27.

1.8K 315 45
                                    

"Ma, aaaa~"

Gracia menyodorkan potongan buah apelnya, lalu dengan cepat dilahap oleh Zee.

"Enak banget sih Ma, apelnya. Ini apel jenis apa?"

"Ga tau, Kak. Kan ini dari rumah sakitnya."

"Makanan rumah sakit enak-enak ya Ma."

"Itu artinya Kakak udah membaik. Kemarin-kemarin kan Kakak bilangnya ga enak."

Zee memajukan bibir, mengerutkan wajah. "Yaah.. kalau udah sembuh, ga bisa di rumah sakit lagi dong."

"Bagus dong. Bukannya Kakak dari kemarin juga pengen cepet-cepet keluar?"

"Iya sih.. tapi kalau dipikir-pikir lagi, di rumah sakit enak ya. Makan disediain, disuapin Mama, ga perlu belajar di sekolah, kerajaannya cuma tidur sama nonton TV aja."

Dengan gemas Gracia mencubit hidung Zee. "Malah keenakan anaknya."

"Biarin aja, Ma. Nanti kalau ga sembuh-sembuh baru tau rasa dia," sahut Christy dari ranjang sambil memakan snack kacangnya. "Aku sih mau masuk sekolah."

"Ga nanya sih, Toy," cibir Zee tidak peduli.

"Tuhan tau kamu kalau dikasih sakit keenakan, makanya dibuat cepet sembuh."

"Engga, aku tuh cuma menetapkan mindset selalu bersyukur aja. Kalau dikasih sehat, seneng. Tapi kalau dikasih sakit, ya harus tetep bersyukur," Zee mengangkat bahu, lalu menoleh ke arah ibunya, mengangkat alis. "Ya kan, Ma?"

"Bener tapi salah.." Gracia menggaruk kepalanya, bingung sendiri. "Ga gitu konsepnya, sayang.."

Christy memasang muka malas. "Tuh, liat, Ma. Anak Mama."

"Loh, kakaknya Adek itu.." Gracia mengerutkan kening, menggeleng.

"Bukan, Ma. Adek ga kenal."

"Mama juga engga, Dek."

"Wah, parah sih. Aku keluar aja deh," memasang raut muka sebal, Zee berusaha turun dari brankarnya.

"Yah, ngambek deh anaknya, Ma," Christy tertawa kecil, semakin menikmati mengejek kembarannya.

"Bujuk gih, Dek."

"Mama aja deh, Ma. Adek lagi ga mood."

"Ya sama, Dek.."

Zee menatap sinis keduanya bergantian. "Emang cuma Papa yang ngerti," ia mendengus, lalu melangkah menuju pintu.

Sambil tertawa Gracia menahan lengan anaknya. "Engga, Kak. Kita bercanda, kok. Ayo sini Mama suapin lagi."

"Ga mau, ah. Katanya Kakak bukan anak Mama," kata Zee masih cemberut.

"Eng-"

"Ya emang. Kan kamu anak pungut."

Tatapan tajam langsung terarah pada Christy yang memasang wajah polos. "Apa tadi?"

"Anak pungut," ulang Christy santai. "Anak pungut, anak pungut, anak pungut, anak pungut-"

"Eh, eh, udah, Dek.." potong Gracia menengahi, setelah melihat Zee yang melotot dan siap menerkam.

"Jangan begitu ke Kakak. Kan nanti ketahuan--ups," sambungnya lagi sengaja menggoda dengan nada jahil.

Dengan ekspresi terkejut, Zee memutar kepalanya. "Ih, Mamaaaaa!!" Serunya kesal, memukul-mukul pelan dada ibunya.

"Udah ah, aku beneran mau pergi!" Gadis itu melangkah sambil menghentakan kaki.

"Iya, iya. Bercanda, sayangku.." dengan cepat Gracia memeluk anaknya dari belakang, menahan tawa.

Zee tersenyum, membalikan badan untuk membalas pelukan. "Iya, Ma. Kakak juga bercanda kok ngambeknya. Kalaupun Kakak anak pungut, Mama tetep sayang kan?"

Bertaut (ZoyToy)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang