Warkop sederhana itu penuh seperti biasanya. Aroma kopi hitam dan gorengan hangat memenuhi udara, mengiringi riuh suara pengunjung yang berbincang santai. Vanya dan Dara memilih duduk di pojokan, di meja kecil dekat dinding yang catnya sedikit terkelupas.
“Udah lama nggak nongkrong di warkop,” kata Dara sambil menuang sambal ke piring kecilnya. “Lo juga kan pasti, Van, Dipta kan tajir, pasti lo sering diajak ke fancy Cafe” Ujar Dara menambahkan.
Vanya tersenyum kecil sambil mengaduk teh manisnya. “Enggak, gue sering ke warkop kok sama Dipta.”
Percakapan mereka berlanjut dengan candaan ringan hingga tawa kecil terdengar di antara suara pengunjung lain. Namun, suasana santai itu sedikit berubah saat seorang pria yang tak asing tiba-tiba muncul di depan meja mereka, lelaki itu tersenyum manis, kemudian menarik kursi bersebrangan dengan mereka.
“Satria?” Vanya mengangkat alis, kaget melihat pria itu. Satria adalah mahasiswa yang cukup sering ia temui dalam berbagai kegiatan kampus, meski ia tahu Dipta tidak terlalu suka padanya.
Satria tersenyum tipis. “Hei, Vanya. Dara. Boleh gabung sebentar?” tanpa menunggu jawaban, Satria sudah menarik kursi dan duduk di meja mereka.
Dara melirik Vanya dengan pandangan bingung, tapi Vanya hanya memberi isyarat dengan matanya agar membiarkan saja.
“Lagi bahas apa nih?” tanya Satria sambil mengambil keripik singkong dari piring Dara, tanpa permisi.
“Kepo lo, dari sekian banyaknya meja kenapa coba harus di sini,” jawab Dara singkat.
Satria mengangguk pelan, matanya menatap Vanya dengan serius. “Gue mau bahas kasus Aningtyas, sama lo berdua.”
Vanya tersentak mendengar nama itu. “Kok lo tiba-tiba ngebahas itu? Lo harusnya ngajak ngomong Dipta bukan gue.”
Satria mengangkat bahu. “Gue cuma mau kasih saran aja. Lo hati-hati, Van. Terutama sama orang-orang terdekat Dipta.”
Ucapan itu membuat suasana meja jadi tegang. Dara berhenti mengunyah dan memandang Satria dengan tajam.
“Maksud lo apa?” tanya Dara, nadanya penuh curiga.
Satria tersenyum samar, seolah menikmati kebingungan mereka. “Nggak ada maksud apa-apa. Gue cuma bilang hati-hati. Kadang yang kita kira teman, malah bisa jadi ancaman.”
“Lo ngaco banget, Satria,” potong Vanya, berusaha menahan emosinya. “Kalau lo tahu sesuatu, mending lo ngomong terus terang daripada kasih kode nggak jelas kayak gini.”
Satria hanya terkekeh kecil. “Santai aja, Van. Gue cuma kasih peringatan. Terserah lo mau percaya atau nggak.”
Dara menatap Satria dengan wajah tidak suka. “Lo tahu nggak sih, ucapan lo itu bikin kita malah tambah curiga sama semuanya? Kalau lo nggak punya bukti atau informasi jelas, mending lo diem.”
Satria berdiri dari kursinya, merapikan jaketnya. “Gue cuma menjalankan kewajiban buat ngingetin. Kalau nggak mau dengar, ya udah.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan Vanya dan Dara yang masih terdiam. Vanya meremas gelas tehnya dengan gelisah, pikirannya penuh pertanyaan.
“Dia ngomong apaan sih? Nggak jelas banget!” kata Dara, akhirnya memecah keheningan.
Vanya menggeleng pelan. “Aku juga nggak tahu, Dar. Tapi, kalau benar yang dia bilang…”
“Ah, jangan dengerin dia, Van. Orang kayak Satria itu suka cari perhatian. Jangan biarin dia bikin lo parno,” potong Dara.
Vanya mengangguk, meski dalam hatinya ia merasa ucapan Satria tadi bukan sekadar iseng. Ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang membuat pikirannya tidak tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Dipta
FanfictionBanyak orang yang berpikir Dipta itu diktaktor, menyebalkan, sok pintar, dan si paling bener aja. Padahal yang Dipta lakukan semuanya untuk Universitas tercintanya yaitu Universitas Sanggabuana. Dipta itu seenaknya, tapi apa yang dilakukan selalu be...
