Dipta duduk di kursi kecil berhadapan dengan Inspektur Riyadi di kantor polisi. Wajahnya serius, matanya tajam. Hati dan pikirannya penuh keraguan dan kekesalan yang ia pendam sejak pertama kali kasus ini muncul. Setelah melihat bagaimana Virgo ditangani polisi, ia merasa semuanya terlalu longgar.
"Pak Riyadi, saya di sini bukan untuk membela siapa pun," kata Dipta membuka pembicaraan. "Tapi saya merasa kasus ini belum ditangani dengan benar. Virgo... saya nggak percaya dia sepenuhnya nggak terlibat."
Inspektur Riyadi meletakkan pena yang dipegangnya dan menatap Dipta dengan alis sedikit terangkat. "Mas Dipta, kami memahami kekhawatiran Anda. Tapi sejauh ini, tidak ada bukti kuat untuk menahan Virgo. Kami hanya memanggilnya untuk dimintai keterangan."
"Itu masalahnya, Pak. Kalau cuma keterangan, apa gunanya? Semua orang bisa terlihat nggak bersalah kalau hanya dilihat dari omongan mereka," ujar Dipta dengan nada mulai meninggi. "Virgo adalah pacar Aningtyas. Dia yang paling dekat sama korban. Logis, kan, kalau dia yang pertama dicurigai?"
Riyadi menghela napas, mencoba tetap tenang. "Kami memang memulai penyelidikan dari Virgo. Tapi dari hasil wawancara dan bukti sementara, tidak ada yang mengindikasikan dia pelaku. Virgo bahkan tidak tahu kalau Aningtyas hamil."
Dipta menggeleng, wajahnya mencerminkan rasa frustrasi. "Dan itu, menurut Bapak, cukup untuk membebaskan dia dari kecurigaan? Pak, kalau dia pacar yang perhatian, dia pasti tahu soal kehamilan itu. Kalau dia nggak tahu, itu berarti dia nggak peduli, atau lebih buruk lagi, dia menyembunyikan sesuatu."
"Mas Dipta, kami tidak bisa menahan seseorang tanpa bukti," kata Riyadi dengan tegas. "Hukum harus berjalan berdasarkan fakta, bukan asumsi."
"Fakta? Fakta yang mana, Pak?" Dipta membalas, suaranya semakin meninggi. "Virgo jelas punya motif. Dia pasti terlibat, entah langsung atau nggak. Kalau bukan dia, siapa lagi yang punya akses sebesar itu ke kehidupan Aningtyas?"
Inspektur Riyadi menatap Dipta dengan pandangan penuh pertimbangan. "Mas Dipta, saya mengerti Anda ingin kasus ini cepat selesai. Tapi tugas kami adalah mencari kebenaran, bukan hanya menyelesaikan kasus dengan tergesa-gesa. Jika Anda memiliki informasi lain yang bisa membantu, kami dengan senang hati menerimanya."
Dipta terdiam sejenak, mencoba menenangkan dirinya. Tapi rasa frustrasinya tidak mereda. Ia berdiri, mengatur napasnya. "Baik, Pak. Kalau begitu, saya akan cari bukti saya sendiri. Tapi saya minta satu hal—pastikan Virgo terus diawasi. Saya nggak mau ada orang lain yang jadi korban cuma karena kelalaian kita."
Riyadi menatapnya dengan serius, lalu mengangguk. "Kami akan melakukan yang terbaik, Mas Dipta. Tapi ingat, jangan mengambil langkah sendiri yang bisa membahayakan Anda atau orang lain."
Dipta hanya mengangguk singkat sebelum berbalik meninggalkan ruangan. Amarah dan keraguan bercampur di dalam dirinya. Baginya, polisi terlalu lamban menangani ini. Dan Virgo—bagaimana pun caranya—ia akan membuktikan kalau lelaki itu punya andil dalam kematian Aningtyas.
Di luar kantor polisi, Dipta duduk di mobilnya, menatap kemudi dengan tatapan kosong. Hatinya masih berat dengan rasa cemburu dan kekesalan. Virgo bukan hanya menjadi pusat masalah ini, tapi juga menjadi alasan mengapa hubungannya dengan Vanya semakin penuh tekanan.
"Aku nggak akan diam," gumamnya pada dirinya sendiri. "Kalau mereka nggak mau bertindak, aku sendiri yang akan ungkap semua ini."
Ia menyalakan mesin mobil, siap kembali ke kampus. Tapi satu hal yang jelas: ia tidak akan berhenti sampai kasus ini selesai.
****
Sekretariat BEM U terasa panas, meskipun pendingin ruangan sudah menyala penuh. Semua anggota BEM Universitas Sanggabuana hadir di rapat BEM hari ini, termasuk wajah-wajah yang jarang terlihat saat rapat rutin. Dipta berdiri di depan meja panjang, tangannya bertumpu di atas dokumen yang ia bawa. Wajahnya serius, sorot matanya tajam, menandakan bahwa rapat ini bukan pertemuan biasa.
Semua anggota duduk dengan ekspresi berbeda. Vanya terlihat resah, duduk di samping Dara yang terus mencoba menenangkan sahabatnya. Meylina, seperti biasa, duduk dengan dagu sedikit terangkat, seolah mencari celah untuk melontarkan komentar sinis. Jendral dan Haikal berbincang pelan, sementara Senja hanya memandangi Dipta, menunggu apa yang akan ia katakan. Satria duduk di pojok ruangan, memperhatikan Vanya dari jauh, sedangkan anggota lain seperti Shadilla, Jualino, Kenzi, Nina, Hani, dan Bintang tampak tegang, menunggu arahan.
Dipta mengetuk meja dengan jarinya, meminta perhatian. "Oke, semuanya. Terima kasih sudah datang meskipun saya tahu ini mendadak. Saya perlu menjelaskan beberapa hal penting tentang kasus Aningtyas."
Semua suara kecil di ruangan itu langsung terhenti. Fokus mereka tertuju pada Dipta.
"Kita semua tahu bahwa kasus ini sudah berjalan beberapa minggu, dan tekanan dari luar semakin besar, terutama setelah nama Virgo dikaitkan dengan kematian Aningtyas," ucap Dipta dengan nada tegas. "Tapi, sampai saat ini, pihak kepolisian belum memiliki bukti yang cukup untuk menahan Virgo."
Ruangan hening. Vanya mengangkat wajahnya, matanya bertemu dengan Dipta. Tapi lelaki itu tidak membalas tatapannya.
"Jadi maksudnya, polisi bakal lepas tangan?" tanya Meylina dengan nada skeptis.
"Enggak," jawab Dipta cepat. "Polisi masih menyelidiki, tapi saya merasa ada hal-hal yang belum mereka lihat. Saya juga yakin kita sebagai BEM bisa membantu dengan memberikan data atau informasi yang mungkin luput dari mereka."
Jendral mengangkat tangan. "Tapi masalahnya, Dip. Kita ini bukan detektif. Kalau kita ikut campur terlalu jauh, malah bisa bikin kacau."
"Itu benar," tambah Haikal, dengan logat Sundanya yang khas. "Urusan hukum mah berat, Dip. Mun teu ati-ati, bisa kena masalah."
"Tapi ini bukan cuma soal hukum, Haikal," kata Senja, menyela. "Ini juga soal nama baik kampus kita. Kalau masalah ini terus dibiarkan, citra Universitas Sanggabuana yang bakal hancur."
Dipta mengangguk, menghargai pendapat mereka. "Makanya saya nggak bilang kita harus bertindak sembrono. Saya hanya ingin memastikan kita semua paham posisi kita. Virgo memang anggota kampus kita, tapi dia bukan anggota BEM. Jadi, kita nggak membela siapa pun di sini. Yang kita cari adalah kebenaran."
Vanya, yang sedari tadi diam, akhirnya berbicara. "Aku setuju kalau kita harus mencari kebenaran. Tapi, Dipta, kita nggak bisa asal menuduh seseorang tanpa bukti. Virgo memang pacarnya Aningtyas, tapi itu bukan berarti dia pelakunya."
Meylina langsung menimpali, nadanya sinis. "Jadi maksud kamu, kita harus percaya kalau Virgo itu suci-suci aja? Jangan naif, Vanya."
"Sudah, cukup," potong Dipta, suaranya lebih keras dari biasanya. "Ini bukan forum untuk saling menyalahkan. Kalau ada yang punya pendapat, silakan sampaikan tanpa menyerang orang lain."
Ruangan kembali hening. Dipta menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Mulai sekarang, saya minta semua anggota BEM untuk lebih waspada. Siapa pun yang tahu informasi tentang hubungan Virgo dan Aningtyas, atau hal mencurigakan lainnya, segera laporkan ke saya atau Jendral. Saya akan bicara langsung dengan pihak rektorat juga untuk memastikan kita punya dukungan penuh."
Shadilla, yang duduk di dekat pintu, mengangkat tangan. "Kalau boleh tahu, langkah selanjutnya apa, Kak?"
Dipta menjawab dengan tegas, "Langkah kita sekarang adalah membantu polisi dengan informasi yang kita punya. Tapi kita juga harus menjaga solidaritas di antara kita. Jangan sampai masalah ini malah bikin kita terpecah."
Semua anggota mengangguk pelan, meski wajah mereka masih penuh tanda tanya. Setelah beberapa saat, Dipta mengakhiri rapat.
"Sekian untuk hari ini. Kalau ada yang ingin bertanya atau memberi masukan, kalian bisa temui saya langsung," tutupnya.
Saat semua anggota mulai meninggalkan ruangan, Dipta memandangi Vanya yang masih duduk di kursinya. Mata mereka bertemu, tapi Vanya langsung mengalihkan pandangannya. Di sudut ruangan, Dara memegang tangan Vanya, mencoba memberinya semangat. Dipta menghela napas panjang. Hubungan pribadinya dengan Vanya kini terasa semakin rumit di tengah tekanan ini.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Dipta
FanfictionBanyak orang yang berpikir Dipta itu diktaktor, menyebalkan, sok pintar, dan si paling bener aja. Padahal yang Dipta lakukan semuanya untuk Universitas tercintanya yaitu Universitas Sanggabuana. Dipta itu seenaknya, tapi apa yang dilakukan selalu be...
