Langit sore di taman kota perlahan memerah, pertanda matahari mulai tenggelam. Suasana ramai dengan pasangan yang bercengkerama, anak-anak yang berlarian, dan pedagang yang menawarkan dagangan. Dipta duduk di bangku taman, mengenakan kemeja biru tua dan celana jeans hitam, menunggu Vanya yang masih dalam perjalanan. Ia merapikan rambutnya sambil sesekali melihat layar ponsel, memeriksa waktu.
Tak lama kemudian, sosok Vanya muncul dari kejauhan. Dengan dress kasual warna krem dan sepatu kets putih, ia berjalan cepat menuju Dipta sambil tersenyum lebar. Rambutnya yang tergerai membuatnya tampak sederhana, tapi bagi Dipta, ia tetap terlihat luar biasa.
“Maaf, aku telat,” kata Vanya sambil duduk di sebelah Dipta. “Macet tadi di jalan.”
“Nggak apa-apa,” jawab Dipta sambil tersenyum kecil. “Aku baru aja sampai kok.”
Vanya menyandarkan tubuhnya, menarik napas dalam-dalam. “Akhirnya bisa ketemu kamu juga. Minggu ini kayaknya sibuk banget ya. Belum lagi soal rapat sama kasus Aningtyas.”
Dipta mengangguk, tapi sebelum ia sempat merespons, suara yang sangat dikenal tiba-tiba memecah suasana.
“Dipta?”
Dipta langsung menoleh. Suara itu membawa memori lama yang ingin ia lupakan. Di hadapannya berdiri Prisilla, mantan pacarnya yang juga satu kampus dengannya. Prisilla mengenakan gaun panjang elegan dan heels tinggi, dengan rambutnya yang tergerai sempurna. Penampilannya mencolok, jauh berbeda dari Vanya yang terlihat sederhana namun manis.
“Prisilla…” suara Dipta terdengar datar, tanpa antusiasme.
Vanya, yang awalnya terkejut, langsung berdiri. Ia sudah mengenal Prisilla dari kampus, meski hubungan mereka tidak terlalu dekat. Prisilla adalah salah satu mahasiswi yang selalu menarik perhatian karena kecantikannya dan gaya hidupnya yang glamor.
“Prisilla?” Vanya menyapa lebih dulu dengan nada sopan, mencoba menjaga suasana tetap netral.
Prisilla tersenyum lebar, seperti biasa penuh percaya diri. “Hai, Vanya. Lama nggak ketemu, ya. Wah, aku nggak nyangka bisa lihat kalian di sini.”
Vanya tersenyum kecil. “Iya, lama banget nggak ketemu. Kamu ke sini sendirian?”
“Oh, nggak. Aku sama teman-teman, tapi mereka masih di kafe. Aku cuma jalan-jalan sebentar. Eh, aku lihat Dipta dari jauh, makanya aku mampir,” jawab Prisilla santai. Ia melirik Vanya lalu ke arah Dipta, matanya berbinar seolah ada sesuatu yang ingin ia ungkapkan.
“Kalian… jadi pacaran sekarang?” Prisilla akhirnya bertanya, nadanya dibuat santai, tapi Vanya bisa merasakan sesuatu di balik senyuman itu.
“Prisilla, kamu mau apa?” potong Dipta cepat, tidak ingin percakapan itu berlarut-larut.
Prisilla tertawa kecil. “Santai aja, Dip. Aku cuma nanya kok. Aku kan kenal kalian berdua, jadi wajar kalau aku senang kalian akhirnya bersama.”
Dipta hanya mengangguk, ekspresinya datar. Ia tahu Prisilla tidak pernah melakukan sesuatu tanpa maksud tertentu.
“By the way, Vanya, kamu cantik banget hari ini,” Prisilla melanjutkan, suaranya terdengar manis, tapi ada nada mengejek yang tersembunyi. “Aku inget banget kamu dulu nggak terlalu suka dandan.”
Vanya hanya tersenyum kecil. “Makasih, Prisilla.”
Prisilla melirik jam tangannya. “Oh, aku harus balik ke teman-teman. Senang ketemu kalian. Take your time ya.”
Setelah Prisilla pergi, suasana menjadi canggung. Dipta terlihat kesal, sementara Vanya mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.
“Kamu keliatan nggak suka banget sama dia, ya?” tanya Vanya akhirnya, mencoba memecah keheningan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Dipta
FanfictionBanyak orang yang berpikir Dipta itu diktaktor, menyebalkan, sok pintar, dan si paling bener aja. Padahal yang Dipta lakukan semuanya untuk Universitas tercintanya yaitu Universitas Sanggabuana. Dipta itu seenaknya, tapi apa yang dilakukan selalu be...
