Dipta membuka pintu rumah kontrakan dengan langkah lelah, seakan dunia ini terlalu berat untuk dibawa sendirian. Di tangannya, ada setumpuk buku dan laptop yang rasanya lebih berat dari biasanya. Ia baru saja pulang dari kampus, setelah hari yang penuh masalah—dari BEM sampai urusan hati yang makin kacau. Semua itu dipicu oleh satu orang: Vanya.
Sesampainya di ruang tengah, Dipta melihat sahabat-sahabatnya—Senja, Jendral, dan Haikal—sudah duduk santai, dengan makanan ringan di meja. Mereka menatapnya, memberi tahu bahwa ada yang salah dengan ekspresinya.
“Woy, pak pres, muka lo kayak abis dikubur idup-idup, ada masalah apa?” tanya Jendral, mengangkat alis sambil ngunyah keripik.
Dipta langsung meletakkan tas dan laptop di meja dengan suara agak keras, seakan ingin mengekspresikan semua beban yang dia bawa. "Gue cuma bingung banget, Jend," jawabnya, sambil duduk di kursi dan menunduk, seperti orang yang baru kehilangan kunci motor.
Senja yang lebih perhatian langsung menatap dengan serius. "Apa lagi, Dip? Santai bae napa muka lu."
Dipta menarik napas panjang. "Gue tadi ngobrol sama Vanya."
Senja mengernyitkan dahi. "Terus? Dia apa bilang apa? Jangan bilang lu confess lagi terus ditolak?"
Dipta menatap Senja tajam. "Hmmmm... Bener, Gue tadi ngomong sama Vanya, dan dia bilang... dia nggak risih asama gue setelah gue confess ke dia."
Jendral berhenti mengunyah, matanya terbelalak. "Bentar, lo serius? Dia nggak risih sama lo? Wih, berarti ada harapan dong, ya."
Dipta mengangguk pelan, tapi ekspresinya tetap murung. "Iya, tapi kan dia nggak bilang suka juga, Jend. Cuma nggak risih. Itu kan nggak jelas."
Haikal yang selama ini hanya diam, akhirnya buka suara dengan logat Sundanya yang bikin semua orang berhenti sejenak. "Euleuh, jadi nu teu ngarti-nya jadi naon, dip? Bingung aing mah da."
Dipta menatap Haikal bingung. "Lo ngomong apa, Kal?"
Haikal menjawab dengan santai, "Nya... kudu dipahami, nge. Lamun dia teu risih ka maneh, hartina masih aya pangharepan. Kudu sabar."
Senja tertawa, "Wih, Kal, ngomongnya bijak banget. Lo jadi kayak motivator sekarang. Mario Teguh aja kalah."
Jendral ikut menimpali, "Bener juga, Dip. Kalau dia bilang gak benci, artinya lo masih bisa berjuang. Tapi, jangan sampai lo cuma kayak orang bodoh yang nunggu tanpa kejelasan."
Dipta mengusap wajahnya, tampak cemas. "Gue nggak ngerti, guys. Setiap kali gue deket sama dia, gue kayak... ada harapan kecil yang nggak bisa gue jelasin. Tapi, ya gitu deh, nggak jelas juga."
Haikal mengangguk bijak, meskipun semua tahu dia hanya sedang makan camilan. "Lamun hayang jelas, kudu ditempo deui. Sabaaaaar, Dip. Teu kabeh perkara bisa langsung jelas."
Dipta tertawa getir. "Ya elah, Kal. Lo gak pernah naksir cewek mana ngerti."
"Heh, bloon, emang aing teh gay kitu." Sebal Haikal.
Jendral ketawa. "Aduh, Dip, lo kayak orang bingung di taman hiburan. Mana nggak ngerti, mana cuma muter-muter."
Senja menyenggol Dipta. "Tapi bener juga sih, Dip. Kalau dia nggak risih, berarti masih ada kesempatan, kan? Jangan sampai lo nyesel cuma karena terlalu takut buat nyoba."
Haikal mengacungkan jempolnya. "Bener! Nunggu tuh sabar, tapi yang penting masih jelas tujuannya."
Dipta menghela napas panjang, sambil mencoba berpikir lebih jernih. "Oke deh, kalau gitu gue bakal coba. Gue nggak mau nyesel kalau nggak coba."
KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Dipta
FanfictionBanyak orang yang berpikir Dipta itu diktaktor, menyebalkan, sok pintar, dan si paling bener aja. Padahal yang Dipta lakukan semuanya untuk Universitas tercintanya yaitu Universitas Sanggabuana. Dipta itu seenaknya, tapi apa yang dilakukan selalu be...
