28. Teka-Teki

144 15 0
                                        

Sore itu, suasana di Fakultas Pertanian Universitas Sanggabuana sedang tenang seperti biasanya. Para mahasiswa sibuk dengan aktivitas masing-masing, beberapa terlihat di laboratorium, ada yang duduk di taman sambil membaca buku, dan sebagian lagi berada di rumah kaca untuk penelitian. Virgo adalah salah satu dari mereka, sibuk mencatat hasil pengamatan tanaman jagung hibrida yang sedang diteliti untuk tugas akhir. 

Tiba-tiba, suara sirine memecah keheningan. Semua mata tertuju ke arah jalan utama kampus. Sebuah mobil polisi hitam melaju pelan, parkir tepat di depan rumah kaca. Para mahasiswa yang berada di sekitar lokasi segera mengerubungi area tersebut, penasaran dengan apa yang sedang terjadi. 

Dua orang polisi keluar dari mobil dengan langkah tegas. Mereka mengenakan seragam lengkap, dan salah satunya membawa map berwarna cokelat. Salah seorang mahasiswa yang berdiri di depan rumah kaca memberanikan diri bertanya, “Ada apa ini, Pak? Kok ada polisi datang ke kampus?” 

Salah satu polisi hanya menjawab singkat, “Kami di sini untuk menjemput seseorang.” 

Virgo yang berada di dalam rumah kaca baru menyadari kehadiran kerumunan setelah mendengar suara langkah berat di belakangnya. Dia menoleh, wajahnya langsung berubah ketika melihat dua polisi memasuki rumah kaca. 

“Virgo Saturnus?” tanya salah satu polisi dengan nada tegas. 

“Iya, saya,” jawab Virgo sambil berdiri tegak. Tatapannya penuh kebingungan, tapi dia tetap mencoba tenang. 

“Kami mendapat perintah untuk membawa Anda ke kantor polisi. Anda diminta untuk memberikan keterangan terkait kasus kematian Aningtyas,” jelas polisi itu. 

Kabar ini langsung membuat mahasiswa yang mendengar terkejut. Gumaman mulai terdengar di antara mereka. Beberapa mahasiswa saling menatap, mencoba mencerna apa yang baru saja mereka dengar. Virgo, salah satu mahasiswa yang cukup dikenal di Fakultas Pertanian, kini menjadi sorotan karena kasus tragis yang menimpa Aningtyas. 

Virgo mengangkat tangan dengan tenang. “Baik, Pak. Saya akan kooperatif. Tapi saya nggak ada hubungannya sama kasus itu.” 

Polisi hanya mengangguk, lalu memasang borgol di pergelangan tangannya. Virgo tidak memberontak, meskipun raut wajahnya jelas menunjukkan kegelisahan. 

Di luar rumah kaca, suasana semakin riuh. Banyak mahasiswa yang langsung mengambil ponsel mereka untuk merekam kejadian ini. Ada juga yang bertanya-tanya dengan suara keras. 

“Virgo? Dia kan anak pinter, nggak mungkin dia terlibat!” 

“Tapi bisa aja dia deket sama Aningtyas, kan? Mungkin ada sesuatu yang kita nggak tau.” 

Sementara itu, salah seorang teman satu prodi Virgo berusaha maju mendekat. “Pak, apa benar Virgo tersangka?” tanyanya dengan nada khawatir. 

“Kami hanya membawanya untuk dimintai keterangan,” jawab polisi tersebut tanpa memberikan rincian lebih lanjut. 

Virgo dibawa keluar rumah kaca, melewati kerumunan mahasiswa yang terus merekam dan bertanya-tanya. Dia hanya menundukkan kepala, memilih untuk tidak memberikan komentar apapun. 

Tak jauh dari kerumunan, seorang mahasiswa langsung berlari menuju gedung BEM, tempat Dipta dan anggota inti lainnya sedang rapat.  Ia adalah Huang Kenzi, lelaki yang dingin dan jarang sekali bicara

“Bang Dipta! Ada polisi di rumah kaca! Virgo dibawa!” seru Kenzi itu, menarik perhatian semua orang di ruangan. 

Dipta yang sedang menuliskan agenda rapat di papan langsung menoleh dengan ekspresi serius. “Apa? Virgo? Dibawa polisi?” 

Presma DiptaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang