Dipta baru saja kembali dari mengantar Vanya pulang ke kontrakannya setelah insiden motor yang menyerempet mereka dan ancaman batu berisi pesan misterius. Raut wajahnya lelah, tapi pikirannya terus bergulat dengan apa yang baru saja terjadi. Sesampainya di kontrakan, ia melihat lampu ruang tamu masih menyala. Di dalam, sudah ada Senja, Haikal, dan Jendral yang sedang duduk mengobrol sambil menikmati kopi sachet dan gorengan.
"Dip, lo kok baru balik?" Jendral bertanya sambil mengangkat alis. "Tampang lo kusut banget. Ada apa?"
Haikal yang duduk di pojok dengan logat Sundanya langsung menimpali, "Ti mana ari maneh? Teu balik-balik."
Dipta hanya menghela napas dan melepaskan jaketnya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan ekspresi berat. "Gue kena teror lagi," katanya akhirnya.
Senja yang biasanya kalem langsung mengernyitkan dahi. "Teror? Lagi? Maksudnya apa, Dip?"
Dipta menceritakan kejadian yang menimpanya dan Vanya tadi malam-bagaimana sebuah motor menyerempet mereka dan melempar batu berisi ancaman agar mereka menghentikan penyelidikan kasus Aningtyas. Ketiga sahabatnya mendengarkan dengan seksama, wajah mereka tampak semakin serius seiring cerita Dipta berlanjut.
"Sialan! Mereka makin berani, ya," Jendral mendesis sambil mengepalkan tangannya di meja. "Kenapa nggak langsung lapor polisi aja?"
"Lapor polisi? Percuma," jawab Dipta sambil mengusap wajahnya. "Polisi bahkan nggak bisa nahan Virgo, dan sekarang mereka malah fokus cari bukti lain. Kalau gue lapor soal ancaman ini, mereka pasti cuma anggap ini kerjaan oknum yang iseng."
"Eh tapi, Dip, kudu waspada, atuh," Haikal berkata sambil menatap serius. "Bisa jadi ieu teh beneran. Lamun te waspada, kumaha lamun maneh diincer beneran?"
Dipta mengangguk kecil. "Makanya gue cerita ke kalian. Gue butuh pendapat, harus gimana. Ini bukan cuma soal gue doang, tapi juga Vanya. Dia ada di situ waktu kejadian."
"Wasuh, terus Vanya gimana sekarang? Lo tau kan kalau ini bahaya buat Vanya kalau sampai dia jadi target juga?" Tanya Jendral dengan wajah serius.
"Ya, gue tau, Jend," jawab Dipta dengan nada menyesal. "Gue nggak bermaksud narik dia ke masalah ini, tapi gue nggak bisa kontrol siapa yang mereka targetin."
Senja akhirnya angkat bicara, dengan nada suara yang lembut tapi tegas. "Dip, mungkin sekarang kita perlu buat rencana. Pertama, kita harus bikin rencana untuk jaga keselamatan semua orang, terutama lo sama Vanya. Kedua, kita harus cari tahu siapa sebenarnya yang ada di balik ancaman ini."
Haikal menambahkan sambil mengunyah gorengan, "Lamun urang jadi maneh, urang bakal pasang CCTV di kontrakan ieu jeung kos si Vanya. Terus, ulah sering balik malem. Si Vanya oge kudu dijaga pisan."
"Gue udah mikir soal itu," kata Dipta, suaranya lebih tenang sekarang. "Gue bakal pasang CCTV besok, dan untuk Vanya... gue bakal pastiin dia nggak sendirian. Tapi masalah utamanya adalah, siapa dalang dari semua ini?"
Jendral menggeleng pelan. "Susah, Dip. Kalau ancaman kayak gini, pasti mereka orang dalam atau setidaknya tahu banget soal kegiatan BEM dan kegiatan lo. Ini nggak mungkin orang yang cuma iseng."
Dipta memijat pelipisnya, mencoba meredakan rasa pusing yang mulai menyerangnya. "Gue curiga ada kaitannya sama partai kampus yang pernah gue tolak kerja samanya. Atau... mungkin ada orang di luar sana yang pengen ngancurin nama gue sekaligus BEM kita."
Senja memandang Dipta dengan tatapan penuh keyakinan. "Kita ini temen, Dip. Kalau lo butuh bantuan, bilang aja. Jangan pikir lo harus nanggung semuanya sendiri."
Dipta menatap mereka satu per satu, merasa bersyukur memiliki sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya. "Gue bener-bener nggak tahu gimana jadinya kalau nggak ada kalian."
KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Dipta
FanfictionBanyak orang yang berpikir Dipta itu diktaktor, menyebalkan, sok pintar, dan si paling bener aja. Padahal yang Dipta lakukan semuanya untuk Universitas tercintanya yaitu Universitas Sanggabuana. Dipta itu seenaknya, tapi apa yang dilakukan selalu be...
