24: Virgo dan Aningtyas

195 21 1
                                        

Mata kuliah Bioteknologi Tanaman telah usai, dan mahasiswa mulai meninggalkan ruang kelas. Jendral, yang kebetulan sedang membantu dosen di kelas itu, memperhatikan Virgo buru-buru pergi, meninggalkan buku catatannya di meja.

Jendral menghampiri meja tersebut, berniat mengembalikan buku itu. Namun, saat ia membuka halaman depan untuk memastikan milik siapa, sebuah foto kecil jatuh dari dalamnya. Ia memungut foto itu dan langsung terdiam.

Foto itu adalah potret Virgo sedang tersenyum bersama seorang perempuan. Perempuan itu tidak lain adalah Aningtyas-mahasiswi yang beberapa bulan lalu ditemukan tewas bunuh diri, meninggalkan banyak pertanyaan.

"Anjing!" gumam Jendral pelan, matanya membelalak. "Kenapa Virgo punya foto ini?"

Ia berdiri di tempat, mencoba mencerna apa yang baru saja ia temukan. Pikiran-pikiran liar mulai bermunculan. Bagaimana Virgo bisa dekat dengan Aningtyas? Apa hubungan mereka sebenarnya?

Jendral segera menutup buku catatan itu, menyelipkan foto ke dalamnya lagi, dan memutuskan tidak mengembalikannya kepada Virgo. "Gue harus kasih tahu Dipta," pikirnya.

Namun, Dipta tidak berada di kampus hari itu. Jendral langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon Senja, sahabat mereka yang satu prodi dengan Dipta.

"Sen! Lo di mana?" Jendral langsung berbicara tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung.

"Di kantin, lagi makan. Ada apa, Jen? Lo kangen ya sama gue" tanya Senja santai di seberang sambil menghoda Jendral.

"Cariin Dipta sekarang. Gue nemu sesuatu yang gila banget," jawab Jendral, suaranya tegang.

Senja, yang awalnya mengunyah santai, langsung berhenti. "Apa? Sesuatu apaan? Lo lagi drama, ya?"

"Ini serius, Sen. Gue nemu foto Virgo sama Aningtyas di buku catatan Virgo. Lo ngerti nggak maksud gue?"

Senja terdiam beberapa detik, lalu menurunkan nada suaranya. "Tunggu, Virgo sama Aningtyas? Maksud lo mereka... kenal?"

"Bukan cuma kenal, Sen. Dari foto ini kelihatan mereka deket banget! Gue nggak tahu apa artinya, tapi lo harus kasih tahu Dipta sekarang. Kita harus bahas ini."

Senja menghela napas panjang. "Oke, gue cari Dipta dulu. Gue telepon lo lagi kalau udah ketemu."

Setelah panggilan berakhir, Jendral menatap buku catatan di tangannya dengan tatapan penuh teka-teki. Ia tahu, apa pun yang ia temukan ini bisa menjadi petunjuk penting dalam kasus Aningtyas-kasus yang sampai sekarang masih menjadi misteri besar di kampus.

Sementara itu, di kantin fakultas Ilmu Pemerintahan, Senja melirik sekeliling mencari Dipta. Ia akhirnya menemukannya duduk di pojok, tengah mengetik sesuatu di laptop.

"Dip!" Senja memanggil sambil menghampiri.

Dipta mendongak, terlihat bingung. "Kenapa, Sen? Lo panik banget."

Senja duduk di depannya, mencoba menenangkan diri. "Barusan Jendral nelepon gue. Dia nemu sesuatu yang menurut gue harus lo tahu."

Dipta mengernyitkan dahi. "Apa lagi nih? Kalau ini soal rapat BEM, gue nggak peduli. Gue udah capek."

"Ini bukan soal BEM, Dip. Ini soal Virgo... dan Aningtyas."

Dipta terdiam, menatap Senja serius. "Apa maksud lo?"

"Jendral nemu foto Virgo sama Aningtyas di buku catatan Virgo. Lo ngerti kan artinya? Mereka mungkin punya hubungan lebih dari sekadar kenal," kata Senja pelan tapi penuh tekanan.

Dipta terdiam sejenak, lalu berdiri. "Mana Jendral sekarang?"

"Dia di gedung Biotek. Katanya mau langsung kasih tahu lo," jawab Senja sambil ikut berdiri.

"Gue harus lihat fotonya. Kalau ini beneran, kita mungkin punya petunjuk baru soal kematian Aningtyas," kata Dipta tegas.

****
Dipta dan Senja sedang berjalan cepat menuju gedung Biotek ketika tiba-tiba langkah Dipta terhenti. Matanya terpaku pada dua sosok yang sedang berjalan santai di trotoar kampus-Vanya dan Virgo.

Mereka tampak begitu santai, bahkan terdengar tawa Vanya yang jelas membuat darah Dipta mendidih. Virgo berjalan di sebelahnya sambil membawa beberapa buku, seolah menjadi pria sempurna yang peduli pada Vanya.

"Dip, ayo! Kita harus ketemu Jendral," desak Senja, menyadari temannya mendadak berhenti.

Namun, Dipta tidak mendengarkan. Ia menatap keduanya dengan tatapan tajam, cemburu merasuk setiap sudut pikirannya. "Gue harus tarik Vanya dulu," gumamnya.

"Apaan sih, Dip?" Senja memutar matanya, frustrasi.

Dipta tidak peduli. Ia melangkah cepat menghampiri Vanya dan Virgo, tanpa memikirkan bagaimana kelanjutannya. Ketika jarak mereka semakin dekat, Dipta langsung meraih tangan Vanya.

"Vanya, ikut aku sekarang," ucapnya tegas, tanpa basa-basi.

Vanya menoleh, terkejut. "Pres? Apaan sih?"

"Ini penting, Vanya, ikut aku dulu aja." katanya, lalu menarik Vanya menjauh dari Virgo.

Virgo, yang sempat terdiam, akhirnya angkat bicara. "Eh, Dipta, santai aja, bro. Kita cuma ngobrol soal tugas kok."

Dipta menoleh sekilas, menatap Virgo dengan tajam. "Nggak usah ikut campur. Ini urusan gue sama Vanya."

Vanya mencoba melepaskan tangannya, tapi genggaman Dipta terlalu kuat. "Pres! apaan sih? Aku lagi ngobrol sama Virgo!"

Dipta berhenti berjalan sejenak, lalu menatap Vanya dalam-dalam. "Van, ini penting. Kamu harus ikut gue sekarang. Aku nggak peduli kamu lagi sama siapa juga."

Vanya akhirnya menyerah, menghela napas panjang. "Oke, oke. Tapi kamu jelasin dulu nanti."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Dipta melanjutkan langkahnya, menggandeng Vanya menuju gedung Biotek. Sementara itu, Virgo hanya menatap mereka dari kejauhan, terlihat bingung tapi memilih tidak ikut campur lebih jauh.

Senja mengikuti di belakang, menahan diri untuk tidak tertawa. "Dip, lo itu cemburuan banget ya. Ntar kalau ada lomba cemburu, pasti lo juara satu."

Dipta tidak menjawab, tapi wajahnya yang cemberut semakin jelas. Vanya, yang berjalan di sampingnya, akhirnya memecah keheningan.

"Dip, kamu bisa jelasin nggak kenapa tiba-tiba narik aku gini?" tanyanya kesal.

"Nanti aku jelasin," jawab Dipta singkat.

Mereka bertiga akhirnya sampai di gedung Biotek, di mana Jendral sudah menunggu di depan pintu dengan ekspresi serius. Jendral langsung menyadari kehadiran Vanya, tapi memilih tidak mengomentarinya.

"Kamu lama banget, Dip," ucap Jendral sambil mengeluarkan buku catatan Virgo dari tasnya.

"Aku ketahan di jalan," jawab Dipta sambil melirik Vanya sekilas.

Vanya mengernyitkan dahi. "Eh, ini kenapa ada gue di sini? Kalian lagi ngomongin apa sih?"

Jendral melirik Dipta, meminta persetujuan. Dipta mengangguk. "Van, lo mungkin nggak tahu, tapi ini soal Virgo... dan Aningtyas."

Vanya terdiam, matanya membulat. "Apa? Maksud lo apa?"

Jendral membuka buku catatan Virgo dan mengeluarkan foto yang ia temukan. "Ini. Gue nemu foto Virgo sama Aningtyas. Gue nggak tahu apa artinya, tapi ini jelas sesuatu yang nggak bisa diabaikan."

Vanya mengambil foto itu, menatapnya dengan raut wajah campuran antara kaget dan bingung. "Virgo... kenal deket sama Aningtyas?"

"Itu yang mau kita cari tahu," jawab Dipta. "Dan mungkin ini bisa jadi petunjuk penting buat kasusnya."

Vanya memandang foto itu lebih lama, lalu menatap Dipta. "Kamu serius mau ngelanjutin ini, Dip?"

Dipta mengangguk. "Aku nggak bisa diem aja, Van. Kalau ini ada hubungannya sama apa yang terjadi sama Aningtyas, Aku harus tahu."

Vanya akhirnya mengangguk, menyerahkan foto itu kembali ke Jendral. "Kalau gitu, aku bantu."

Dipta tersenyum kecil, meskipun rasa cemburunya tadi masih membara. Setidaknya sekarang, Vanya ada di sisinya-dan itu cukup untuk membuatnya merasa lebih baik.

***

Presma DiptaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang