"Zoya!"
Christy tersentak dan membuka matanya, nafasnya terengah-engah. Dilihatnya sekeliling--lampu, lemari, meja, rak buku--tak ada yang aneh. Selimut yang menutup setengah tubuhnya juga warna dinding--semuanya sama seperti susunan kamarnya.
Perlahan ia bangkit untuk duduk dan mengucek mata sambil mengontrol deru jantungnya. "Mimpi?" Gumamnya dalam hati sambil menyentuh dada.
Diusapnya keringat di pelipis, lalu menyentuh sebelah matanya. Christy menarik nafas panjang, merasa lega yang dialaminya tadi hanyalah mimpi.
Jam menunjukkan pukul setengah enam--Christy harus segera turun dari kasur untuk bersiap sekolah. Setelah selesai, ia turun ke lantai bawah untuk sarapan dan bertemu dengan Zee yang telah lebih dulu duduk di meja makan.
Di meja makan, Zee asyik menyantap ayam gorengnya, menggunakan tangan kanannya untuk menyapu bersih daging yang ada di ayam paha bawahnya.
Namun gerakan mulutnya itu terhenti saat menyadari kembarannya yang berdiri di anak tangga, menatapnya lamat dalam diam.
"Ngapain ngeliatin kayak gitu? Ayo cepet makan, Toy. Nanti aku habisin loh."
Tersadar dari lamunannya, Christy mengangguk dan melanjutkan langkahnya, bergabung ke meja makan.
Zee tahu, Christy bukan tipe orang yang cepat dalam makan, bukan pula yang lambat. Kecepatannya normal. Tapi kali ini, entah mengapa yang ia perhatikan, saudarinya itu seperti lebih lambat dari biasanya. Gerakan sendoknya, kunyahannya, jeda suapannya--seperti makan sambil bengong.
Hal ini membuat Zee risih sendiri. "Kamu kenapa sih? Bengong mulu."
"Hah?" Christy menaikkan alisnya sebentar, kemudian lanjut fokus pada makanannya. "Engga, maaf."
Sejak pertama kali melihat Zee di hari ini, pikiran Christy kembali pada ingatan mimpi buruknya. Bukan takut, melainkan bersyukur karena kakaknya itu masih ada di sini, di depannya, melakukan aktivitas dengan keadaan sehat seperti biasa.
Kening Zee mengerut, menatap heran ke arah Christy, tapi tidak ingin ambil pusing dan lanjut menikmati makanannya.
Di sekolah, Zee memijat pelipisnya sambil membaca salah satu pesan yang terpampang di ponselnya. Pesan itu sudah masuk dari beberapa hari lalu, tapi sampai sekarang belum ia jawab karena bingung.
"Ini orang mau gimana lagi sih?" Gerutu Zee, menghela nafas gusar.
"Lo masih belum jawab pesan itu?" Tanya Kathrina, mencodongkan badan ke depan.
"Ya mau jawab apa? Gue juga bingung harus ngeladenin pakai gaya apa."
Adel memicingkan matanya. "Emang ga usah dijawab. Ga ada kerjaan banget orang kayak gitu."
Flora ikut menoleh ke belakang, menatap teman-temannya. "Tapi ini Aran loh. Terakhir kali dia berhasil nyelakain lo berdua," jarinya menunjuk ke depan si kembar. "Ga menutup kemungkinan akan ada tindakan ekstrem lainnya."
Zee menatap lagi ponselnya, diam untuk berpikir panjang. Perkataan Flora ada benarnya. Mengingat kenekatan Aran sebelumnya, laki-laki itu bisa dianggap sebagai ancaman berbahaya.
Jadi, haruskah lapor polisi secara langsung saja?
"Baru juga selesai ngurusin si Tasya Tasya itu, sekarang harus dihadapi sama si Aran Aran ini," Adel mengusap rambutnya gusar, lalu memandang Zee dan Christy bergantian. "Lo berdua kenapa jadi ketempelan sama orang-orang gila deh?"
Christy mendengus. "Mana gue tau? Merekanya aja yang aneh."
"Oh iya, si Tasya udah ga keliatan lagi. Dia kemana?" Tanya Marsha, baru teringat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bertaut (ZoyToy)
Fanfiction𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙙𝙚𝙩𝙖𝙠 𝙟𝙖𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙪𝙩, 𝙉𝙮𝙖𝙬𝙖𝙠𝙪 𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖 𝙠𝙖𝙧'𝙣𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙢𝙪 - 𝙉𝙖𝙙𝙞𝙣 𝘼𝙢𝙞𝙯𝙖𝙝 "Jadi lebih baik dari aku ya Toy?" - Azizi Asadel Natio "Kamu harus lebih bahagia dari aku, Zoy." - An...