Setelah bertemu Jendral tadi, dan memberikan semuanya Dipta mengajak Vanya untuk makan malam. Dipta mengajak Vanya ke apartemennya setelah mereka berkeliling di kampus. Ia ingin mengganti pakaian sebelum melanjutkan makan malam di mall, mall dan apartement Dipta lebih dekat daripada kontrakannya.
Akhirnya Dipta dan Vanya memiliki waktu untuk berkencan setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Banyak sekali masalah yang dihadapi oleh Dipta belakangan ini, sehingga lelaki itu tidak punya waktu untuk mengajak Vanya berkencan.
"Aku ganti baju dulu, Van. Tunggu sebentar ya," katanya sambil menatap Vanya.
Vanya mengangguk, melangkah masuk ke dalam apartemen. Ia memerhatikan sekeliling, menyadari betapa rapinya ruang yang biasanya ditempati oleh Dipta. "Kamu selalu rapi ya ternyata," ujarnya sambil duduk di sofa.
Dipta tersenyum, membuka lemari untuk memilih pakaian. "Itu adik aku sih yang rapihin."
Ia masuk ke kamar tidur untuk mengganti pakaian. Sedangkan Vanya ingin retouch make up. Tanpa Vanya tahu, saat keran airnya yang ia buka terlalu kencang, air langsung memercik ke seluruh tubuhnya, membuat baju yang dipakainya basah. Saat keluar dari kamar dengan baju basah itu, Dipta mencoba menahan rasa canggungnya.
Dipta yang melihat itu hanya bisa menahan tawa. "Gimana sih, kamu? Baru buka keran aja udah kebanjiran."
Dipta terkekeh sambil mengusap wajahnya yang sedikit basah. "Ya udah, sini aku keringin dulu bentar. Kamu nggak apa-apa, kan?"
Vanya hanya mengangguk, meski matanya sesekali mencuri pandang ke tubuh Dipta yang setengah basah karena membantunya menghentikan air. Lelaki itu mengusap puncak kepala Vanya sambil tersenyum.
Vanya tersentak. "Eh, kamu kena juga jadi basah kan!" katanya, menyadari bajunya ikut basah.
Tapi Dipta, dengan ekspresi nakal, cuma tertawa. "Gak apa-apa, sayang. Jadi, kamu yang harus ganti baju sekarang."
Dipta berusaha tetap tenang, meskipun tubuhnya mulai terasa hangat. Vanya yang hanya mengenakan pakaian tipis, dengan tubuhnya yang sedikit basah, semakin memancing perhatian Dipta. Ia mencoba untuk fokus, tapi tubuh Vanya yang terlihat lebih jelas membuatnya kesulitan menahan diri.
Vanya mengernyitkan dahi. "Kenapa sih kamu jadi diem gitu? Cepet lap badan kamu malah makin basah tuh."
Dipta, yang sekarang berada dalam jarak dekat dengan Vanya, merasa gelisah. "Aku... cuma nggak mau bikin kamu nggak nyaman," katanya pelan, matanya beralih ke arah lain, berusaha mengalihkan perhatian dari tubuh Vanya yang masih basah.
Dipta menatapnya dalam-dalam, tak bisa lagi menghindari perasaan yang mendalam. Tanpa kata-kata lagi, ia mendekatkan dirinya ke arah Vanya, deru nafas keduanya terasa satu sama lain. Dipta, memegang bahu Vanya dengan lembut, hanya dalam beberapa detik, bibir mereka bertemu dalam ciuman singkat.
"Maaf." Ucap Dipta, kemudian menjauhkan dirinya.. Ia menarik napas panjang, menyadari ada batasan yang perlu dihormati. Ia menarik tubuhnya sedikit mundur, berusaha menenangkan diri.
"Van, maaf akh kelewatan." katanya pelan, meskipun napasnya sedikit terengah.
Vanya yang masih syok, terdiam, lalu tersenyum getir. Ia mengatakan, "Gapapa, Dip, aku kaget aja."
Dipta menatap Vanya dengan mata yang penuh penyesalan, lalu menundukkan kepalanya. "Maaf, Vanya."
****
Dipta memarkir mobilnya di basement Vilani Mall, mall mewah yang hanya menjual barang-barang dari merek ternama. Vanya terdiam sejak mereka turun dari mobil, matanya menyapu setiap sudut tempat itu. Lantai marmernya yang mengilap, lampu-lampu kristal yang berkilauan, hingga toko-toko berlogo luxury brand yang berjajar rapi, membuat Vanya merasa sedikit gugup.
"Kamu sering ke sini, Dip?" tanya Vanya pelan, masih kagum dengan suasana mall tersebut.
