"Tadi sore sepulang sekolah, gue ke tempat sirkuit untuk mastiin apakah ada hal yang bisa digunain sebagai bukti."
"Terus gimana, Del? Dapet?" Tanya Zee penuh harap, membaringkan diri di kasur sambil tetap fokus mendengarkan pembicaraan di panggilan suara grup tersebut.
"Di gedung sirkuit ga ada CCTV, tapi gue berhasil dapet rekaman CCTV dari gedung seberang yang kebetulan ngarah ke lokasi," Adel terkekeh. "Ya walaupun si satpam gedung itu harus disogok dulu. Gelo emang."
"Rekamannya lengkap ga, Del? Cukup kuat?" Giliran Flora bertanya.
"Ga terlalu jelas untuk nampilin tiap wajahnya karena itu jauh. Tapi menurut gue ini udah bisa dijadiin bukti besar. Kita bisa nampilin bagian Zee digebukin sebagai bentuk pembelaan tindakan Christy."
"Yes!" Seru Kathrina senang. "Kalau gitu kita tinggal nyebarin ini doang kan?"
"Harusnya iya," ucap Marsha yang terdengar lega.
"Engga. Gue rasa kita perlu nyari tau juga siapa yang nyebarin ini sebelum ngasih bukti," tapi sebuah suara dengan cepat meredam kebahagiaan itu. Siapa lagi kalau bukan Christy dari kamar sebelah? "Kita harus tau semuanya dengan jelas supaya ga salah langkah."
Adel mendecak. "Kalau ga bisa ketemu gimana? Lo mau nunda-nunda sampai kapan? Mau nunggu sampai lo jatoh?"
"Gue ga bilang gitu," balas Christy, dengan nada tetap tenang. "Gue cuma pengen mastiin semuanya berjalan rapi. Kalau kita buru-buru, bisa aja pelaku ngasih ancaman baru. Mending kita cegah dulu sebelum terjadi."
Terdengar helaan nafas dari Flora. "Yaudah, karena ini menyangkut Christy, kita biarin bergerak sesuai kemauan dia."
Zee mengacak rambut frustasi. "Ini pasti ulah Aran! Gue pertama kali dapet videonya dari dia."
"Emang iya, Zee?" Tanya Marsha.
"Iya," Zee mengecek lagi room chat nya dengan Aran. "Dia- eh?"
Karena nada suara Zee yang tiba-tiba terpotong dan berubah seperti bingung, Kathrina jadi penasaran. "Kenapa, Zee?"
"Gue baru sadar.. video ini bukan asli dari Aran. Ini hasil forward dari orang lain," gumam Zee pelan, mengerutkan kening.
"Berarti video aslinya dari temennya. Bukan dia yang ngerekam. Dan bisa jadi.. ini nyebar di kalangan mereka?" Ucap Marsha khawatir.
"Gue juga ga yakin itu Aran. Soalnya emang dia tau kalau gue sama Zee masih hidup? Kalau dari sudut pandangnya terakhir kali, gue yakin dia udah nganggep kami mati," Christy mengeluarkan pendapatnya. "Buat apa dia repot-repot nyebarin video itu kalau dendamnya aja udah terbalaskan?"
"Diliat dari cara penyebarannya aja udah keliatan ga sih, kalau targetnya emang cuma untuk diliatin ke warga sekolah kita?" Flora ikut membeberkan analisisnya. "Dan waktu penyebarannya juga pagi hari ini, bertepatan sama Christy yang baru masuk sekolah lagi. Jadi menurut gue, kemungkinan besar, pelakunya anak sekolah kita."
"Oh, gue ngerti. Jadi orang di sekolah kita dapet videonya dari orang di sekolah Aran ya?"
"Iya, Tin, kayaknya gitu. Dia mungkin temenan atau punya suatu hubungan sama temen Aran itu," jawab Flora.
Suara gebrakan meja terdengar dari Adel. "Sialan, siapa sih?!"
"Kalau gitu gue bakal minta tolong ke anak OSIS yang megang akun base twitter sekolah untuk liat riwayat pengirim menfess," kata Marsha cepat. "Mungkin kita bisa dapet informasi dari situ."

KAMU SEDANG MEMBACA
Bertaut (ZoyToy)
Fanfiction𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙙𝙚𝙩𝙖𝙠 𝙟𝙖𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙪𝙩, 𝙉𝙮𝙖𝙬𝙖𝙠𝙪 𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖 𝙠𝙖𝙧'𝙣𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙢𝙪 - 𝙉𝙖𝙙𝙞𝙣 𝘼𝙢𝙞𝙯𝙖𝙝 "Jadi lebih baik dari aku ya Toy?" - Azizi Asadel Natio "Kamu harus lebih bahagia dari aku, Zoy." - An...