"Maaa! Mamaaa!"
Seruan panggilan itu menyadarkan Gracia dari rasa kantuk. Ia angkat dagunya dari topangan tangan, bergegas berlari menuju pintu rumah. Itu pasti kedua anaknya yang sudah ia nanti-nanti.
Cklek!
Bukannya semakin sumringah setelah membuka pintu, senyuman Gracia malah seketika memudar, diganti dengan raut keterkejutan melihat Zee yang berada dalam gendongan Christy dengan kondisi babak belur.
"Astaga! Ini Kakak kenapa?!" Pekik ibu rumah tangga itu, menutup mulut.
"Adek jelasin nanti ya Ma. Sekarang Adek mau bawa Kakak ke kamar dulu. Adek udah panggil dokter ke rumah, kok." Kata Christy mencoba mempersingkat waktu.
Meski sebenarnya masih bingung dan ingin memberikan 100 pertanyaan, Gracia menahan dulu itu semua, memberikan jalan untuk Christy masuk.
Sean baru keluar kamar saat Christy sudah menaiki tangga. Ia menoleh bingung kepada istrinya. "Loh, itu kenapa Kakak digendong sama Adek?"
Gracia menjawab dengan gelengan kepala. Tapi Sean menyadari mata Gracia berair, jadi ia bertanya lagi. "Kenapa kamu nangis, sayang?"
Belum sempat Gracia mengangkat mulut, suara bel rumah berbunyi. Cepat-cepat ia membukakan pintu, tau kalau itu pasti dokter yang diminta Christy.
***
"Kalau dari gejala yang disebutkan, juga pola nyeri dan bengkaknya, kemungkinan besar ini retak mikro," kata Gaby, setelah menanyakan beberapa hal dan memeriksa kaki Zee yang cedera.
"Apa itu, Dok?" Tanya Gracia, meminta penjelasan lebih detail.
"Ada keretakan sedikit di tulang keringnya. Tapi ini baru dugaan saya, karena kalau ingin yang pasti, harus dirontgen di rumah sakit."
Sean, Gracia, dan Christy melirik ke arah Zee. Tapi tentu saja Zee memanyunkan bibir, menggeleng kuat.
"Tapi jangan khawatir. Ini bukan hal yang sangat fatal juga, bukan seperti patah tulang." Gaby membungkukkan badan, mengambil barang di dalam tas, yaitu perban elastis. Dengan hati-hati ia memakaikannya di area kaki kanan Zee.
Meskipun sudah sangat pelan-pelan pun, Zee tetap merasakan nyeri saat kakinya dipegang. Ia meringis menahan sakit selama proses pemakaian perban. Gracia membantu menguatkan dengan duduk di sebelah dan memegang tangan anaknya, sedang Sean dan Christy hanya berdiri melihat.
"Cukup istirahatin kakinya aja ya." Setelah selesai memakaikan perban, Gaby meminta beberapa bantal, lalu meletakkannya di bawah kaki yang cedera. Posisi kaki yang lebih tinggi itu guna membantu mengurangi pembengkakan dan meningkatkan aliran darah.
"Jangan lakuin aktivitas berat dulu. Kalau mau jalan, mungkin bisa dibantu sama orang rumah, atau bisa pakai kruk."
Zee mengangguk mengerti mendengar nasihat dokter langganan keluarga mereka.
Saat Gaby sudah merapikan barang-barangnya, Gracia bertanya lagi. "Waktu sembuhnya kira-kira berapa lama ya, Dok?"
Gaby tahu Gracia sangat khawatir dengan kondisi putrinya. Jadi ia menatapnya sambil memberikan senyum penuh ketenangan. "Cedera retak mikro bukan cedera parah yang merusak total kinerja kaki. Kalau Zee patuh, melakukan hal yang dianjurkan dan menjauhi yang dipantangi, tiga sampai empat minggu juga bisa sembuh."
Gracia mengangguk paham. "Terima kasih, Dok."
"Sama-sama. Saya pamit ya," Gaby menenteng tas perlengkapannya, lalu bangkit.
"Terima kasih banyak, Dok." Ucap Sean, menyatukan telapak tangannya.
"Biar saya antar ke bawah," Gracia membukakan pintu kamar, lalu pergi ke bawah bersama Gaby.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bertaut (ZoyToy)
Fanfiction𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙙𝙚𝙩𝙖𝙠 𝙟𝙖𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙪𝙩, 𝙉𝙮𝙖𝙬𝙖𝙠𝙪 𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖 𝙠𝙖𝙧'𝙣𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙢𝙪 - 𝙉𝙖𝙙𝙞𝙣 𝘼𝙢𝙞𝙯𝙖𝙝 "Jadi lebih baik dari aku ya Toy?" - Azizi Asadel Natio "Kamu harus lebih bahagia dari aku, Zoy." - An...