktu kalian ga jadi menikah, jujur aku seneng banget, aku masih punya kesempatan untuk dapetin kamu. Seenggaknya untuk kamu kenal aku dulu. Karena aku udah kenal kamu dari kita SD.
Aku jadi inget masa SD kita, kamu dulu pernah bilang mata aku bagus loh waktu kita kelas 3 SD, itu bikin aku seneng sama kamu, disaat semua temen-temen bilang mata aku yang biru itu aneh bagi mereka yang cuma melihat warna mata yang cokelat. Rasa seneng aku sama kamu terus berkembang. Sampe sekarang yaitu cinta. Aku nunggu dengan sabar kamu bakal kenal sama aku tapi ternyata Tuhan lagi baik sama aku, mempertemukan kita di taksi itu.
Oh iya, aku punya sesuatu buat kamu. Bukan sesuatu lagi sih, ada beberapa yang aku belikan buat kamu waktu aku di london. Beberapa diantaranya kado kamu ulang tahun yang ga pernah berani aku kasih ke kamu, yang akhirnya aku simpan di kamar apartemen aku di london. Kalau kamu sekiranya ada waktu dan sedang main ke london, kamu bisa ke apartemen aku itu. Alamatnya ada di belakang ya, biar kamu kalo jadi ke sana, ga usah ribet ribet buka surat ini karena udah aku buat di kertas yang terpisah. Pinnya itu ulang tahun kamu. Biar aku ga lupa sama kamu sih sebenarnya kenapa aku pasang tanggal ulang tahun kamu di semua pin aku, apartemen, ATM, sosmed, dan ponsel aku juga ulang tahun kamu. Kamu udah mulai parno ya sama aku? Hihihi, kalau aku jadi kamu sih aku juga takut ada yang segitunya sama aku.
Aku bukan terobsesi sama kamu, aku tergila-gila sama kamu. Apa itu sama? Kadang kalau aku bilang "aku cinta kamu" itu masih jauuuuuh mendeskripsikan perasaan aku sama kamu. Waktu itu aku udah pernah mencoba melupakan kamu karena aku akhirnya putus asa mengejar kamu yang bahkan ga pernah menatap aku, tapi malah aku yang makin terjebak sama kamu. Seharusnya mudah buat aku untuk melupakan kamu, secara jarak antara kita jauh dan kamu juga ga perduli sama aku, bukan lagi ga perduli ding, kamu ga pernah melihat aku malah. Terus juga aku ganteng begini, sebenernya setiap hari, ada aja yang nyamperin aku untuk ngajak kenalan, tapi aku aja yang ga mau, kan hati aku udah di lock sama kamu.
Saat teman teman aku di kuliah pada menikmati hidup dan masa muda mereka, aku sibuk belajar, aku takut kamu ga mau sama aku karena aku bego, guru waktu SMA juga udah ngejudge aku bego dulu, aku juga takut kamu ga mau memilih aku karena kamu ga mau punya kekasih yang masa depannya suram, jadi pas kuliah aku memeras otakku sendiri, membuatnya bekerja secara maksimal hampir 20 jam sehari, tubuh yang ambruk waktu pulang tengah malem, subuh lebih tepatnya, istirahat itu cuma aku lagi liburan semester. Kadang juga aku ga liburan, aku kerja part time juga, karena pada awal awal kuliah pap ga mau ngebiayain uang kuliah aku karena aku ga masuk di universitas yang pap mau, malah masuk ke kedokteran, pap dulu maunya aku masuk bisnis karena aku bisa meneruskan perusahan yang dari nol dia bangun. Tapi pas pap ngeliat ipk aku yang sempurna jadi pap akhirnya mau ngebiayain aku, meskipun begitu aku juga tetap kerja part time untuk bayar tiker pesawat UK - Indonesia, buat ketemu kamu. Karena pas aku udah mulai jenuh aku memutuskan untuk pulang sebentar ketemu kamu, abisnya aku pulang lagi ke london dengan semangat yang penuh biar cepat selesai kuliah, hihihi.
Cincin yang aku buat untuk ngelamar kamu itu juga adalah uang hasil awal awal aku jadi dokter. Aku tetap beli itu cincin tapi disaat yang sama aku tau kamu sama farel bakal menikah. Aku selalu berdoa sama Tuhan supaya aku dikasih kesempatan, dan Dia memberikannya yang ga akan pernah aku sia-siakan. And here i am.
Aku tau siapa dimas. Dia bukan pengawal kamu kan? Kamu juga sebenernya ga butuh butuh amat pengawal itu. Akhirnya aku penasaran dan yang aku dapat membuat aku tertawa, ada yaaaa orang sefrontal dan segila itu, dan itu membuat aku seperti pengecut sejati di banding dia. Apa lagi dia salah satu siswa kamu kan? Aku percaya pesona kamu itu luar biasa, tapi ternyata kamu juga bisa menggaet berondong ya? Hahahaha.
Tapi itu yang aku khawatir. Anak itu aku akui beraninya ga ada obat lagi, tepuk tangan buat dia, dia melakukan apapun untuk kamu disaat aku masih ragu untuk memampakkan diri didepan kamu. Aku selalu berkata kalau dimas itu rival yang sempurna. Double degrees yang dua-duanya cum laude dan dari Harvard. Apa lah aku yang cuma lulusan kedokteran ini? Hahahaha, aku terlalu merendah.
Jelas aku menang banyak waktu kamu menerima lamaran aku. Aku dapat lihat wajah menderitanya saat kamu bilang "iya". Fyi, dia ada di salah satu pojok restoran waktu aku ngelamar kamu. Kamu ga sadar ya? Aku sih ga heran, kan kamu orangnya ga peka. Ckckck.
Jujur aku kecewa sama kamu, aku merasa aku dibohongi dan dikhianati sama kamu waktu kamu bilang kamu hamil anak dia, sedangkan kita 6 bulan lagi menikah. Aku mau marah sama kamu, aku mau ngelampiasin semuanya, tapi aku ga bisa. Kamu terlalu berharga untuk menjadi pelampiasan kemarahan. Kamu yang lagi down, kamu shok, kamu ga terima malah bakal membenci aku kalau aku memojokkan kamu. Walaupun aku tau dimas pasti bakal tanggung jawab atas perbuatannya, aku ga mau ngelepasin kamu begitu aja. Dengan atau tanpa bayi itu aku ga akan pernah melepaskan kamu. Aku ga minta kamu menggugurkannya, aku juga takut kamu kenapa-napa waktu operasi nanti, mana tega aku membiarkan anak aku digugurkan, karena bayi kamu adalah bayi aku juga.
Karena bentar lagi aku pergi, eiiit, jangan sedih ya rin, semua udah diatur sama Tuhan begini, kita cuma perlu ngejalaninnya aja, aku berpesan sama kamu. Jaga bayinya dengan baik ya, rin. Aku tau kamu ga menginginkannya, tapi kamu harus tau kalau bayi itu berhak hidup dan kenal bagaimana dunia ini. Rawat dan sayangi dia sampai tumbuh dewasa. Aku bakal bantu kamu, hmmm, kalau kamu berkenan menerima uang aku yang ada di cek ini, aku bakal seneng banget. Semua keperluannya dari bayi sampe kuliah pakai aja uang itu, semoga cukup ya, rin. Oh ya, kalau perlu bantuan seputar bayi, kamu bisa tanya mam, dia pakarnya, hihihi.
Oh iya, kamu pasti bakal menikah sama dimas kan? Jangan tanya perasaan aku gimana, tapi aku bahagia buat kamu. Berhubung dia bakal jadi suami kamu, kamu perlahan buka hati kamu ya buat dia, sebenernya kamu sayang dia kan? Karena suatu hal kamu benci dimas dan kabur ke singapur, dengan alasan ngejenguk nenek kamu. Kamu kabur dari dia kan? Akui aja, rin. Kamu bisa bohongin aku, tapi kamu ga bisa bohongin diri kamu sendiri, kalau kamu sayang dia?
Bahagialah sama dia, rin. Aku tau dia bisa ngebahagiain kamu kalau kamu bisa membuka hati kamu lagi buat dia.
Good bye, Clairina. Aku melepaskanmu supaya kamu bahagia. Jangan tangisi aku. Semoga nanti di lain kehidupan kita bisa bersama ya? Soalnya di saat nanti itu aku mau egois, agar aku bisa sama-sama kamu.
Love,
Andrew
-----------------------------------------------------
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy Student
RomanceSeumur umur aku menjadi guru, aku tidak pernah mendapat murid segila Dimas, cucu dari pemilik yayasan tempat aku bekerja. Dimas tidak pernah berhenti menghina aku sebagai guru yang tidak kompeten, tidak menguasai materi, dll. Padahal kan dia masih k...
