Banyak orang yang berpikir Dipta itu diktaktor, menyebalkan, sok pintar, dan si paling bener aja. Padahal yang Dipta lakukan semuanya untuk Universitas tercintanya yaitu Universitas Sanggabuana. Dipta itu seenaknya, tapi apa yang dilakukan selalu be...
Malam itu, Vanya duduk di kamar kosnya, mencoba menyelesaikan sebuah artikel untuk tugas kuliahnya. Namun, pikirannya terus melayang pada Dipta. Sejak siang tadi, laki-laki itu tidak memberi kabar. Bahkan pesan yang Vanya kirimkan hanya di-read tanpa balasan. Sesuatu yang jarang sekali terjadi.
"Apa dia lagi sibuk banget?" gumam Vanya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tapi tetap saja, perasaan tak tenang terus mengusiknya.
Sambil mencari distraksi, Vanya membuka Instagram. Ia menggeser layar tanpa minat sampai matanya tertuju pada sebuah postingan baru yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Itu foto Prisilla. Ia mengenakan gaun anggun, duduk di sebuah restoran mewah dengan senyum menawan. Namun yang membuat hati Vanya bergetar adalah orang-orang yang ada di sekitarnya: Dipta, mama dan papa Dipta, serta kedua orang tua Prisilla. Ia menggeser foto di slide kedua, terdapat foto Dipta dan Prisilla yang hanya berduaan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Makan malam spesial bersama keluarga Dipta. Terima kasih atas malam yang menyenangkan
Vanya mematung, menatap layar ponselnya dengan mata tak percaya. Rasanya seperti ada yang menusuk dadanya. Dipta, pacarnya, tidak mengatakan apa-apa soal makan malam itu. Apalagi bersama Prisilla, seseorang yang ia tahu memiliki hubungan masa lalu dengan Dipta.
Vanya menatap foto itu lebih lama. Senyum Dipta di sana terlihat samar, seperti ia tak benar-benar menikmati momen itu. Tapi tetap saja, pikiran buruk mulai berputar di kepalanya.
"Kenapa Dipta nggak bilang? Apa dia nggak menganggap aku penting?" gumam Vanya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di matanya.
Ia ingin menghubungi Dipta saat itu juga, tapi gengsi menahannya. Ia tidak ingin terlihat seperti pacar yang cemburu buta. Namun, semakin lama ia menahan diri, semakin kalut perasaannya.
***
Di tempat lain, Dipta baru saja sampai di kontrakannya setelah perjalanan panjang dari Jakarta. Ia langsung melepas jas dan dasinya dengan kasar, wajahnya menunjukkan kekesalan.
"Astaga, kenapa Mama harus kayak gini?" gumamnya, melempar dasinya ke atas sofa.
Ia meraih ponselnya yang ia tinggalkan seharian di mobil, baru sadar ada beberapa pesan dari Vanya.
Lavanya💞: Kamu lagi sibuk banget ya? Lavanya💞: Udah makan belum? Lavanya💞: Kamu nggak apa-apa?
Dipta menghela napas panjang. Ia merasa bersalah karena mengabaikan pesan-pesan itu, tapi ia terlalu kesal dengan makan malam tadi untuk menjelaskan semuanya sekarang.
Namun, sebelum ia sempat membalas, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi baru muncul. Vanya membagikan postingan Prisilla di story-nya, hanya dengan emoji mata.
Dipta menatap layar dengan kening berkerut. Ia langsung membuka postingan Prisilla, melihat foto dirinya bersama keluarganya dan Prisilla.
"Damn," gumamnya, menyadari apa yang mungkin dipikirkan Vanya sekarang.
Ia langsung mengetik pesan untuk Vanya.
Dipta: Van, aku bisa jelasin soal foto itu. Mama yang maksa aku untuk datang. Aku nggak suka sama sekali.
Namun, pesan itu hanya berstatus terkirim. Vanya tidak langsung membalas. Dipta merasa semakin bersalah, tapi ia tahu ini salahnya karena tidak memberitahu Vanya dari awal.
Di kosannya, Vanya menatap pesan itu dengan perasaan campur aduk. Ia ingin percaya pada Dipta, tapi perasaan kecewanya masih terlalu besar.
Ia menulis balasan, lalu menghapusnya. Menulis lagi, lalu menghapusnya lagi. Akhirnya ia meletakkan ponselnya di meja, memutuskan untuk tidak membalas apa pun malam itu.
"Aku butuh waktu buat tenang," gumam Vanya pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan perasaannya. Tapi jauh di dalam hatinya, ia merasa ada jarak yang perlahan mulai tumbuh di antara mereka.
Dipta melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kosan Vanya. Di kursi penumpang, sebuah buket bunga lily putih besar tergeletak rapi. Dipta memilih bunga itu bukan tanpa alasan; lily putih melambangkan permintaan maaf dan ketulusan.
"Semoga ini cukup buat ngeyakinin dia," gumam Dipta sambil menggenggam setir dengan erat.
Setibanya di depan kosan Vanya, ia memarkir mobilnya dan menarik napas panjang sebelum turun. Perasaan gugup menyelimuti dirinya. Ia tak terbiasa meminta maaf seperti ini, terutama pada seseorang yang begitu berarti baginya.
Dipta mengetuk pintu kamar Vanya dengan hati-hati, berharap gadis itu ada di dalam. Butuh beberapa detik sebelum suara langkah kaki terdengar di balik pintu.
Ketika pintu terbuka, wajah Vanya muncul. Ia terlihat kaget melihat Dipta berdiri di sana, apalagi dengan buket bunga sebesar itu di tangannya.
"Aku cuma mau jelasin, Van," kata Dipta pelan, sambil mengulurkan bunga itu ke arah Vanya. "Ini buat kamu. Aku minta maaf."
Vanya terdiam, matanya terpaku pada bunga-bunga indah yang ada di hadapannya. Lily putih itu terlihat segar dan harum, tapi yang lebih menggetarkan hatinya adalah ekspresi tulus di wajah Dipta.
"Kamu nggak perlu bawa bunga segala, Dip," kata Vanya akhirnya, suaranya pelan tapi terdengar getir. "Aku nggak marah, cuma... kecewa."
"Justru itu, aku bawa ini karena aku tahu aku salah," balas Dipta cepat. "Aku salah karena nggak cerita soal makan malam itu dari awal. Aku cuma... aku terlalu kesal waktu Mama maksa aku buat ikut. Prisilla itu masa lalu, Van. Aku nggak punya perasaan apa-apa lagi sama dia."
Vanya menatap Dipta, mencari kejujuran di matanya. Ada keraguan di wajahnya, tapi ia tahu Dipta jarang berbicara dengan nada seperti ini—serius, tulus, dan sedikit panik.
"Terima kasih untuk bunganya, tapi sebenernya.." ucap Vanya akhirnya, sambil menerima buket bunga itu dengan hati-hati. "Aku cuma butuh kamu jujur. Itu aja."
Dipta mengangguk pelan. "Aku ngerti, dan aku janji bakal lebih terbuka sama kamu mulai sekarang. Aku cuma nggak mau kamu salah paham atau ngerasa aku nggak nganggap kamu penting."
Vanya menghela napas panjang. Sebagian dari dirinya ingin terus bersikap dingin, tapi ia tahu kalau hati kecilnya sudah memaafkan Dipta sejak ia muncul di depan pintu tadi.
"Kalau kamu janji nggak bakal bikin aku kayak gini lagi, aku bakal coba percaya," kata Vanya akhirnya, suaranya lebih lembut.
Dipta tersenyum lega. Ia ingin memeluk Vanya, tapi ragu apakah gadis itu sudah benar-benar memaafkannya.
"Kalau gitu, boleh aku traktir kamu makan malam buat nebus kesalahan aku?" tawar Dipta, mencoba mencairkan suasana.
Vanya menatapnya sejenak, lalu mengangguk kecil. "Makan di mana? Jangan ngajak ke Mall aku gak dress well."
Dipta terkekeh pelan. "Kita makan di tempat biasa aja. Yang penting kamu mau ikut."
***
Di perjalanan menuju tempat makan, suasana di dalam mobil terasa lebih santai. Vanya memainkan bunga lily di tangannya, sesekali melirik ke arah Dipta yang terlihat lebih ceria sekarang.
"Kamu tahu nggak," kata Vanya tiba-tiba, memecah keheningan, "waktu kamu muncul tadi, aku hampir nangis. Tapi aku tahan biar kamu nggak ngerasa menang gampang."
Dipta tertawa kecil. "Wah, untung aku bawa bunga. Kalau nggak, mungkin aku diusir."
"Tergantung mood aku sih," balas Vanya sambil tersenyum kecil.
Melihat senyum itu, Dipta merasa lega. Ia tahu hubungan mereka belum sempurna, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga kepercayaan Vanya mulai sekarang.
Bagi Dipta, cinta adalah belajar. Dan bersama Vanya, ia siap belajar menjadi orang yang lebih baik.