22. Harapan

217 24 2
                                        

Ada beberapa hal yang manusia inginkan langsung terkabul, atau bisa berjalan sesuai keinginan hati. Seperti hal yang sebentar lagi dialami oleh Dipta, kemungkinan ini terjadi karena raut wajah Vanya yang berubah, ia menjadi diam dan mengerutkankening wajahnya. Ini mungkin terkesan terburu-buru, namun lelaki berambut hitam itu tidak ingin menunda-nunda lagi.

"Maaf, Dip, tapi gue gak bisa." Ucap Vanya tanpa menatap Dipta.

"Kenapa?" Tanya Dipta.

"Ya karena gue gak suka sama lo, oke? Sekarang lo pulang aja, kembali ke Villa." Ucap Vanya dengan tegas.

****

Berminggu-minggu setelah penolakan dari Vanya, Dipta berusaha untuk baik-bak saja. Ia seperti biasanya bermain dengan teman-temannya, mengadakan agenda rapat bersama anggota BEM, dan semakin aktif di kampus. Walaupun ketika ia sendiri, ia pasti akan merasa kosong.

Lelaki itu sedang makan siang bersama Jendral di kantin FKIP. Niat hati ingin melihat Vanya, walaupun dari jauh, ia hanya ingin tahu dari jauh. Selain rasa sakit yang teringat saat di tolak, ada juga rasa rindu melihat wajah Vanya, harusnya gadis itu sudah bisa kembali kuliah setelah di rawat beberapa minggu lalu.

"Ck, sampe kapan sih mau mantau dari jauh gini? Kalau suka kejar dong, bung." Ucap Jendral seraya mengaduk mie bangladesh yanh baru saja ia pesan.

Tak ada respons dari Dipta, lelaki itu hanya diam sambil mengerutkan keningnya. Ia juga ingin berjuang kembali, namun belum siap untuk penolakan yang bisa jadi akan terjadi lagi.

Jendral kesal sendiri, temannya ini sangat menyebalkan. Padahal Dipta bisa berjuang lebih baik lagi, daripada diam seperti orang bodoh dan menatap Vanya dari jauh.

"Gak jelas ah, udeh gua mau cabut aja, males nemenin presma tolol soal percintaan." Cetus Jendral seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh tanpa ditahan sedikit pun oleh Dipta yang masih diam mematung itu.

****

Vanya sebenarnya menyadari jika Dipta diam-diam selalu mengikutinya, bahkan Dipta sering berada disekitaran fakultasnya. Lelaki itu seperti hantu yang bisa berada di mana saja, ini membuat gadis itu jengkel. Sepertinya saat ini, saat Vanya sedang membeli buku di Mall, ia melihat Dipta juga berkeliaran di toko buku yang sama.

"Presma bukannya banyak kerjaan ya, gak jelas banget." Kesal Vanya seraya menatap Dipta yang sekarang malah sedang naik kursi pijat.

Baguslah harusnya ia tak akan menyadari jika Vanya tsudha keluar dari toko buku ini, gadis itu berjalan cepat keluar dari toko buku itu. Ia berjalan menuju pintu keluar dan tak senagja ia melihat Virgo teman SMA yang juga berkuliah di kampus yang sama tengah berjalan sendirian.

"Virgo!"

Virgo menoleh sedikit kaget saat Vanya menghentikan langkah. "Eh, santai, Van. Lo abis dari mana?" tanya dia, mencoba mencairkan suasana. 

"Baru dari toko buku, tapi nggak jadi beli. Lo ngapain di sini?" balas Vanya sambil mulai berjalan lagi. 

"Nyari sepatu. Yang lama udah nggak layak banget, tapi gue bingung mau beli yang mana. Lo tau nggak toko yang bagus?" Virgo menjawab sambil menggaruk kepalanya. 

Vanya tertawa kecil. "Virgo, Virgo. Lo tuh dari dulu emang nggak pernah berubah, ya? Selalu nggak bisa milih sendiri." 

"Yah, emang. Makanya gue butuh konsultan kayak lo. Jadi, ayo dong temenin gue," sahut Virgo sambil nyengir. 

"Lo nggak takut gue malah bikin lo beli sepatu yang mahal?" goda Vanya sambil meliriknya. 

"Ya selama cocok, nggak masalah. Lagian kan ini investasi. Sepatu yang bagus bikin gue makin keren, siapa tau jadi lebih gampang dapet gebetan." 

Presma DiptaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang