Malam itu, suasana di sekitar kontrakan Vanya terasa semakin berat. Dipta, yang sudah beberapa kali mencoba menghubungi Vanya tanpa jawaban, memutuskan untuk mendatangi langsung. Dengan langkah cepat, dia mengetuk pintu kontrakan Vanya, suaranya keras dan penuh tekad.
"Van! Buka pintunya! Aku tahu kamu ada di dalam!" teriak Dipta, nada suaranya penuh kekesalan.
Vanya yang sedang duduk di kasurnya, memandangi ponsel yang tidak henti berdering, menghela napas panjang. Dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi malam ini. Perlahan, dia bangkit dan membuka pintu dengan wajah yang cenderung datar, berusaha menutupi ketegangan yang ada dalam dirinya.
"Ada apa lagi, Dip?" tanya Vanya, suaranya terdengar lelah dan cemas.
Dipta menatapnya dengan tajam, langkahnya tidak ragu. "Kita harus bicara. Tentang apa yang terjadi tadi di rapat," jawabnya tanpa basa-basi.
Vanya mundur sedikit, memberi ruang untuk Dipta masuk. "Mau ngomong apa? Tentang Virgo?" tanyanya dengan nada datar.
Dipta mengangguk. "Iya. Aku nggak suka cara kamu belain Virgo. Kamu sadar nggak, kalau itu too much! Orang-orang bisa jadi salah paham sama kamu!"
Vanya melangkah mundur, meletakkan tangannya di pinggang, menahan diri untuk tidak marah. "Aku nggak belain dia, Dip. Aku cuma bilang kalau kita nggak boleh buru-buru ngehakimi dia. Apa salahnya, sih, memberi dia kesempatan buat klarifikasi?"
Dipta menatapnya dengan penuh kekesalan. "Kesempatan? Kenapa kamu bisa begitu yakin sama dia, Van? Apa kamu pikir dia nggak bersalah? Apa kamu nggak sadar, dia punya kaitan dengan Aningtyas?"
Vanya menunduk sejenak, seolah mengumpulkan kekuatan. "Aku nggak bilang dia nggak bersalah, Dip. Tapi aku kenal Virgo. Aku tahu dia bukan orang yang bisa sembarangan nyakitin orang. Kenapa kamu nggak bisa percaya sama itu?"
Dipta mengerutkan kening, tatapannya semakin tajam. "Kenal? Sejak kapan kamu kenal Virgo begitu dekat?"
Vanya terdiam, perlahan ia merasakan hatinya berdebar. "Virgo itu teman lama aku. Kami satu SMA. Dia nggak seperti apa yang orang bilang, Dip. Dia itu orang yang pendiam, nggak banyak bicara, tapi baik. Aku nggak ngerti kenapa kamu begitu curiga sama dia."
Dipta diam, masih mencoba mencerna kata-kata Vanya. "Teman lama? Kenapa aku nggak tahu soal ini?"
Vanya menghela napas, menyandarkan punggungnya ke dinding. "Belum sempet cerita sama kamu, Dip, kita pacaran aja baru beberapa hari. Aku peduli sama dia karena dia temen aku. Semua orang nganggap dia pelaku, padahal kita nggak tahu apa-apa."
Dipta melangkah maju, lebih dekat. "Aku nggak peduli dia teman lama kamu atau apa. Yang aku tahu, orang yang aku sayang nggak bisa begitu gampang membela orang lain yang lagi jadi tersangka pembunuhan. Itu bukan soal pertemanan, Van. Itu soal bagaimana kamu menghargai aku."
Vanya merasa sedikit tersinggung, tapi dia menahan diri. "Aku bukan membela siapa-siapa, Dip. Aku cuma berusaha objektif. Aku nggak bisa begitu saja ikut-ikutan pendapat orang tanpa tahu kebenarannya."
Dipta mendekat lebih jauh, wajahnya terlihat serius. "Lalu kenapa kamu nggak bisa objektif soal hubungan kita, Van? Apa kamu nggak sadar, kalau aku juga butuh dukunganmu? Kamu nggak bisa cuma diam atau membela orang lain terus-menerus kalau kamu masih belum jelas soal kita."
KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Dipta
Fiksi PenggemarBanyak orang yang berpikir Dipta itu diktaktor, menyebalkan, sok pintar, dan si paling bener aja. Padahal yang Dipta lakukan semuanya untuk Universitas tercintanya yaitu Universitas Sanggabuana. Dipta itu seenaknya, tapi apa yang dilakukan selalu be...