Dipta mengangguk sambil memasukkan kunci mobilnya ke saku. "Kadang-kadang. Kalau lagi ada waktu aja. Tapi aku pengen kamu coba fine dining di sini. Restorannya salah satu favoritku."
"Fine dining?" Vanya menoleh dengan alis terangkat. "Dip, kayaknya aku nggak cocok deh buat tempat kayak gini."
Vanya tentu saja merasa minder, ia tahu jika fine dining adalah makan malam mewah yang tentu saja membuatnya merasa tidak nyaman karena tidak pernah melakukan hal inj sebelumnya.
Dipta menatapnya sambil tersenyum. "Kamu cocok kok, Van. Jangan mikirin itu. Aku cuma pengen ngajak kamu makan enak, nggak lebih."
Vanya hanya mengangguk meski masih merasa canggung. Mereka kemudian memasuki salah satu restoran fine dining dengan interior elegan yang dipenuhi lilin dan bunga mawar putih di tiap meja. Dipta memesan meja untuk dua orang yang berada di dekat jendela besar, memberikan mereka pemandangan kota dari ketinggian.
"Van, kamu mau pesan apa?" tanya Dipta sambil menyerahkan buku menu.
Vanya membuka menu itu perlahan, namun matanya membelalak melihat daftar harga yang tertera. "Ini beneran harganya? Kayak harga sewa kosan dua bulan, Dip." Ceplos Vanya.
Dipta tertawa kecil. "Nggak usah dipikirin harganya. Pilih aja yang kamu suka."
Vanya menghela napas sambil memesan menu paling sederhana yang bisa ia temukan, sementara Dipta memesan hidangan steak premium. Saat makanan datang, Vanya hanya memakan dengan hati-hati, merasa seperti orang asing di dunia yang terlalu mewah ini.
Setelah selesai makan, Dipta menggandeng Vanya menuju butik-butik di sekitar mall. Ia berhenti di depan sebuah toko sepatu berkelas dan menarik tangan Vanya masuk.
"Dip, buat apa ke sini?" Vanya bertanya dengan nada sedikit panik.
"Aku pengen beliin kamu sesuatu deh buat hadih kencan pertama kita."
"No, nggak perlu," balas Vanya cepat.
Namun Dipta sudah memilihkan beberapa pasang sepatu untuknya. Vanya akhirnya mencoba salah satu sepatu, tapi ia terus merasa tidak nyaman.
"Dip, aku nggak butuh ini semua. Serius. Aku seneng kamu ngajak aku jalan, tapi aku nggak suka kalau kamu terlalu berlebihan kayak gini," kata Vanya sambil menatapnya dengan serius.
Dipta berhenti sejenak, memerhatikan wajah Vanya. "Aku cuma pengen kamu tau aku sayang sama kamu, Van. Apa itu salah?"
Vanya menggeleng. "Nggak salah, tapi aku pengen hubungan kita biasa aja, kayak pasangan normal lainnya. Aku nggak pengen merasa terlalu jauh dari kamu karena hal-hal kayak gini."
Dipta terdiam, kemudian tersenyum tipis. "Oke, aku ngerti. Kalau itu bikin kamu nyaman, aku bakal lebih santai."
Mereka akhirnya meninggalkan toko tanpa membeli apa-apa. Dipta mengajak Vanya ke rooftop Vilani Mall, di mana mereka duduk di bangku taman kecil sambil menikmati pemandangan kota yang berkelap-kelip.
"Dip," panggil Vanya pelan.
"Hm?"
"Aku juga mau hubungan kita dirahasiakan dulu," kata Vanya dengan ragu.
Dipta mengernyit. "Kenapa harus dirahasiakan?"
"Aku cuma nggak pengen orang-orang ikut campur urusan kita. Lagian aku masih banyak tugas di kampus. Aku nggak mau fokusku keganggu."
Dipta mengangguk pelan. "Oke, aku ngerti. Kalau itu bikin kamu lebih nyaman, kita jalan pelan-pelan aja."
Vanya tersenyum lega. Ia menggenggam tangan Dipta sebentar, merasa bersyukur karena lelaki itu selalu mengerti dirinya. Meskipun malam itu terasa seperti perjalanan ke dunia lain, Vanya tahu bahwa hubungan mereka akan jauh lebih bermakna jika dijalani dengan sederhana.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Dipta
Fiksi PenggemarBanyak orang yang berpikir Dipta itu diktaktor, menyebalkan, sok pintar, dan si paling bener aja. Padahal yang Dipta lakukan semuanya untuk Universitas tercintanya yaitu Universitas Sanggabuana. Dipta itu seenaknya, tapi apa yang dilakukan selalu be...
