29. Teror

154 17 0
                                        

Setelah kejadian di kantor polisi, suasana di antara Dipta dan Vanya terasa canggung. Mobil Dipta melaju pelan di jalanan menuju kontrakan Vanya. Malam sudah larut, hanya lampu jalan yang menerangi perjalanan mereka. Vanya duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela dengan ekspresi bingung. 

Dipta, yang sejak tadi hanya fokus pada kemudi, akhirnya menarik napas panjang. Ia tahu, jika ia terus diam, suasana ini akan semakin buruk. 

"Van," panggil Dipta, memecah keheningan. 

Vanya menoleh pelan. "Hm?" 

Dipta menatapnya sekilas sebelum kembali fokus ke jalan. "Gue... eh, aku mau ngomong sesuatu." 

Vanya mengernyit, bingung. "Ngomong aja, Dip. Ada apa?" 

Mobil berhenti di sebuah lampu merah, dan Dipta memanfaatkan momen itu untuk menoleh penuh ke arah Vanya. Tatapannya serius, tapi ada keraguan di sana. "Aku cemburu." 

Vanya terdiam. Kata itu membuat jantungnya sedikit berdegup lebih kencang. "Cemburu? Maksud kamu?" 

Lampu hijau menyala, dan mobil kembali melaju. Dipta mengusap tengkuknya, mencoba merangkai kata. "Aku cemburu... sama kamu dan Virgo. Kamu terlalu perhatian sama dia. Aku tahu kamu bilang dia cuma temen SMA kamu, tapi aku nggak bisa nggak mikir lebih." 

Vanya menghela napas pelan, mencoba menahan senyum kecil yang hampir muncul di wajahnya. "Dip, Virgo itu beneran cuma temen. Aku emang perhatian karena aku kenal dia lama, dan aku tahu dia nggak mungkin nyakitin siapa-siapa, apalagi Aningtyas." 

"Tapi perhatian kamu ke dia beda, Van," potong Dipta. "Aku tahu aku nggak punya hak ngatur kamu, tapi aku nggak suka liat kamu lebih peduli ke dia dibanding aku." 

Vanya menggeleng pelan. "Kamu salah paham, Dip. Aku emang peduli sama Virgo, tapi itu cuma sebagai temen. Kalau aku terlalu kelihatan perhatian, itu karena aku pengen bantu dia. Aku tahu dia nggak salah, dan aku nggak pengen dia dihukum buat sesuatu yang bukan dia lakuin." 

Dipta mengerutkan kening, tapi ada sedikit rasa lega mendengar penjelasan itu. "Jadi, kamu nggak ada rasa apa-apa sama dia?" 

Vanya tersenyum kecil, akhirnya menatap Dipta dengan lembut. "Enggak ada, Dip. Aku cuma cinta sama satu orang, dan itu kamu." 

Kata-kata itu berhasil membuat Dipta tersenyum kecil, tapi ia masih berusaha menjaga gengsinya. "Ya udah, kalau gitu jangan bikin aku cemburu lagi, ya." 

Vanya tertawa kecil. "Cemburu juga artinya kamu sayang, kan?" 

Dipta mendengus, mencoba menyembunyikan senyumnya. "Iya, ya udah." 

Mobil akhirnya berhenti di depan kontrakan Vanya. Sebelum Vanya turun, Dipta menggenggam tangannya. "Van, aku minta maaf kalau aku kasar tadi. Aku cuma terlalu emosian karena aku takut kehilangan kamu." 

Vanya menatap tangan mereka yang saling menggenggam, lalu tersenyum. "Aku maafin. Tapi kamu juga harus belajar kontrol emosi kamu, Dip. Aku nggak mau kita terus berantem soal hal-hal kecil." 

Dipta mengangguk. "Iya, aku janji." 

Vanya akhirnya turun dari mobil, tapi sebelum menutup pintu, ia menunduk dan berkata, "Makasih udah jujur. Itu yang bikin aku yakin kalau kamu serius sama aku." 

Dipta tersenyum, merasa lebih tenang. "Makasih juga udah ngerti. Hati-hati di dalam, ya." 

Vanya mengangguk dan masuk ke kontrakannya, sementara Dipta menatap pintu itu selama beberapa detik sebelum akhirnya melajukan mobilnya. Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa sedikit lebih lega. 

****

Pagi itu, Dipta berjalan menuju parkiran kampus dengan langkah santai. Namun, langkahnya terhenti begitu matanya menangkap pemandangan mobilnya. Di bagian pintu mobil, coretan merah besar terpampang jelas: “Jangan ikut campur.” Coretan itu diikuti dengan garis-garis acak seolah-olah dilakukan dengan pisau.

Dipta mengerutkan kening. Ia mendekat, menyentuh coretan tersebut, memastikan bahwa ini nyata. “Apa-apaan ini?” gumamnya dengan nada geram.

Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, ponselnya berbunyi. Itu pesan dari Senja:
Bro, ruangan BEM berantakan. Datang sekarang.”

Tanpa pikir panjang, Dipta meninggalkan mobilnya di parkiran dan berlari menuju gedung BEM. Setibanya di sana, ia langsung mendapati Senja, Haikal, dan beberapa anggota BEM lainnya berdiri di depan pintu ruangan yang setengah terbuka.

“Kenapa?” tanya Dipta dengan napas terengah.

“Lihat sendiri,” jawab Senja sambil menunjuk ke dalam.

Begitu Dipta melangkah masuk, matanya membelalak. Meja-meja terbalik, kursi-kursi berserakan, dan dokumen-dokumen penting bertebaran di lantai. Di dinding, seseorang telah menulis dengan tinta hitam besar: “Jangan cari tahu terlalu dalam.”

“Ini… siapa yang lakuin?” tanya Dipta dengan nada marah, rahangnya mengeras.

Haikal, dengan logat Sundanya yang kental, menjawab, “Dipta, ieu mah teu biasa, bisi aya nu teu suka ka urang. Sugan ieu peringatan.”

“Peringatan apaan? Ini udah jelas ancaman!” balas Dipta dengan suara yang mulai meninggi.

“Lo ada masalah sama siapa, Dip?” tanya Senja sambil menatap temannya dengan serius.

Dipta menggeleng. “Gue enggak tahu. Tapi ini pasti ada hubungannya sama kasus Aning. Gue rasa mereka enggak suka gue terus nyari tahu soal ini.”

“Ya jelas enggak suka. Tapi kenapa lo? Kan bukan cuma lo yang peduli sama kasus ini,” tambah Haikal.

Vanya muncul di depan pintu, terengah-engah setelah berlari dari kelas. “Dipta, gue dengar soal ruangan BEM. Lo nggak apa-apa?” tanyanya dengan wajah cemas.

Dipta menatapnya, lalu mengangguk. “Gue nggak apa-apa. Tapi ini udah kelewatan.”

Vanya mendekat dan melihat tulisan di dinding. Ia menggigit bibir, lalu menatap Dipta dengan serius. “Lo yakin mau terusin nyari tahu soal ini? Kalau mereka udah sampai ancam kayak gini, artinya mereka bisa lebih jauh lagi.”

Dipta menatap balik Vanya, matanya penuh tekad. “Justru karena ini gue nggak bisa mundur. Kalau gue mundur, artinya mereka menang.”

Vanya menghela napas panjang. “Tapi gue nggak mau ada apa-apa sama lo, Dip.”

“Kalau gue berhenti, artinya kita ngebiarin orang kayak mereka menang. Dan gue nggak akan biarin itu terjadi,” jawab Dipta tegas.

Haikal memotong. “Tapi, Dip, urang kudu mikir strategi. Ulah asal babut wae, bisi bahaya. Mending urang diskusi heula.”

Senja mengangguk setuju. “Haikal bener. Kita harus rapi dan hati-hati. Kalau nggak, kita malah jadi sasaran empuk.”

Dipta mengepalkan tangan. “Oke, kita rapat malam ini. Gue nggak peduli siapa yang di belakang ini, tapi gue nggak akan diem aja.”

Malam harinya, saat Dipta pulang ke apartemennya, ia mendapati amplop cokelat terselip di bawah pintu. Ia membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya, ada foto dirinya saat berjalan keluar dari kantor polisi bersama Vanya. Di belakang foto itu, tulisan tangan terbaca jelas: “Berhenti sekarang, atau kami akan membuat semuanya berakhir buruk untukmu.”

Dipta meremas foto itu dengan tangan gemetar. “Siapapun lo, gue nggak akan takut,” gumamnya sambil membuang foto tersebut ke tempat sampah. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa ini lebih dari sekadar ancaman biasa.

****

Presma DiptaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang